
Sepulang dari kuliah, Jova meminta Driver untuk mengantarnya ke kantor Alexander. Dengan senang hati sang Driver mengantarnya.
Jova turun di depan lobby perusahaan Group G setelah di bukakan pintu oleh Driver yang mengantarnya.
"Bapak pulang saja, nanti saya pulang bersama suami saya!" ucap Jova pada Driver nya.
"Baik, Nona muda." jawab Driver itu.
Jova masuk ke dalam lobby, dengan senyum yang terpancar pada para pegawai yang memberi salam padanya. Jova langsung masuk ke dalam lift khusus atasan. Jova tersenyum pada Lisa yang menyapa kedatangannya.
"Tuan muda ada di dalam, Nona. Silahkan!" ucap Lisa.
"Terima kasih!" jawab Jova dengan senyumnya.
"Sama - sama, Nona!"
Jova membuka pintu tanpa mengetuk, membuat Alexander yang sedang berdiri di dekat jendela kaca menoleh ke arah pintu.
"Selamat siang, Sayang!" sapa Jova dengan sangat antusias.
"Selamat siang, Tuan putri!" balas Alex dengan senyum mengembang begitu melihat Jova yang datang.
Jova menutup pintu kembali, berlari kecil menghampiri Alexander. Dan memeluk tubuh Alex dengan manjanya.
"Sayang, kenapa kamu tidak membangunkan aku!" ucap Jova yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alex. "Aku kan malu bangun kesiangan di rumah mertua!" lanjut Jova.
"Aku sudah membangunkan mu beberapa kali, tapi kamu tidur terlalu lelap. Jadi susah di bangunkan!" jawab Alex mengusap lembut rambut belakang kepala Jova.
"Oh ya?" tanya Jova mendongakkan kepalanya melihat mata Alex.
"Hemm" jawab Alex mengangguk.
"Untung tadi Mama tidak marah!" ucap Jova, "yang aku dengar di luar sana Ibu Mertua akan tidak suka pada menantu perempuan yang bangun kesiangan!"
"Untung kamu bukan menantu di luaran sana!" ucap Alex dengan menahan gelak tawanya.
"Kamu itu!" Jova memukul pelan dada Alexander.
"Kamu sudah makan?" tanya Alex membelai wajah cantik Jova yang menghadapnya.
"Belum!" Jova menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau makan siang dimana?" tanya Alex.
"Disini saja!" jawab Jova cepat, "boleh?"
"Why not!" jawab Alex.
Alex mengeluarkan ponsel di saku celananya, mendial nomor Rakha.
"Bawakan makan siang untuk aku dan istriku!"
"Siap Tuan muda!" jawaban dari Rakha.
Alex mengangkat tubuh Jova seperti menggendong anak kecil. Meletakkan Jova di atas meja depan kursi kerjanya. Alex duduk di kursinya, mendekatkan dirinya pada Jova. Melingkarkan tangannya di pinggang Jova. Kepalanya menghadap perut rata Jova. Beberapa kali Alexander mencium perut rata Jova. Jova membalasnya dengan mengusap lembut kepala Alexander.
"Sayang?" panggil Alex lembut.
"Hemm?" jawab Jova.
"Apa kamu tidak merasakan ada yang tumbuh atau tidak di dalam di perutmu ini?"
"Hehe, aku tidak tau!" jawab Jova dengan tawa kecilnya.
Alexander mendongak menatap wajah Jova dengan senyum kecil.
__ADS_1
"Sayang! kalau aku hamil terus gendut," Jova melirik ke arah atas, "bagaimana?" lanjutnya.
"Memangnya kenapa kalau gendut?" tanya balik Alexander.
"Pasti aku jadi jelek dan tidak menarik!" Jova menyebikkan bibirnya.
"Siapa bilang! kamu pasti akan menggemaskan!" ucap Alex mentoel hidung Jova. "Pipimu ini pasti bulat di tambah perutmu yang bulat. Pasti akan semakin lucu!" jawab Alexander dengan senyumnya agar Jova tidak berkecil hati hanya gara - gara gendut.
"Tapi kalau ada wanita - wanita seksi dan genit yang menggoda mu bagaimana?" tanya Jova memanyunkan bibirnya, "seperti si Carissa itu! aku pasti kalah telak, karena aku gendut"
"Hahahaha!" Alexander tergelak, "tapi kan aku bukan b*jing*n! aku tidak akan tergoda dengan wanita macam apapun di luaran sana!"
"Janji!" tanya Jova mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji! Sayang!" ucap Alex yakin.
"Terima kasih, Suamiku!" ucap Jova sembari mencium singkat kening Alexander.
Alexander menempelkan telinga dan pipi kirinya di perut rata Jova. Jova mengusap lembut kepala Alexander.
"Oh ya, Sayang!" ucap Jova, "bantu aku membuat skripsi!" lanjut Jova. "Kamu kan mantan Dosenku, jelas kamu tau skripsi yang baik!"
"Kan mantan bukan Dosen!" jawab Alex tanpa mengubah posisinya.
"Ah, sama saja!" jawab Jova manja, "kamu kan pasti sudah pengalaman membuat skripsi!"
"Kalau kamu hamil, aku yang akan membuat skripsi untukmu!" ucap Alex.
"Aaahh! Tidak!" Jova melepas tangannya kasar. "Pokoknya buatkan aku skripsi!" Jova membuang mukanya.
Alex mengangkat kepalanya menatap wajah Jova yang manyun. Senyum lucu tersungging dari bibirnya. Mengusap pipi Jova dengan sebelah tangannya.
"Aku bantu 20 persen! bagaimana?" tanya Alex lembut.
"90 persen!" yang tidak mau melihat wajah Alex, membuat Alex tergelak.
"90 persen!" ucap Jova menyilangkan tangan di dadanya.
"Hahaha!" Alexander tertawa melihat tingkah Jova. "Sayaaangg.. kan kamu yang kuliah bukan aku. Aku sudah bosan mengerjakan semua itu." ucap Alex lembut.
Jova melihat Alexander dengan memanyunkan bibirnya. Membuat Alexander gemas sendiri, Alex menggigit kecil tangan Jova yang menyilang di dadanya.
"Aakh!" pekik Jova.
"Baiklah, aku akan menjadi Dosen pembimbing khusus untuk istri tercinta ku ini!"
"Bantu yang banyak!"
"Iya, Tuan putri!"
Jova mulai menyunggingkan senyum kecil, lalu kembali melingkarkan tangan di leher Alexander, dan menundukkan kepalanya. Mencium lembut bibir Alexander. Ciuman manis di mulai di sana.
Tok tok tok!
Baru beberapa menit mereka saling bercumbu, ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka.
"Masuk!" ucap Alex.
Pintu terbuka, memperlihatkan Rakha dengan ekspresi sedikit shock melihat Jova yang duduk di atas meja.
Wow! meja kerja itu sudah berubah fungsi rupanya! ucap Rakha dalam hati dengan menahan senyum.
"Apa kau semakin bodoh gara - gara melihat orang bermesraan Kha!" ucap alex yang melihat Rakha hanya bengong di pintu yang bahkan masih terbuka.
"Ha!" pekik Rakha, "maaf Tuan muda!" Rakha gelagapan menyadarkan dirinya. Lalu berjalan ke arah sofa meletakkan makan siang Alex dan Jova di meja sofa.
__ADS_1
"Bukankah di apartemen mu sudah ada wanita cantik, Rakha!" ucap Jova dengan senyum mengejek Rakha.
Sialan! ternyata gadis itu bilang pada Nona! batin Rakha.
"Apa itu benar, Kha!" tanya Alex pura - pura tidak tau.
Rakha hanya menatap dua bucin itu dengan bingung harus bicara apa. Kalau sebagai Rakha dan Alexander, Rakha pasti sudah membabat habis mulut Alexander yang pura - pura tidak tau itu. Tapi ini di kantor, jabatan mereka adalah Bos dan Asisten. Yang bisa Rakha lakukan hanya menahan gumpalan kesal di dadanya.
Benar - benar licik kalian bertiga! batin Rakha.
Alexander menyembunyikan seringainya dengan mendekap perut Jova, menyembunyikan wajahnya di sana. Alex tak tahan melihat ekspresi Rakha yang seperti itu.
"Kha, di tanya Tuannya jangan diam saja dong!" ucap Jova dengan senyum jahilnya.
"Iya ada, Tuan muda!" jawab Rakha pasrah. Tunggu pembalasanku Alexander! lanjut Rakha dalam hati.
"Hahaha!" Jova tergelak melihat ekspresi Rakha.
Rakha melihat punggung Alexander yang bergetar karena menahan tawanya. Alexander masih menyembunyikan wajahnya di perut Jova.
"Ingat Kha! di cintai perlahan, jangan cuma di suruh bersih - bersih apartemen mu!" ucap Jova dengan tawa jahilnya.
Apa! pekik Rakha dalam hati. Rakha mengerutkan keningnya mendengar perkataan Jova. Apa gadis itu cerita sampai sejauh itu! harus ku beri pelajaran dia!
"Semoga, Nona!" jawab Rakha pasrah.
"Kenapa wajah mu seperti itu sih, Kha?" tanya Alexander yang berhasil menguasai tawanya.
"Tidak apa - apa, Tuan muda!" jawab Rakha.
Aku harus berusaha menemui Alexander di luar kantor! awas saja kau! ucap Rakha dalam hati.
"Saya permisi, Tuan muda, Nona!" pamit Rakha dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Iya!" jawab Jova, "salam buat Nona Indira ya!" lanjut Jova menutup mulutnya.
Rakha terlihat menarik nafas dalam sebelum akhirnya kembali menoleh pada dua orang yang menatapnya dengan jahil.
"Baik, Nona!" ucap Rakha berusaha berekspresi datar. Namun dalam hati rasanya ingin memakan hidup - hidup dua orang itu.
"Hahaha!" Jova dan Alexander cekikikan melihat kepergian Rakha.
Novel untuk Rakha dan Indira sudah mulai bisa di baca ya. Dengan judul,
**30 Hari Mengejar Badai**

Semoga suka dengan jalan cerita Rakha dan Indira. Jangan lupa tinggalkan Like dan Komennya setiap habis membaca ya, hehe.
Biar Author semangat menulisnya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam Lovallena.