
"Sayang, ruangan mu luas sekali!" Jova mengedarkan pandangannya, menyapu ruangan CEO yang di tempati Alexander.
"Tidak juga," jawabnya, "lebih luas ruangan Presdir" ucap Alexander sambil memainkan rambut Jova yang tergerai.
"Oh ya?" pekik Jova, "kalau kau tau ruang CEO yang ku tempati, pasti kau akan bilang ruang kerja apa toilet!" ucap Jova menyebikkan bibirnya.
Alexander tersenyum melihat tingkah Jova yang menurutnya selalu menggemaskan. Alexander tidak sanggup untuk tidak menggigit bibir manis itu.
"Kalau ruangan mu saja semewah ini, apalagi ruangan Presdir" Jova masih terlihat mengagumi ruangan CEO yang luas dan terlihat sangat mewah itu.
"Memang sudah seharusnya bukan, ruangan petinggi perusahaan itu jauh lebih bagus dari ruangan lainnya?" memegang dagu Jova untuk menghadapnya.
"Iya juga sih!"
"Bagaimana ujian mu?" Alexander mengalihkan pembicaraan.
"Hah!" pekik Jova, "jangan tanya tentang ujian ku. Kamu kan mantan Dosen ku, jelas kamu tau seperti apa otak ku!" ucap Jova mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha!" Alexander semakin gemas dengan Jova.
"Jangan ketawa!" menyenggol dada Alexander. Lalu menatap mata Alexander yang mulai fokus melihat bibirnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Alexander dan Jova bermain - main dengan bibir mereka. Berciuman seolah cara terbaik untuk menyampaikan rasa cinta yang tumbuh di antara keduanya.
Beberapa kali mereka merubah posisi kepala mereka, Jova melingkarkan lengan kanannya di leher Alexander, tangan kirinya berada di bawah telinga kanan Alexander.
Tangan kiri Alexander mendekap erat pinggang Jova. Tangan kanannya menyelinap ke dalam baju Jova. Mengusap lembut perut rata Jova dan memijatnya pelan. Lalu naik menyentuh dada Jova yang tertutup rapat oleh br*, merem*snya beberapa kali. Jova mengeratkan lengan dan tangannya yang melingkar di leher Alexander, dan menutup matanya rapat.
Setelah itu Alexander kembali menurunkan tangannya meraba perut Jova yang rata. Sebelum akhirnya melepas ciuman mereka dengan lembut. Keduanya membuka mata mereka perlahan, dan saling menatap mata lawannya. Alexander membelai pipi dan rambut Jova.
"Kamu mau makan siang dimana, Sayang?" tanya Alexander.
"Terserah kamu"
"Makan sekarang atau nanti?"
"Ini kan belum jam mu istirahat?"
"Aku kan Boss!"
"Oh iya!" Jova tersenyum sambil menikmati wajah tampan Alexander.
Jova menatap wajah Alexander dengan senyum yang mengembang, seolah masih tidak percaya kalau dia memiliki seorang kekasih setampan dan sekaya Alexander. Apalagi Alexander selalu memanjakannya, membuatnya semakin jatuh cinta dengan cinta pertamanya itu.
"Ayo turun!"
"Iya"
Jova turun dari pangkuan Alexander, mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari ruangan CEO.
Lisa dan Security yang khusus berjaga di lantai 30 tersenyum menunduk hormat dan melihat Jova dengan seksama, untuk menghafal wajahnya. Jova membalas senyum ramah pada mereka berdua. Alexander meletakkan telapak tangannya untuk membuka lift.
"Sayang, nanti kau harus ikut Rakha untuk deteksi sidik jari mu!" ucap Alexander setelah mereka masuk lift.
"Kenapa?"
"Supaya kamu bisa menggunakan lift ini, dan bisa masuk ke semua akses manapun yang membutuhkan sidik jari!"
"Tapi aku bukan petinggi di sini?"
__ADS_1
"Tapi kamu kan calon istri CEO di sini" jawab Alexander, "jadi kau bebas keluar masuk perusahaan ini!"
"Oh!"
"Lain kali, kalau kamu mau menemui ku tidak perlu ijin pada receptionist atau pun security. Langsung naik saja menggunakan lift ini!"
"Ok, Sayang!"
Lift terbuka di lantai dasar gedung 30 lantai itu. Jova melihat Rakha yang sedang membagikan amplop putih pada tiga orang di depan pintu lobby. Tak kalah dengan karyawan - karyawan di lobby yang seketika melihat ke arah Alexander yang menggandeng tangan seorang gadis, yang di yakini mereka sebagai kekasih Tuannya yang berinisial J itu.
"Apa yang dilakukan Rakha, Sayang?" tanya Jova pada Alexander.
Alexander hanya mengangkat kedua pundaknya, sambil terus berjalan. Jova sedikit risih begitu menyadari orang - orang di sekitar banyak yang melihat ke arahnya.
Alexander dan Jova keluar dari pintu lobby, di sambut oleh Rakha dan yang lainnya dengan senyum menunduk. Alexander tidak peduli, berbeda dengan Jova. Jova tersenyum ramah melihat mereka, dan matanya fokus melihat amplop yang di pegang dua receptionist dan security.
"Sepertinya itu Nona yang berinisial J" gumam seseorang di dalam lobby setelah Alexander dan Jova keluar dari lobby.
"Tentu saja! tidak mungkin Tuan menggandeng tangan orang sembarangan!"
"Iya! kau harus ingat wajahnya, biar kita tidak kena SP seperti mereka bertiga!"
"Iya!"
"Ngomong - ngomong cantik juga Nona J itu?"
"Iya! cocok sama Tuan. Daripada si Carissa!"
"Setuju!"
Alexander membuka pintu mobil untuk Jova. Jova masuk dengan senyum mengembang. Alexander memutari mobil ke pintu kemudi yang sudah di bukakan oleh security lainnya. Alexander mengemudikan mobilnya meninggalkan gedung megah nya.
"Belanja apa?" Jova menoleh Alexander di sampingnya.
"Membeli seserahan untuk acara pertunangan kita sabtu besok!"
"Emm boleh!" jawab Jova yang antusias.
Alexander memarkirkan mobilnya di parkiran VIP. Alexander turun dan membukakan pintu untuk Jova. Mereka berjalan beriringan memasuki mall. Security yang berjaga di pintu masuk mall menunduk. Karena sudah menghafal wajah Alexander, salah satu pemilik saham terbesar di mall itu.
Alexander menggandeng tangan Jova menuju salah satu restoran di sana. Jika dulu orang - orang di sekitar yang melihat Alexander karena ketampanannya, kini orang - orang melihatnya sebagai pewaris Group G. Dan melihat gadis yang di gandeng nya, mereka yakin itulah gadis berinisial J yang menjadi inspirasi Jeyskin natural.
Mereka masuk ke restoran, dan duduk di kursi VIP yang tertutup kaca buram. Karena Alexander merasa risih jadi pusat perhatian. Di belakangnya seorang waiters membawa buku menu.
"Selamat siang, Tuan Alexander" sapa waiters yang tidak di jawab oleh Alexander, "ini menu restoran kami hari ini" menyerahkan buku menunya.
Ini toh gadis yang berinisial J, beruntung sekali dia! batin Waiters.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Jova.
"Samakan saja denganmu, Sayang!" Alexander hanya fokus melihat Jova di sampingnya.
"Ok!" Jova memilih - milih menu yang dia inginkan.
Terlihat sangat dingin, tapi ternyata beliau orang yang romantis jika bersama pasangannya, batin Waiters.
"Ini aja mbk 2 porsi," menunjuk satu gambar menu makanan, "minumnya jus alpukat 2!" ucap Jova pada Waiters.
"Siap, Nona" jawab Waiters, membawa kembali buku menunya.
__ADS_1
"Tumben kamu nggak pesan banyak makanan!"
"Aku mulai takut gendut!"
"Sejak kapan kamu takut gendut?"
"Sejak hari ini!" ucapnya, "aku takut baju ku tidak muat saat acara pertunangan kita nanti!"
"Hahaha, setau ku dari dulu makan mu banyak dan badan mu tetap seperti ini!" ucap Alexander mengangkat tangan kanan Jova.
"Hehe, iya sih!"
40 menit waktu yang mereka habiskan di resto itu. Setelahnya mereka langsung belanja untuk seserahan.
Setelah membayar, Jova ingin mengambil barang belanjaannya. Tapi lagi - lagi kalah cepat dengan dua orang berpakaian hitam
"Sayang, mereka munculnya dari mana sih? kenapa selalu tiba - tiba muncul!"
"Aku kan sudah bilang, mereka turun dari langit!"
"Memangnya mereka Malaikat?"
"Hehe! sudahlah ayo! aku tidak mau tanganmu capek membawa belanjaan!"
Mereka keluar masuk toko barang branded. Dan tak sedikitpun luput dari pandangan orang di sekitar.
2,5 jam berlalu, barulah mereka menyelesaikan belanjaan mereka. Mereka berjalan ke luar mall di ikuti dua pengawal tadi.
"Antar semua itu ke pihak EO, suruh kemas secantik mungkin!" ucap Alexander pada dua pengawalnya.
"Baik, Tuan Muda" ucap mereka kompak.
Alexander melajukan mobilnya untuk kembali ke kantornya.
"Kamu pulang atau tunggu aku menyelesaikan pekerjaan ku lalu aku antar pulang?"
"Aku nunggu kamu saja! aku ingin mengobrak - abrik ruang kerja mu!" ucap Jova antusias.
"Ok" jawab Alexander tersenyum lucu melihat tingkah Jova.
Maaf ya reader, Author ingin curhat nih!
Kadang kayak agak males mau up. Pas lihat episode sebelumnya like nya dikit komentarnya juga dikit. Mengingat ngetik lebih dari 1000 kata itu butuh waktu lama, belum lagi mikirin idenya. Tapi Author kasian sama yang setia menunggu kelanjutan ceritanya, hehe.
Jadi, jangan lupa ya tinggalkan Like dan komentar juga Dukungan dalam bentuk lainnya.
Semangat Author bener - bener berasal dari dukungan para reader.
Terima kasih yang sudah memberi dukungan dan setia membaca novel ini.
__ADS_1
Salam Lovallena.