
"Maaf maaf!" Jova tersenyum simpul.
"Kenapa kau malah senyum - senyum?"
"Tidak, tuan!"
Alex kembali mengerenyitkan dahinya. "Kau bisa masak tidak?"
"Sedikit"
"Buatkan aku makan malam!" ucap Alex lalu pergi meninggalkan Jova.
"Masak? masak apa? aku kan tidak hobi memasak," gumam Jova pelan.
Jova keluar dari kamar, berjalan ke arah dapur. Membuka lemari es, tapi tidak menemukan bahan masakan sama sekali.
"Ini suruh masak air es apa!" gumam Jova. "Lemari es isinya cuma air es doang, suruh masak makan malam. Sepertinya selain batu, dia juga pantas di sebut gila."
Jova menutup lemari es dengan keras, lalu berjalan ke ruang tengah menghampiri Alex.
"Tuan?" Jova berdiri menyandarkan pinggangnya di belakang sofa tempat Alex duduk.
Alex mendongak ke atas melihat Jova tanpa menjawab.
"Tidak ada yang bisa di masak. Di lemari es hanya ada air es. Masak iya masak air es!" ucap Jova menyebikkan bibirnya.
"Lalu?"
Kok lalu sih? belanja dong, ganteng - ganteng dodol juga nih! batin Jova.
"Ya harus belanja lah, tuan?"
"Ayo!" Alex berdiri, masuk ke ruang kerjanya yang berada di lantai bawah. Mengambil kunci dan dompet.
Jova bingung dengan ucapan 'ayo' yang di maksud Alex. Dia hanya melihat gerak gerik Alex.
Apa mungkin dia mau mengajak aku belanja sayur. Mana ada batu belanja, batin Jova.
"Ayo! cepat!" ucap Alex tegas saat melihat Jova diam saja saat dia sudah sampai di ruang tamu.
Jova reflek berjalan mengikuti Alex. Dia berjalan di belakang Alex, menuju lift. Alex menekan tombol lift. Mereka masuk ke dalam lift, Jova berdiri di belakang Alex.
Setelah lift sampai di lobby, mereka keluar bersama menuju parkiran. Jova berjalan sedikit di belakang Alex. Mereka memasuki mobil bersama. Alex melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan.
Sebelum turun dia mengambil masker di laci mobil, lalu memakainya.
"Kenapa tuan pakai masker?"
"Jangan banyak tanya!, perutku lapar. Kau mau aku mati kelaparan disini?"
Mereka turun dari mobil. Masuk ke pusat perbelanjaan. Alex mengambil troli dan mendorongnya.
__ADS_1
Kenyataan apa lagi ini? batu mendorong troli?, batin Jova mendelik tak percaya.
"Cepat! apa yang kau butuhkan!"
"Baik tuan!" Jova bergegas berjalan menghampiri tempat sayuran. Alex mengikuti Jova di belakang.
Orang - orang di sekitar mencuri - curi pandang pada mereka. Laki - laki yang tinggi dan rupawan mendorong troli di belakang seorang gadis yang cantik. Tentu saja banyak orang yang mengalihkan pandangan mereka.
Sungguh Jova belanja tanpa konsentrasi. Dia hanya mengambil - mengambil dan mengambil, tanpa tau akan masak apa. Otaknya di alihkan oleh seorang dosen batu yang sekarang mendorong troli di belakangnya.
Kenapa otak ku tidak berfungsi sama sekali seperti ini sih, batin Jova.
Dia memasukkan hampir semua bahan masakan juga beberapa buah yang dilihat olehnya. Mengambil menaruh, mengambil menaruh begitu seterusnya. Sampai troli yang di dorong Alex menggunung, tapi dia sama sekali tidak menyadari.
"Kenapa tidak sekalian kau kantongi saja swalayan ini?"
"Hah?" pekik Jova menoleh pada Alex.
"Apa kau tidak lihat troli ini?" Alex menunjuk troli menggunakan dagunya.
"Haaaaa!" Jova kaget bukan kepalang.
"Memangnya kau mau masak untuk orang satu gedung hah?"
Jova meringis kaku. Dia tidak tau harus bicara apa. Bahkan setelah melihat isi troli dia makin pusing. Karena yang dia masukkan justru bahan yang dia tidak tau cara memanfaatkan bahan masakan itu.
Dia mengembalikan beberapa bahan masakan yang benar - benar dia tidak tau cara memasaknya. Karena dia tidak terlalu pandai dalam dunia dapur.
"Kau yakin ini cukup?"
"Iya tuuaaannn!" ucap Jova panjang.
Meskipun masih banyak bahan yang aku tidak tau untuk di olah menjadi apa. Tapi aku malu kalau harus mengembalikan semua, batin Jova.
Mereka berjalan ke arah kasir.
"Kau saja yang antri!" Alex memberikan kartu ATM pada Jova. Lalu menunggu Jova di kursi tunggu.
Busett, banyak sekali yang aku ambil, batin Jova saat meletakkan barang belanjaan di meja kasir.
"Mbak ini nggak jadi, ini nggak jadi, ini juga, ini juga ... " dan masih banyak lagi.
Kasir swalayan menatap Jova dan barang yang di ambil Jova secara bergantian. Kasir itu menganga tak percaya. Heran dan jengkel itulah yang di rasakan sang kasir. Tapi apalah daya, dia hanya mampu melihat tanpa berani protes.
"Hehe, maaf ya mbk?" ucap Jova meringis dengan tidak tahu malunya.
Dari pada nanti aku di suruh memasak menggunakan bahan yang aku tidak tau cara mengolahnya dan membuatku terlihat bodoh di depannya. Lebih baik malu disini. ucap Jova dalam hati.
Setelah melakukan pembayaran, dia berjalan ke arah Alex dengan membawa 1 kantong besar dan 1 kantong kecil. Alex melihat Jova dan kantong yang di bawa Jova. Dia merasa ada yang aneh kenapa kantongnya tak sebanyak yang dia bayangkan tadi. Tapi dia tidak bertanya.
"Ini kartu anda, tuan," Jova mengembalikan kartu ATM Alex.
__ADS_1
"Kau bawa saja selama satu minggu," ucap Alex sambil mengambil kantong besar yang di bawa Jova.
Ternyata dia perhatian juga. Tuhan, kirimkan satu laki - laki seperti dia untuk ku dong. Mendapatkannya sepertinya sulit, batin Jova menatap punggung Alex yang berjalan di depannya.
Mereka sudah sampai di mobil. Semua belanjaan di letakkan di bangku belakang. Alex masuk ke kursi kemudi dan Jova sudah duduk di sampingnya.
Alex melajukan mobilnya melewati waktu yang sudah menunjukkan jam 7 malam.
"Tuan mau di masakin apa?" tanya Jova memecah keheningan.
"Terserah kau saja!"
"Kalau saya masak katak rebus, tuan mau memakannya?" tanya Jova tersenyum jahil.
Alex melirik Jova di sampingnya lalu kembali fokus ke jalan di depannya.
"Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Alex dingin.
Jova mendelik mendengar ucapan Alex.
"Dasar manusia batu!" gumam Jova pelan menampar jendela di sampingnya dengan pandangan matanya. Tentu saja masih terdengar Alex.
"Kau akan mendapatkan hukuman karena mengatai ku manusia batu!" ucap Alex pelan tapi penuh penekanan.
Kok dia bisa dengar sih? batin Jova menatap Alex.
Mereka kini sudah sampai di apartemen. Alex membawa kantong besar dan Jova membawa kantong kecil.
"Cepat masak untuk makan malam!" ucap Alex pada Jova setelah meletakkan kantong di atas meja dapur.
"Siap, tuan!"
Alex tidak pergi dia duduk di kursi meja makan yang ada di dapur. Dia menatap Jova yang berkutat dengan bahan masakan.
Dia tidak bicara apapun. Satu tangannya di meja, sesekali mengetuk meja makan. Matanya fokus menatap Jova yang wira wiri. Lama - lama Jova sadar kalau dia di perhatikan.
"Apa tuan tidak nonton upin & ipin?, sepertinya jam tayang upin & ipin belum berakhir," ucap Jova menahan tawanya.
"Apa maksudmu?" ucap Alex dingin.
"Bukankah tuan suka nonton upin & ipin inilah dia, kembar seiras itu biasa!" Jova menirukan lagu upin & ipin.
"Apa kau sudah bosan hidup?" ucap Alex.
"Saya masih ingin hidup tuan. Tapi hidup itu garing kalau tidak ada tawa tuan. Jadi tertawa lah kalau memang ada yang pantas untuk di tertawakan. Hahahaa!" Jova melepas tawa yang dari tadi dia tahan.
"Bagaimana bisa orang segarang anda tontonan nya upin & ipin!" Jova cekikikan sambil memasak.
Alex melihat pundak Jova yang bergerak naik turun karena cekikikan. Dia berjalan ke arah Jova yang yang menghadap kompor. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang Jova, lalu perlahan merangkul pinggang Jova dari belakang. Jova diam seketika. Jantungnya berdetak lebih cepat dari normalnya.
Alex sedikit membungkuk, lalu menempelkan hidungnya di telinga Jova. Menghembuskan nafas hangatnya di leher Jovanka. Jovanka merinding merasakan nafas hangat Alex yang menyebar cepat ke sekujur tubuhnya. Dia bahkan tidak sanggup untuk sedikit saja bergerak.
__ADS_1