
Sorotan kamera dan lampu mengarah ke arah pintu itu. Wajah misterius yang selama ini begitu di tunggu, muncul dengan jelas di layar LED yang bertebaran di gedung itu. Juga di tiga layar stasiun televisi.
Laki - laki yang diperkenalkan sebagai Alexander Gibran itu berjalan ke arah podium dengan gaya dingin nya. Dan raut wajah yang jauh lebih kaku dari biasanya.
Kilatan kamera yang sibuk mengambil foto sang pewaris Group G membuat ruangan senyap sejenak.
Jova menyipitkan matanya menatap Alexander Gibran dengan kilatan kebencian di matanya. Nafasnya memburu, jantung yang semula ingin meloncat kini menderu amarah di dalam hatinya.
Indira tak kalah shock dengan Jova, dia menganga tak percaya. Ternyata cinta pertama sahabatnya adalah orang yang selama ini dia benci. Indira mengusap pelan punggung Jova. Indira mengamati kedua wajah orang itu secara bergantian.
++++++++++++
Ayah Jova memegangi dadanya, bagaimanapun sehatnya beliau sekarang, tetap saja beliau mengidap penyakit jantung. Ibu Jova berusaha keras menjaga perasaan suaminya.
Mahasiswa di kampus Jova tak kalah shock dengan berita itu. Banyak komentar yang bermunculan.
"Beruntung sekali si Jova, jadi mahasiswi spesialnya pak Alex. Ternyata dia sang Putra Gibran," mereka yang tidak tau Jova membenci Putra Gibran.
"Wow, bisa - bisa Jova kena masalah. Carissa Birdella kan mengaku sebagai calon tunangan Putra Gibran."
Dan masih banyak opini yang bertebaran di antara mahasiswa.
Tak luput dosen Julie pun tersentak kaget manakala wajah Alexander muncul layar televisinya.
"Untung saja waktu itu aku tidak nekat. Bisa - bisa aku jadi santapan makan malam Carissa Birdella yang akan bertindak nekat pada siapa saja yang menggoda Putra Gibran."
++++++++++++
Kini sang Putra Gibran berdiri di atas podium. Tangan kanannya memegang mic yang di berikan MC kepadanya.
"Assalammualaikum Wr. Wb."
"Wa'allaikum salam Wr. Wb." semua menjawab dengan antusias, kecuali Jova.
Carissa menatap ekspresi Jova yang seolah enggan menjawab sapaan Alexander kepada seluruh tamu undangan. Kemudian dia tersenyum sinis.
"Selamat malam, salam sukses untuk semua tamu undangan. Terima kasih atas antusiasme yang menunggu kemunculan saya. Saya bukanlah orang yang spesial. Saya juga tidak sehebat papa saya. Yang saya tau, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.
Jika saya seperti ini sekarang, tidak lebih karena saya lahir dari ibu yang hebat dan ayah yang kuat.
Saya pernah bersedih, ketika orang tua saya sendiri mengasingkan saya saat saya berusia 9 tahun. Tapi sekarang saya paham. Untuk menjadi hebat kita harus berjalan di kaki kita sendiri.
Menjadi pewaris tunggal bukanlah impian saya, saya hanya ingin seperti ayah saya. Yang mendirikan perusahaan dengan kaki dan tangan sendiri.
Semoga kita bisa menjalin kerja sama yang baik, dan saling menguntungkan.
Cukup sekian dari saya, saya sampaikan terima kasih kepada semua tamu undangan dan para wartawan," sang Putra Gibran mengakhiri sambutannya.
Semua tamu undangan berdiri, bertepuk tangan, tak terkecuali Jova. Dia berdiri dan bertepuk tangan.
Jika yang lain berdiri karena bangga dan ingin memberi selamat, berbeda dengan Jova.
__ADS_1
"Akting mu luar biasa tuan Alexander!" ucap Jova menahan amarah di hatinya.
Saat semua orang kembali duduk, Jova masih berdiri dengan tatapan membunuhnya ke arah podium. Membuat semua menoleh ke arahnya termasuk dua orang yang berdiri di podium.
Jova menarik nafas berat penuh dengan amarah. Dia keluar dari kursi dan berjalan cepat ke arah pintu keluar meninggalkan Indira dan tasnya. Sontak semua yang ada di dalam ballroom terheran - heran.
Dua orang di atas podium memberi instruksi pada Rakha. Dengan cepat Rakha tau maksud dari gerakan mata mereka.
Beberapa pengawal yang di kerahkan khusus untuk mengawasi Jova segera mengikuti langkah kaki Jova.
Indira mengambil tas Jova dan ikut mengejar Jova.
Jova berjalan keluar dari lobby hotel dengan menenteng high heelsnya.
"Hahahah"
Suara tawa sinis dari sisi kanan Jova membuat Jova menoleh. Saat tau siapa yang menertawainya Jova berhenti dan menghadap wanita itu tanpa takut.
"Sekarang kau tau kan siapa Alexander yang sebenarnya?" ucapnya dengan sinis. "Kenapa kau keluar? kau takut di buang lalu memilih pergi terlebih dahulu?" senyum sinisnya tak lepas dari bibirnya. "Jovanka, betulkan namamu Jovanka? Seorang CEO di perusahaan kecil yang sedang goyah, yang bahkan kantornya menyewa!" memiringkan kepalanya. "Kau sadar kau sama sekali tidak selevel dengan Alexander Gibran. Jangan kau pikir aku tidak tau kalau selama ini kalian sangat dekat, bahkan selama satu minggu kalian di Singapura!" ucapnya tegas. "Aku membiarkan mu karena aku yakin, Alexander hanya menjadikanmu mainan sebelum dia diperkenalkan sebagai Alexander Gibran. Hah! kasian sekali kau!"
"Ingat nona Carissa! saya tidak butuh di kasihani. Lebih baik saya tidak selevel dengan Alexander Gibran dari pada mengaku selevel padahal jauh lebih rendah. Jangan anda pikir saya tidak tau, kalau perusahaan besar orang tua anda hancur di tangan bodoh anaknya sendiri, yaitu anda!" ucap Jova tegas. "Satu lagi! kalau memang benar anda adalah calon tunangan Alexander Gibran, jaga dia dengan baik. Karena kalau sampai saya berubah pikiran, saya akan merebutnya dari anda, apapun caranya!" tegas Jova. "Permisi!" Jova berjalan ke pinggir jalan mencari taksi.
"Dasar pelakor!" teriak Carissa.
Indira, Rakha dan beberapa pengawal melihat jelas perdebatan mereka dari tempat yang berbeda.
Indira mengejar Jova dan melewati Carissa dengan menatap tajam Carissa.
"Jova, ayo aku antar pulang!" ucap Indira meraih tangan Jova.
"Ayo Jova, kau mau kemana?"
"Ke apartemen!" jawab Jova tanpa menoleh Indira.
"Aku antar!"
"Tidak ndi! aku naik taksi saja," Jova menghentikan taksi yang lewat di depannya.
"Jova!" panggil Indira menahan pintu taksi yang hampir di tutup Jova.
"Pulanglah ndi!"
"Pulang bersamaku saja Jova," ucap Indira sambil menyerahkan tas Jova.
"Aku akan baik - baik saja. Jangan khawatirkan aku!" ucap Jova menutup pintu taksi dengan keras.
"Pak ke apartemen R!" ucap Jova pada sopir taksi.
"Siap, nona."
Di dalam taksi Jova hanya diam saja menatap jalanan di luar jendela. Dia mengingat semua kebencian yang pernah dia ucapkan pada Putra Gibran. Dia juga ingat betapa dia sangat mencintai Alexander bahkan sampai sekarang.
Dia tau kalau aku membenci Putra Gibran, tapi kenapa dia tidak mengakui kalau dialah Putra Gibran. Ucap Jova dalam hati.
__ADS_1
Taksi yang membawa Jova sudah berhenti di depan apartemen Jova. Jova turun setelah membayar. Jova masuk ke apartemennya dengan hati yang berantakan.
"Tuan, nona Jovanka sudah turun, dia sudah masuk ke lobby apartemen," sopir taksi yang sebenarnya suruhan Rakha itu, memberi info pada Rakha melalui telpon seluler.
"Baiklah!"
Dua anak buah Rakha naik ke apartemen Jova. Menjaga Jova di luar pintu apartemen Jova.
# # # # # #
Di ballroom hotel, acara masih tetap berlanjut. Banyak sekali hal mengejutkan yang muncul di akhir acara setelah kepergian Jova. Yang membuat banyak orang merasa kaget dan penuh pertanyaan.
# # # # # #
Di apartemen, Jova mengirim pesan pada ibunya.
Bu, aku pulang ke apartemen. Ibu sudah tau kan siapa sebenarnya Alexander. Ibu jangan khawatirkan Jova. Jova hanya butuh waktu untuk berfikir jernih. Jova
Iya sayang. Ingat jangan buat dirimu sakit dengan masalah ini. Ibu
Iya bu, tolong jangan tanya kabar Jova untuk sementara. Jova
Jova membuat ponselnya menjadi mode pesawat. Dia menghapus make up nya, mengganti dress nya dengan baju tidur. Baju yang baru saja di pakainya di lempar ke dalam almari berserta sepatu dan tas juga perhiasannya.
Jova menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap langit - langit kamar dengan penuh kecewa.
"Baru saja aku ingin membangun mimpi dengan mu. Ternyata kau si Putra Gibran. Kau pandai mempermainkan perasaanku tuan Alexander," gumam Jova pelan.
"Kenapa dari awal kau tidak jujur padaku!" teriak Jova kemudian.
"Kita tidak akan pernah bertemu lagi!"
# # # # # #
Di sebuah kamar VVIP, seorang laki - laki memutar ponselnya, setelah mendapat kabar Jova keluar dari ballroom dengan menahan amarah dan sempat bertemu Carissa.
"Kau harus bisa menyakinkan dia! Kau harus bisa membawanya padaku!" ucap tegas Alexander melalui panggilan telpon.
"Sabar dong! tunggu aku. Aku pasti membawa gadis itu padamu!" jawaban dari sebrang.
Loh! kok bikin bingung sih?
Sabar.. Rahasia belum 100% terungkap. Author masih suka main - main. Hehe
Terima kasih buat teman - teman yang sudah memberi dukungan.
__ADS_1
Salam Lovallena.