
"Sayang? barusan Indira bilang padaku" ucap Jova yang masih duduk di pangkuan Alexander.
"Apa?"
"Dia bilang, mulai sabtu nanti, dia akan tinggal di apartemen Rakha selama satu bulan"
"Kenapa?" tanya Alex.
"Indira ingin mencoba usaha terakhir. Jika dalam satu bulan tinggal bersama, Rakha belum juga jatuh cinta pada Indira, Indira akan menyerah dan tidak akan lagi mengejar si Playboy Rakha Leonard itu"
"Oh ya?" Alex mengerutkan keningnya.
"Iya!" jawab Jova.
"Biarlah, mungkin dengan begitu usaha Indira berhasil"
"Iya, tapi ..." Jova ragu melanjutkan obrolannya.
"Tapi apa?" Alex membelai wajah Jova.
"Kalian kan bersahabat sejak kecil bahkan tinggal bersama. Apa menurutmu Rakha akan mengambil kesempatan"
"Maksudnya?" Alexander mengerutkan keningnya.
"Hemm.. begini," Jova menarik nafas, "maksud ku semua orang kan tau kalau seorang Rakha Leonard adalah Playboy, yang suka gonta - ganti pacar. Apa dia akan mempermainkan Indira. Misalnya akan menyentuh Indira untuk memuaskan rasa laparnya?" tanya Jova ragu, "Bagaimanapun dia kan laki - laki normal. Aku takut kalau Indira hanya akan di jadikan mainannya selama satu bulan."
Alexander tergelak dengan cerita Jova.
"Sayang, kau harus ingat, Rakha Leonard bukan Devander!" ucap Alexander. "Rakha memang suka gonta ganti pacar, tapi dia tidak pernah lupa untuk menghargai mahkota berharga milik perempuan. Rakha masih punya hati."
"Oh! baguslah" Jova mengangguk, "kalau Devan? apa dia segila itu dengan hobinya!"
"Iya!" jawab Alex, "aku juga tidak tau kenapa Devander bisa segila itu dengan kebebasan yang dia miliki. Saat kamu bilang menantang Devander untuk segera menikah, aku sangat setuju. Karena sampai detik ini, aku tak pernah sekalipun melihatnya ada respect yang baik pada perempuan. Semua perempuan yang dekat dengannya hanya di tatap dari segi nafsunya saja"
"Kasian sekali mereka!"
"Siapa?"
"Wanita yang hanya di jadikan pemuas Devan"
"Devander sangat loyal, sehingga semua gadis mata duitan akan datang tanpa di minta. Ditambah Devander juga tampan dan berkarisma. Banyak juga wanita penggila **** bebas yang datang untuk sekedar bermain dengannya tanpa meminta imbalan apapun!"
"Oh ya!" Jova menatap Alex tak percaya, "dia benar - benar tidak waras!"
"Haha," Alex tergelak, "sebenarnya aku dan Mama menunggu Devander jatuh cinta!"
"Kira - kira seperti apa gadis yang bisa membuat seorang Devander Gibran jatuh cinta?"
"Itulah yang membuat Mama penasaran"
"Untung aku tidak bertemu dengannya lebih dulu!" ucap Jova.
"Kalau kau bertemu dengannya terlebih dulu, aku akan melakukan segala cara untuk merebut mu!"
"Hihi!" Jova meringis menatap wajah tampan Alexander.
Tak butuh berpikir panjang, Jova meraih bibir Alex dengan bibirnya. Memulai ciuman yang hangat, Alex dengan senang hati membalas ciuman Jova. Mereka saling memejamkan matanya, sesekali merubah posisi kepalanya.
Tangan Alexander menyusup ke dress yang dipakai Jova. Mulai meraba dari paha, hingga memijat pelan perut rata Jova dan semakin naik meraih benda kenyal yang masih tertutup rapat oleh br*. Tangan kirinya menurunkan resleting dress Jova dengan pelan.
__ADS_1
Jova melepas ciumannya, berdiri untuk melepas dress dan menjatuhkannya di lantai. Kemudian duduk kembali di pangkuan Alex dengan menghadapkan dirinya sepenuhnya pada Alex. Menarik ke atas kaos putih Alex hingga terlepas dan melemparnya ke sembarang arah.
Jova kembali meraih bibir Alexander dan melingkarkan tangannya di leher Alex. Alex mendekap erat tubuh Jova, dan mulai melepas pengait br* Jova. Dan bermain - main dengan benda kenyal kesukaannya. Dengan senang hati Jova melepas br* yang masih menggantung di lengannya.
Setelah cukup lama, mereka melepas ciuman mereka, untuk mengambil nafas lagi. Alexander menatap lapar pada benda kenyal di kedua tangannya, dan Jova tau itu. Jova menerbitkan senyum manisnya.
Dan percintaan halal itu mereka mainkan di sofa dengan beberapa kali mengubah gaya. Hingga keduanya merasa kelelahan dan melepas kenikmatan itu bersamaan.
Alexander mengakhiri percintaan itu dengan mengecup seluruh tubuh Jova dari kepala hingga betis Jova. Sebagai penghargaan dan ucapan terima kasihnya.
Alexander mengangkat tubuh Jova ke dalam kamar mandi, dan mengguyur tubuh mereka di bawah guyuran shower. Setelah ritual mandi mereka membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Good night!" ucap Alex mengecup kening Jova.
"Night too" mencium pipi Alex singkat.
Mereka tidur dengan berpelukan, meraih mimpi indah di tengah gelapnya malam.
# # # # # #
Menjelang pagi, Jova menggeliat di pelukan Alexander yang masih menutup mata. Jova membuka matanya pelan, Jova tersenyum menatap wajah tampan Alexander di pagi hari.
"It's like a dream," gumam Jova pelan dengan menerbitkan senyum kecil, "I can see your pillow's face every morning!" lanjutnya meraba setiap inchi wajah Alexander.
"Kau suka?" ucap Alex tiba - tiba. Jova reflek mengangkat tangannya karena kaget.
"Sayang! mengagetkan aku saja, sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak tanganmu menyentuh wajahku!"
"Oh ya?"
"Hemm"
"Kenapa sekarang?"
"Ayolah, Sayang! untuk menyambut matahari pagi"
"Hemm, baiklah. Ayo mandi dulu"
"Tidak usah mandi kelamaan!" Jova bangkit dari tempat tidur. "Ayolah, Sayang!" menarik tangan Alex yang tak kunjung bangkit dari tempat tidur.
"Kiss!" ucap Alex sambil menutup matanya.
"Hemm" Jova mengerucutkan bibirnya, tapi selanjutnya mencium setiap inchi dari wajah Alexander. Membuat Alex tersenyum puas.
"Ayo!" ucap Jova menahan kesal.
"Hemm, iya" Alex bangkit dari ranjangnya.
Jova mencuci muka sebentar lalu menyisir rambutnya dan mengikatnya rapi. Alexander mencuci muka nya dan ikut menyisir rambutnya.
Jova menggandeng erat tangan Alexander, keluar dari kamarnya, menuruni tangga. Jova melirik meja ruang tengah yang terdapat beberapa buah segar. Jova langsung mengambilnya dan membawanya keluar.
Jova dan Alexander mengobrol dan bersantai di tepi pantai. Menikmati udara segar di pagi hari.
"Kamu ingin mengunjungi suatu tempat disini?" tanya Alex.
__ADS_1
"Aku ingin menyelam! boleh?"
"Why not!" jawab Alex sambil menggigit buah apel di tangannya.
# # # # # #
Rakha yang semalam memilih tidur di kamar hotel Devan bangun dari tidur nyenyak nya. Devan masih tertidur pulas. Rakha langsung masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah air shower.
Setelah selesai mandi, Rakha keluar dari kamar mandi, Devan sudah duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
"Kau jadi kembali London hari ini?"
"Iyalah!"
"Tch! kau tidak ingin membantuku menyelesaikan pekerjaan di sini?"
"Kau pikir aku di London pengangguran!" jawab Devan cuek.
Rakha tergelak, karena dia sadar FG corp yang di pegang Devan di London lebih besar dari Group G.
"Ya sudahlah! aku harus segera berangkat ke perusahaan"
"Hemm" jawab Devan cuek yang masih fokus pada ponselnya.
Rakha keluar dari kamar Devan, bersamaan dengan pintu kamar hotel Fellicya yang terbuka. Seketika Rakha menjadi kikuk.
"Kak Rakha mau pulang?" sapa Fellicya.
"Iya" jawab Rakha menutupi kegugupannya. "Kamu juga balik ke Singapura hari ini?"
"Iya, Kak" jawab Fellicya dengan senyum manisnya.
"Hemm.. kalau begitu aku pergi dulu" Rakha menunjuk lift.
"Iya, bye Kak!" ucap Fellicya melambaikan tangannya.
"Bye!" ucap Rakha mengangguk pelan
Rakha menarik nafas dan membuangnya kasar sambil berjalan menuju lift. Fellicya menatap punggung Rakha yang semakin menjauh dengan senyum samar nya. Lalu kembali pada tujuannya keluar kamar yakni ke kamar Devan.
"Kak Devander!" panggil Fellicya yang masuk ke kamar Devan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dear Reader,
Jangan lupa tinggalkan Like nya ya. Dukungan dalam bentuk apapun sangat membantu Author untuk tetap semangat mengetik. Walau hasilnya benar - benar tidak sepadan, hehe.
Terima kasih untuk semua teman - teman yang tetap semangat membaca sampai episode 104 ini.
Salam Lovallena.
__ADS_1