
Jovanka keluar lobby berjalan menuju area parkir. Alex pun berjalan di belakang Jova sampai di parkiran. Mereka masuk ke dalam mobil masing - masing. Dan mengemudikan mobil masing - masing keluar parkiran, mobil Alex berada di depan mobil Jova.
"Lah, itu kan mobil pak Alex!" gumam Jova pelan. "Baguslah, brarti aku tidak terlambat," Jova tersenyum girang.
Dia mengikuti mobil Alex sampai beberapa meter. Alex sadar Jova mengikutinya, dia tersenyum licik. Alex mengikuti pergerakan Jova melalui spion mobil.
Dia menginjak gas dalam - dalam, Jova pun ikut menginjak gas. Alex menurunkan tekanan gas, Jova pun melakukan hal yang sama. Akhirnya Alex menginjak gas lalu rem, gas rem, gas rem, gas rem. Seperti itu sampai beberapa kali. Dan Jova reflek melakukan hal yang sama.
"Hemmm," Alex tersenyum licik. "Kau mencoba bermain dengan ku rupanya." Alex masih mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dan senyum liciknya tak kunjung menghilang dari bibirnya.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan? apa dia tau aku mengikutinya?" gumam Jova di dalam mobilnya.
Alex sengaja memilih jalan yang tidak biasa dia lewati. Dia masuk ke jalan yang lebih sepi.
"Kenapa dia lewat sini?" gumam Jova. Tapi Jova tetap mengikuti Alex.
Ciiitt...
Bruugg...
"Aaahh! dia pasti mengerjai ku," gumam Jova meringis.
Mobil Jova menabrak mobil Alex. Sesaat kemudian Alex turun dari mobilnya. Dia menggunakan kaca mata hitam, berjalan ke arah mobil Jova di belakangnya.
"Oh my ... dia tampan sekali!" gumam Jova menganga mengikuti pergerakan Alex.
Tok tok tok
Jova tidak sadar pintu mobilnya di ketuk. Dia masih terpana menatap dosen tampan itu.
Tok tok tok
"Eh eh, aku selalu jadi bodoh kalau melihat dia seperti ini," gumam Jova pelan memukul keningnya pelan.
Jova menurunkan kaca mobil, dan memberikan senyum termanisnya pada sang dosen. Berharap sang dosen luluh dan tidak meminta ganti rugi. Karena dia tau mobil dosennya jauh lebih mahal dari mobilnya. Jelas butuh biaya lebih besar untuk memperbaiki mobil mewah.
"Turun!" perintah sang dosen dingin.
Yaa ampun, sepertinya akan panjang ceritanya, batin Jova.
Jova turun dari mobil dengan takut dan khawatir. Dia berdiri tepat di depan dosennya.
"Apa kau mengemudi sambil melamun?" tanya Alex.
"Ti.. tidak pak," ucap Jova tersenyum terpaksa.
"Kau lihat ini!" Alex menunjuk bagian depan mobil Jova yang menempel sempurna di bemper mobil belakang Alex.
"Emm, pak. Maafkan saya, saya tidak sengaja mencium bapak. Ehhh!" Jova menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Alex mengerenyitkan dahinya.
"Maksud saya, mobil saya tidak sengaja mencium mobil bapak. Ehh.. menabrak mobil bapak. Begitu! Dan ini terjadi karena bapak berhenti mendadak," ucap Jova tidak mau menerima begitu saja tuduhan Alex.
Kenapa bicara ku jadi ngelantur begini sih, sekarang apa yang di pikirkan dosen batu ini, batin Jova.
"Maksud mu sekarang mobil mu mencium pantat mobil ku?" tanya Alex mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Hah?" Jova bingung.
"Dari pada mobil mu yang mencium pantat mobilku, kenapa tidak kau saja yang mencium pantatku," ucap Alex dengan nada menggoda Jova.
"What?" pekik Jova. "Bapak sudah gila ya!"
"Kamu yang gila! Otak mu ini sudah terkontaminasi bakteri," Alex menunjuk kepala Jova.
Jova bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.
"Kenapa kau diam? Jaringan otak mu itu tidak sinkron. Perbaiki sana!" Alex kembali ke mobilnya meninggalkan Jova yang masih mematung.
Alex sudah membuka pintu mobil, tapi dia masih berdiri di samping mobilnya.
"Cepat sadarkan dirimu! kalau kau terlambat hukuman mu akan jadi 2 kali lipat dari waktu yang kau lewatkan!" ucap Alex sedikit berteriak.
"Hah?" Jova tersadar dari lamunannya.
Dia melihat mobil Alex sudah melaju cepat.
"Sial! dasar dosen simil!" Jova membuka pintu mobilnya dan melajukan mobilnya cepat. Dia tidak perduli mobil depannya lecet atau tidak.
# # # # # #
"Baik tuan muda, saya akan booking ruangan VIP di sana sekarang!" ucap Rakha menerima telpon dari bosnya.
" . . . . . . "
"Siap tuan muda. Tuan muda tidak perlu khawatir. Saya akan sampai di sana sebelum anda datang"
" . . . . . . "
# # # # # #
Alex keluar dari ruang dosennya. Dia berjalan cepat di koridor kampus bersiap masuk ke kelas semester 7
Jova melihat Alex menaiki tangga, dia dengan cepat berlari menuju tangga.
Secepat kilat dia melewati Alex yang masih berjalan di anak tangga paling atas.
"Pak Alex, saya tidak terlambat!" ucap Jova dengan senyum mengejek melihat Alex yang kini di belakangnya.
Alex hanya melihatnya tanpa ekspresi. Jova berlari menuju kelas dengan sisa nafasnya. Dia masuk ke kelas dan segera duduk di kursinya.
Sesaat kemudian Alex masuk ke kelas. Dan segera memberi materi kuliah.
"Kita kuis!" ucap Alex setelah memberi materi kuliah.
"What!" pekik Jova.
Alex sengaja memberi kuis dadakan. Karena dia sadar dari tadi Jova tidak fokus pada materi yang dia berikan. Jova hanya fokus menatap dirinya. Melihat reaksi yang di tunjukkan Jova, Alex menahan senyum jail nya.
Itu hukuman karena kau melewati ku dengan senyum mengejek mu itu!, batin Alex.
# # # # # #
__ADS_1
Jova berjalan menuju kantin kampus, saat jam kuliah sudah berakhir. Di tengah jalan, dia kaget ketika ada yang menarik tangannya secara paksa dan menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat.
"Heeyyy! apa kau gila menarik tangan orang sembarangan!" ucap Jova marah.
Namun dia segera menutup mulutnya menggunakan tangan satunya, begitu menyadari yang menarik tangannya adalah Alex.
Alex membawa Jova ke parkiran mobilnya. Dia memasukkan Jova ke kursi penumpang bagian depan. Lalu dia berputar ke kursi kemudi.
Dia menyalakan mobilnya. Melajukan mobilnya keluar gerbang kampus. Jova tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Di sisi lain dia senang, untuk pertama kalinya dia bisa menaiki mobil dosen tampan itu. Karena pasti banyak mahasiswi yang iri padanya. Sedikit senyum simpul keluar dari bibirnya.
Tapi seketika ekspresinya berubah saat melihat Alex yang tidak bicara sedikit pun sepanjang jalan.
"Pak Alex, bapak mau bawa saya kemana?" tanya Jova sedikit menutupi rasa takutnya.
Yaa ampun, julukan batu memang pantas untukmu! jangankan menjawab, melirik saja tidak! batin Jova melirik Alex.
Kenapa ya, melihat mu mengemudikan mobil begini ketampanan mu meningkat 100 persen, batin Jova sambil menyunggingkan senyum menatap Alex tanpa berkedip.
Tentu saja Alex tau kalau Jova menatapnya tanpa berkedip.
"Apa aku setampan itu sampai kau lupa berkedip?" ucap Alex tanpa melihat Jova. Dia masih fokus pada jalan di depannya.
Ucapan itu berhasil membuyarkan lamunan Jova. Jova segera menghilangkan senyum di bibirnya. Dia membuang pandangannya ke jendela di samping kirinya.
Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? aku jadi salah tingkah begini kan. Dia pasti berpikir aku menyukainya, batin Jova menggigit bibir bawahnya.
Suasana mobil kembali hening. Jova tidak berani lagi melirik Alex. Sampai mobil terparkir di sebuah restoran mewah.
"Turun!" ucap Alex.
Mereka turun bersama. Alex berjalan menuju pintu restauran. Jova mengikuti Alex di belakangnya. Alex masuk dan di sambut oleh karyawan restauran dan mengarahkan Alex dan Jova ke ruang VIP yang sudah di pesan sebelumnya.
Mereka berdua masuk ke ruang VIP yang hanya ada mereka berdua. Alex dan Jova duduk berhadapan. Tidak lama kemudian, waiters datang membawa makanan yang sudah di pesan suruhan Alex. Dan sebuah map di berikan waiters kepada Alex.
"Makanlah!"
"Kenapa makan disini pak?"
"Kenapa?"
"Apa ini tidak berlebihan!" sebenarnya dia bingung mau bilang apa.
"Cepat makan! atau aku akan menghukum mu!" ucap Alex dingin.
"Iya Iya, pak!" Jova memakan makanan yang ada di depannya dengan sangat lahap. Karena memang menu yang ada sangat menggiurkan menurutnya.
Alex melihat Jova yang makan dengan sangat lahap. Ada perasaan senang tersendiri dalam dirinya jika melihat Jova makan dengan lahap. Apalagi yang di makan adalah menu yang dia pilih.
Beberapa saat kemudian mereka selesai makan siang berdua. Jova menghabiskan lebih banyak menu yang tersedia. Itulah Jova yang apa adanya. Tidak perduli di sekitarnya melihatnya seperti apa.
"Saya sudah selesai pak!" ucap Jova tersenyum.
Alex menyodorkan berkas di atas meja. Jova membulatkan matanya membaca lembar pertama.
"Apa ini pak?" tanya Jova penasaran.
__ADS_1