I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Siapa Dia Sebenarnya


__ADS_3

Jova berjalan ke arah pintu setelah Alex keluar dari kamarnya. Dia mengunci pintu lalu mengambil ponselnya untuk memesan makanan. Setelah itu dia mengganti bajunya dan mengikat rambutnya rapi, terakhir memoleskan make up tipis di wajahnya.


Jova berjalan ke arah pintu, lalu membuka pintu pelan. Matanya menangkap Alex yang sudah rapi dan sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Ya Tuhan, ini pangeran jatuh dari mana ya? batin Jovanka.


Jovanka diam, menyandarkan dirinya pada pintu kamarnya. Menikmati pemandangan yang indah menurutnya. Matanya tidak berkedip, bibirnya tersenyum tidak jelas.


"Apa perut yang lapar membuatmu semakin bodoh?" ucap Alex tanpa menoleh pada Jova.


"Apa?" pekik Jova pelan. Apa dia tau aku memandanginya? ucap Jova dalam hati.


Jova salah tingkah di buatnya. Dia berjalan pelan ke arah Alex. Dia duduk di sofa yang sama dengan Alex, tentu saja dengan jarak aman. Alex tetap fokus pada ponselnya.


Tok tok tok


Jova berdiri membuka pintu. Setelah membayar dia kembali ke ruang tengah.


"Tuan, sarapannya sudah datang!" ucap Jova di belakang sofa Alex.


Alex berdiri tanpa menjawab. Mereka berjalan ke arah meja makan. Jova menata makanan mereka di atas piring.


Mereka makan tanpa berbicara sampai makanan sudah pindah semua ke perut mereka. Jova merapikan meja makan kembali. Alex masuk ke ruang kerja.


Setelah mencuci piring Jova mengambil tas dan kunci mobil di kamarnya. Jova keluar dari kamar bersamaan dengan Alex keluar dari ruang kerja. Pandangan mereka bertemu.


Kenapa selalu bertemu sih, batin Jova.


Kenapa aku suka melihatnya, batin Alex.


Mereka berjalan keluar bersama menuju lift.


"Tuan langsung ke kampus? ini kan masih jam 7 pagi. Kuliah kan jam 9," ucap Jova yang berjalan sedikit di belakang Alex.


"Memangnya kenapa?" tanya Alex cuek.


Garing banget sih ngobrol ama ini orang. Lagi pula aku juga yang bodoh, batu di ajak ngomong, mana bisa jawab. batin Jova.


"Tidak apa - apa tuan. Suka - suka tuan, tuan kan dosennya!" ucap Jova pasrah.


"Lalu kenapa kau tanya kenapa aku berangkat sekarang?"


Jova tidak menjawab, dia mendongak melihat ekspresi wajah Alex yang tampak cuek sambil terus berjalan sampai di depan lift.

__ADS_1


"Tuan? tuan tau tidak. Pertama kali tuan memperkenalkan diri di kampus, banyak sekali mahasiswi yang mengagumi anda. Karena pada saat itu anda terlihat sangat tampan dan rupawan. Tapi lama - lama semua pada takut, setelah tau tuan adalah orang yang dingin. Di tambah suka menghukum mahasiswa yang melakukan kesalahan. Tapi mereka masih suka curi curi pandang pada tuan. Apa tuan merasakan kalau ada yang curi curi pandang pada tuan?" cerita Jova memecahkan keheningan lift yang hanya ada mereka berdua.


"Kalau kau ingin menceritakan dirimu sediri, nanti saja. Dan ingat! Tidak perlu atas nama mereka atau mahasiswi lain!" ucap Alex ketus dan percaya diri.


"What?" pekik Jova mengerutkan keningnya menatap wajah Alex. Aku memang salah satunya sih, tapi bagaiman dia bisa berfikir seperti itu, batin Jova.


Alex cuek saja sampai mereka keluar dari lift. Mereka menuju mobil masing - masing. Jova menuju kantor, Alex menuju suatu tempat.


Jova sudah sampai di kantor bersiap untuk meeting bersama para bawahannya.


# # # # # #


"Wow sepertinya itu mobil CEO?" tanya karyawan di depan lobby. Melihat mobil sport warna merah berhenti di depan lobby perusahaan.


"Iya betul. Tumben sekali ke kantor pagi?" jawab lainnya.


CEO itu turun menggunakan masker dan kaca mata hitam. Berjalan menuju lobby, beberapa karyawan menunduk hormat padanya. Tapi yang di hormati tidak bergeming dan masuk ke lift naik ke lantai 30.


"Selamat pagi, tuan muda!" sapa Lisa


"Hmm"


Rakha berdiri dan mengambil sebuah kunci begitu mendengar Lisa menyapa bosnya. Rakha keluar dari ruangannya dan melihat bosnya akan memasuki ruangan CEO. Dia segera berjalan mengekor di belakang bosnya.


"Pagi!" jawab sang bos, lalu mereka masuk bersama - sama.


"Tuan muda, ini kunci mobil anda yang baru"


"Ok!"


"Apa tuan akan menghadiri meeting bersama tuan Hasan? Dia ingin menanam modal besar kali ini. Untuk proyek baru kita," ucap Rakha.


"Tidak! kau saja. Apa kau sudah selidiki apa tujuannya?"


Rakha tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum penuh arti.


Sang CEO mengangguk paham setelah Rakha menjelaskan panjang lebar. Kemudian mereka mengakhiri pertemuan mereka hari itu.


Sang CEO turun menuju lobby di ikuti oleh Rakha di belakangnya. Dia masuk ke mobil barunya dan mengemudikan sendiri meninggalkan Rakha yang masih menunggu sampai mobil bosnya tak terlihat.


# # # # # #


"Selamat pagi, nona?" sapa Mira.

__ADS_1


"Pagi," Jova menjawab sambil membuka pintu ruangannya.


Dia duduk di singgasananya. Membuka beberapa email yang masuk di laptopnya. Setelah selesai memeriksa email dia membuka ponselnya. Setelah 1 jam dia berkutat dengan urusan kantor, Dia berjalan keluar.


"Mira, aku akan ke kampus, apa hari ini ada meeting?"


"Tidak, nona"


"Baiklah, aku pergi dulu!"


"Iya nona, hati - hati di jalan"


Jova sudah menyebrangi jalan, dia berjalan lagi menuju gerbang kampus. Dia melihat Alex berjalan di koridor kampus menuju ruangan dosennya.


"Kenapa dia baru datang, bukannya dia berangkat dari pagi?" gumam Jova heran, dia masih berjalan di koridor kampus. "Sebenarnya selain menjadi dosen dia bekerja apa lagi? kalau hanya dosen tidak mungkin dia sekaya itu."


Jova berjalan ke kelasnya. Dia duduk sambil memainkan ponselnya sembari menunggu sang dosen datang.


10 menit berlalu, Alex masuk ke kelas Jova. Tanpa basa basi dia langsung memberi materi kuliah pada mahasiswanya.


Jova tidak fokus pada materi yang diberikan Alex. Matanya sibuk melihat semua yang dipakai Alex. Jam tangan mewah, baju mahal, sepatu mahal.


Dari yang dia pakai saat ini saja itu sudah 1 M lebih. Belum lagi kaca mata yang di mobilnya. Mobilnya juga mobil sport mewah. batin Jova.


dan pikirannya beralih ke apartemen yang di tempati Alex.


Tidak semua orang bisa membeli apartemen yang berada di lantai 25 itu. Lantai 25 adalah lantai khusus untuk orang - orang tertentu. batin Jova.


Taakk!


Bolpoin jatuh tepat di kepala Jovanka. Semua menoleh ke arah Jovanka. Jovanka yang sadar kepalanya kejatuhan bolpoin segera mencari siapa yang melemparnya menggunakan bolpoin. Tapi dia semakin malu ketika menyadari semua yang ada di kelas menatapnya dengan senyum yang di tahan.


Matanya tertuju pada sang dosen yang menatapnya balik dengan tatapan tajam.


"Apa kau jauh - jauh kesini hanya untuk melamun Jovanka?" ucap Alex dengan menekan kata Jovanka.


"Ti... tidak pak!" ucap Jova terbata - bata.


"Lalu apa yang kau perhatikan? jangan kamu pikir saya tidak tau apa yang kamu lihat!" Karena Alex orang yang sangat peka dengan keadaan sekitar dan sangat pandai membaca raut wajah orang.


"Maaf, pak!" ucap Jova menunduk malu. Apa semudah itu otak ku di baca olehnya, batin Jova.


Setelah di rasa cukup menatap tajam Jovanka, Alex kembali memberi materi. Kali ini Jovanka serius mendengarkan penjelasan sang dosen.

__ADS_1


__ADS_2