
Menjelang siang pesawat pribadi berlogo Group G mengudara membawa sepasang pengantin baru menuju pulau Bali.
Jova duduk di pangkuan Alexander dengan manjanya. Bercanda dan saling mengenang saat mereka di pertemukan di kampus. Dan keseharian selama satu minggu mereka tinggal bersama di apartemen Alexander.
"Sayang?" panggil Jova.
"Apa?" jawab Alex sambil memainkan rambut Jova yang menjuntai di depannya.
"Apa Eyang juga datang?" menatap wajah Alexander ragu.
"Devander bilang Eyang datang" jawab Alex santai.
"Ooh" jawab Jova menahan sedih, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Alex mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Jova. Menempelkan kepalanya di pipi Jova.
"Sayang, jangan pernah pikirkan perkataan Eyang. Dia hanya belum mengenal mu" mengecup singkat pipi Jova, "Sejak kecil Eyang selalu berada di lingkungan elite. Dan tidak pernah bergaul dengan semua kalangan. Itu membuatnya hanya mengenal kekayaan adalah titik ukur derajat manusia"
"Hemm," Jova mengangguk, "tapi rasanya tetap saja ada yang berbeda"
"Diam lah," ucap Alexander pelan, "semua akan baik - baik saja"
Jova hanya memanyunkan bibirnya menanggapi kalimat Alex.
"Katakan padaku, setelah sampai di pulau Bali, tempat pertama yang ingin kamu kunjungi apa?" Alex mengecup leher Jova beberapa kali.
"Aku rindu main di pasir pantai" jawab Jova menahan geli di lehernya.
"Oke!"
Pesawat landing di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Alex menggandeng tangan Jova meninggalkan Pesawatnya, di ikuti seorang pengawal yang mendorong koper - koper mereka. Seorang pengawal lainnya sudah menyiapkan mobil untuk mereka.
Alex dan Jova masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Kali ini Alex memilih untuk memakai supir selama di Bali.
Mereka menuju salah satu villa milik Papa di daerah Nusa Dua. Villa pribadi yang terletak di tepi pantai pribadi yang tentu tidak terlalu banyak pengunjung.
Kedatangan Jova dan Alex di sambut dua pelayan yang sudah menyiapkan makan siang untuk mereka yang terlihat masih panas.
"Kamu mau mandi dulu atau langsung makan?" tanya Alex melihat Jova yang menjatuhkan dirinya di ranjang dengan kaki yang masih menggelantung.
"Mandi dulu, gerah" ucapnya.
Alex hanya mengangkat kedua alisnya, berjalan mendekati ranjang dan ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Jova, menghadap Jova.
Tanpa permisi, tangan kanan Alexander masuk menyelinap ke dalam baju yang di pakai Jova. Dan bermain - main di area favoritnya.
"Sayaaang!" Jova menahan geli, "kau menggodaku?" ucap Jova memiringkan tubuhnya, meletakkan telapak tangannya di pipi Alexander yang tersenyum menggodanya.
Tanpa banyak bicara, Alexander menindih tubuh Jova, dan memulai ciuman yang lembut dan saling memejamkan matanya. Alex menggigit kecil bibir Jova.
"Aah!" pekik Jova melepas ciuman mereka, "Sayang! sakit!" memukul pelan dada Alexander yang berada di atasnya membuat Alexander tergelak.
"Coba lihat!" Alexander menyentuh bibir Jova, "sedikit, kamu mau balas?" tanya Alex dengan senyum jahil.
"Of course!" Jova mendorong tubuh Alex hingga jatuh ke sampingnya. Jova menindih tubuh Alex, kini Jova di atas tubuh Alex. Meraih bibir Alexander dengan buasnya. Alexander kwalahan menahan serangan Jova. Tapi tetap membalas ciuman Jova.
Kedua tangan Jova bekerja sama untuk membuka kancing kemeja Alex satu persatu, hingga kancing baju Alex terlepas semua. Tangan Alexander hanya mengusap lembut kedua paha mulus Jova.
Jova beralih mengecup dan menjil*t leher dan dada bidang Alexander. Tak lupa meninggalkan bekas merah di sana. Alexander begitu menikmati serangan agresif Jova. Jova mengangkat kepalanya, menatap mata Alex dengan senyum menggodanya, membuat Alexander tergelak senang melihat Jova yang begitu antusias melayaninya.
__ADS_1
Jova masih duduk di atas pinggang Alexander dengan senyum menggodanya. Kemudian melepas sendiri bajunya dan melemparnya ke sembarang arah.
Dan.. seperti biasa, pertempuran terindah mereka di mulai dengan Jova sebagai pemimpin permainan awal. Mereka saling berusaha memberi kepuasan dengan saling menghargai.
"Aaakhhh!" desah keduanya, setelah 40 menit bertempur di atas ranjang. Alexander mencium lama kening Jova sebagai tanda terima kasih. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Jova.
Mereka saling tatap dengan senyum samar ala mereka. Seolah menunjukkan pada dunia betapa bahagianya pengantin baru ini.
Alexander bangkit dari tempat tidur dan mengangkat tubuh Jova, membawanya ke dalam kamar mandi.
"Ayo turun, waktunya makan siang" ucap Alexander setelah melihat Jova sudah selesai menyisir rambutnya.
"Ini sudah lewat makan siang, Sayang!" ucap Jova menyilangkan tangan di dada dengan menyungging senyum mengejeknya.
"Oh ya?" tanya Alex pura - pura tidak tau sekarang jam berapa.
"Jangan pura - pura!"
"Haha" Alexander tergelak, lalu merangkul pundak Jova berjalan keluar dari kamarnya.
"Setelah makan, kita main di pantai ya, Sayang!" ucap Jova saat menuruni tangga.
"Siap, Nyonya Alexander!" jawab Alex dengan bangganya menyebut julukan istrinya.
Jova mendongak, melihat wajah Alexander dengan senyum tak kalah bangga menjadi istri Alexander Gibran. Yang terkenal sebagai laki - laki dengan seribu pesona.
Dua pelayan yang bertugas di villa itu menghampiri Alexander dan Jova, saat melihat mereka berada di anak tangga terakhir.
"Maaf Tuan muda, apa Tuan muda dan Nona muda akan makan sekarang? biar kami hangatkan sebentar, karena sudah dingin"
Alexander belum menjawab, masih menatap dingin dua pelayan yang menunduk di depannya. Sementara Jova tau makanan itu dingin karena mereka terlalu lama di dalam kamar.
Alexander menoleh pada Jova di sampingnya, menatap Jova sebentar. Lalu mengangguk tanpa berkata apapun, Jova membalas dengan senyum manisnya.
"Kami langsung makan saja, tidak usah di panaskan" ucap Jova pada dua pelayan itu.
"Baik, Nona muda" ucap dua pelayan itu bersamaan.
Dua pelayan itu berjalan ke arah meja makan, dan menarik dua kursi untuk majikannya. Alexander duduk di ikuti Jova yang dudu di sampingnya.
"Kamu mau makan apa Sayang?" tanya Jova.
"Aku mau makan apa yang kamu makan" jawab Alex santai.
"Hemm.. Ok!"
Setelah makan siang berakhir, Jova menarik tangan Alexander untuk segera bermain di pasir pantai.
"Kau tidak takut kulitmu menghitam?" tanya Alexander setelah mereka sampai di pasir pantai sambil bermain ombak.
"No!" tegas Jova, "memangnya kalau kulitku menghitam kamu tidak mau aku layani?" tanya balik Jova memeluk Alex dari depan, sambil mendongak ke atas melihat ekspresi Alexander yang justru tersenyum lucu.
"Why not?" jawab Alex menatap intens wajah Jova.
"Hihi!" Jova memeluk erat Alexander dan menyandarkan kepalanya di dada Alexander.
Jova tampak sangat antusias bermain di pantai yang sepi itu. Berkejaran dengan ombak, berfoto dan berlarian. Hingga Jova merasa lelah dan memilih untuk duduk di tepi pantai.
__ADS_1
Jova membagikan beberapa foto kebersamaan mereka di sosial medianya. Yang tentu saja menarik perhatian teman - temannya, termasuk Indira.
Senangnya pengantin baru!. Indira
Of course!. Jova dengan emoticon penuh cinta
Jova dulu juga sangat membenci Pak Alex, nyatanya sekarang jadi bucin nya!. Ucap Indira dalam hati melihat foto - foto romantis mereka.
Ting! sebuah pesan yang mengomentari status WA Jova, masuk ke ponselnya, yang langsung menarik perhatiannya.
Jova, selamat atas pernikahanmu! maafkan sahabat bodoh mu ini, yang justru tidak bisa hadir di acara yang paling kau tunggu. Karena Papi meminta ku untuk berangkat ke Belanda siang itu. Meskipun aku tidak hadir, do'a ku sudah ku kirim untukmu dan suamimu. Bayu
Jova membaca pesan Bayu dengan rasa yang tak menentu. Jova tau Bayu menyukainya, tapi mau bagaimana lagi. Jova menganggap Bayu adalah sahabat terbaiknya.
Bay, bukan aku percaya diri. Tapi jika ternyata kebahagiaan ku hari ini, adalah kesedihan bagimu. Berikanlah aku maaf mu yang tulus. Aku tak sedikitpun berniat menyakitimu. Jova
Tidak ada sedikitpun salah mu padaku Jova. Semoga kamu segera di beri Alexander kecil, Aamiin. Bye Jova, aku harus kembali membantu Papi, agar bisa segera kembali ke Indonesia untuk skripsi. Bayu
Ok Bay. Semoga kamu segera menemukan gadis terbaik untukmu. Bye bye! Jova
Thanks Jova. Bayu
Sama - sama. Jova menambah emoticon senyum manis.
Semoga Alexander tidak akan pernah mengecewakanmu. Dan maaf aku sudah berbohong Jova. Ucap Bayu dalam hati, yang kini sedang duduk di balkon kamarnya.
# # # # # #
Di hotel milik Group G, masih ramai keluarga yang belum kembali ke negaranya. Siang ini Rakha mendatangi kamar Devan untuk membicarakan bisnis yang mana sudah pernah di tangani Devan sebelumnya.
Pintu lift yang membawa Rakha terbuka di lantai 27, tempat kamar hotel Devan berada. Rakha berjalan di koridor dengan menunduk.
Tap!
Sepasang flatshoes berwarna abu - abu mengkilap berhenti di depannya. Rakha pun reflek berhenti, menatap sepatu itu. Pelan - pelan Rakha mengangkat kepalanya melihat siapa pemilik sepatu itu.
Dear Reader,
• Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentarnya.
• Terima kasih untuk teman - teman yang rela maraton.
• Terakhir, Author minta dukungannya, supaya novel Author ini sesekali masuk Rekomendasi. hehe!
Jujur, novel Author ini sepi sekali walau kebanyakan komentar mengatakan suka sama jalan ceritanya. Author juga sudah berusaha mempromosikan novel ini.
Terima kasih pada teman - teman yang masih setia menunggu next episode nya.
__ADS_1
Salam Lovallena.