I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Pindahan 7 Hari


__ADS_3

"Pak Alex?" panggil Jova pada Alex yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya.


"Hemm?"


"Selain jadi dosen, pak Alex bekerja jadi apa?" tanya Jova mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.


"Apa itu penting?" jawab Alex cuek.


"Ya ampun, jawab aja kenapa sih pak?" ucap Jova kesal. Karena Alex selalu menjawab seperti itu jika tidak mau menjawab.


Alex melirik sekilas Jova di sampingnya. Lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Kau semakin berani bertanya ya?"


Jova menggigit bibir bawahnya, melihat Alex yang seolah tidak perduli dengan pertanyaannya.


Keheningan kembali tercipta. Jova hanya menatap luar jendela tanpa fokus. Sampai Alex masuk ke gerbang gedung perkantoran depan kampus. Dia menghentikan mobilnya di depan lobby.


"Kau mau duduk saja disini?" tanya Alex membuyarkan lamunan Jova.


"Hah?" pekik Jova tersadar dari lamunan menoleh kanan kiri.


"Kau bilang mau bekerja!"


"Kok bapak tau kantor saya di gedung ini"


"Apa itu penting?" jawab Alex cuek. "Turun!"


"Iya iya!" Jova membuka pintu mobil. "Terima kasih ya bapak dosen," ucap Jova tersenyum kaku.


Jovanka turun dan menunggu sampai mobil Alex tak terlihat. Lalu dia memasuki lobby dan naik ke lantai 15 menggunakan lift.


Bagaimana dia bisa tau ya, aku bekerja disini? apa dia itu setengah dukun? atau dosen bin dukun? batin Jova yang masih berada di lift.


"Selamat siang, nona!" sapa beberapa karyawan saat tiba di lantai 15.


"Siang!" jawab Jova santai.


"Selamat siang, nona!" sapa Mira di depan ruangannya.


"Hemm, Mira bawa semua laporan yang kemarin ya!"


"Siap, nona"


Jovanka berjalan menuju kursi kebesarannya, mengeluarkan ponselnya dan mendial satu nomor.


" . . . . . " jawab ibu di sebrang sana.


"Hai bu" jawab Jova. "Bu, untuk satu minggu ke depan Jova pulang ke apartemen. Ibu tidak perlu khawatir pada Jova. Jova akan makan tepat waktu dan semua sesuai aturan ibu. Jova banyak sekali pekerjaan dan tugas kampus."


" . . . . . . . "


"Tidak apa - apa. Hanya Jova malas berdebat dengan Tristan, pasti akan membuang banyak waktu ku nanti.


". . . . . . . . "


"Siap, bu. Ibu jangan khawatir. Bye bu. Love you!"


". . . . . "


Jova mengakhiri panggilannya

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Masuk!" ucap Jova


"Permisi, nona!" Mira masuk membawa tumpukan laporan. Dan meletakkan di atas meja kerja Jova. "Silahkan di periksa nona!"


"Ya, kau boleh lanjutkan pekerjaanmu!"


"Baik, nona!" Mira berjalan menuju pintu.


Jova memeriksa semua laporan dengan teliti, hingga memikirkan ide - ide brilian untuk menaikkan omset.


Sampai jam tiga sore dia masih berkutat dengan memikirkan ide - idenya.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Jova.


"Permisi, nona. Ini Laporan hari ini."


Jova hanya mengangkat kedua alisnya dan mulai membuka satu persatu. Setelah menanda tangani dan merasa sudah lengkap.


"Kau bawa ini, aku mau pulang dulu!"


"Baik, nona"


Jova mengambil tas dan kunci mobil. Lalu berjalan ke arah pintu bersamaan dengan Mira. Mira membuka pintu dan Jova keluar lebih dulu.


Jova masuk ke lift sendirian hingga lift sampai di Lobby. Lalu menuju parkiran dan masuk ke mobilnya, melajukan mobilnya membelah kemacetan kota Jakarta yang memasuki jam pulang kerja.


# # # # # #


"Yaa ampun, ternyata tuan muda benar - benar tampan sekali," gumam beberapa karyawan.


"Oh my God, aku serasa mau pingsan melihat ketampanan tuan muda," gumam karyawan lainnya.


Alex tidak memperdulikan itu, dia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Dia berjalan memasuki lift dan naik ke lantai 30.


Dia duduk di singgasananya. Bersamaan Rakha yang masuk membawa beberapa laporan.


"Silahkan di cek, tuan muda."


"Hemm"


"Kha, ganti mobil sport ku. Aku mau warna hitam!"


"Siap, tuan muda"


Sang tuan muda segera mengecek semua laporan harian. Setelah semua di rasa beres dia menyerahkan kembali berkas - berkas itu ke tangan Rakha.


"Ini! aku mau pulang", ucapnya pada Rakha.


"Baik, tuan muda", jawab Rakha.


Pria itu mengambil kunci mobil dan bergegas keluar bersama Rakha. Rakha membuka pintu agar tuan mudanya keluar lebih dulu.


# # # # # #


Di dalam apartemen Jova sudah mengemas sedikit baju untuk 7 hari tinggal di apartemen Alex, 15 lantai di atas apartemennya. Baju - bajunya sudah rapi di dalam koper.


"Baju pak Alex ini aku bawa saja, aku cuci di sana," gumam Jova. "Kenapa harus terjebak seperti ini?"

__ADS_1


Setelah selesai dia menunggu sampai jam 5 sore, memastikan Alex sudah selesai dengan aktivitasnya di luar. Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


# # # # # #


Setelah aktivitasnya seharian Alexander memasuki gedung apartemen nya. Dia berjalan cepat menuju lift, dan naik ke lantai 15.


Dia memasuki apartemen setelah sebelumnya menekan sandi. Dia melihat ruangan yang tampak tidak ada siapapun.


Dia kan belum tau sandi apartemen ku, batinnya setelah melihat jam menunjukkan jam setengah 5 sore.


Dia bergegas masuk ke kamar, lalu mandi dan mengganti bajunya dengan pakaian rumahan. Dia berjalan ke ruang tengah. Mendudukkan dirinya di sofa empuknya. Dia menyalakan TV lalu mengambil kacang di atas meja.


Dia mulai memakan kacang, dan melempar kulit kacang di sembarang arah. Yang penting lempar ke arah meja batinnya.


"Kalau sampai jam 6 kau belum datang, aku akan menyeret mu secara paksa Jovanka!" gumamnya tersenyum sinis.


Dia melihat TV tanpa fokus pada acara yang di tayangkan. TV hanya sebagai pura - pura agar tidak terlalu menonjol kalau dia sedang menunggu. Matanya hanya fokus pada jam dinding.


Tok tok tok


Hemm, itu pasti dia! batin Alex.


Dia berjalan ke arah pintu. Lalu membuka pintu dan siap memasang wajah garang di depan Jovanka.


Clekk


Terlihat Jovanka dengan koper di sampingnya.


"Selamat sore, tuan," sapa Jova.


Alex mengerutkan keningnya di panggil tuan. Lalu mengarahkan Jova agar masuk ke apartemennya dengan mengisyaratkan lewat gerakan kepalanya.


Jovanka masuk, berjalan ke arah ruang tengah. Matanya menatap layar TV yang menyala.


Ya Tuhan, aku mau tertawa tapi takut di marahi. Tidak tertawa aku tidak tahan. Batin Jova kesulitan menahan rasa ingin tertawanya.


Setelah mengunci pintu, Alex masuk ke ruang tengah, Sekelebat dia melihat mimik wajah Jovanka yang aneh. Dia menoleh kembali dan memperhatikan wajah Jovanka. Dia mengikuti arah pandang Jovanka.


Oh My God, apa yang aku lihat. Batin Alex.


Alex segera mengambil remote TV di atas sofa. Lalu mematikan TV dengan cepat.


"Kamarmu di sana!" tunjuk Alex pada salah satu pintu di ruang bawah. Berusaha menutupi salah tingkahnya.


Jova berjalan ke arah pintu yang di tunjuk Alex. Dia langsung masuk ke dalam kamar. Dan menutup pintu kamar dengan cepat.


"Hahahhaa!"Jova melepas rasa ingin tertawa yang dia tahan sedari tadi. "Segarang itu ternyata ... wkwkwkw", Jova semakin ingin tertawa. Tangannya memegang perut, bahkan dia sampai terduduk di lantai.


Setelah puas tertawa dia fokus pada kamar yang akan dia tempati selema tujuh hari. Mengedarkan pandangan matanya pada perabotan yang terlihat mewah. Dia berjalan mendekati jendela.


"Kamar tamu saja sebagus ini!" gumam Jova pelan.


Dia kembali duduk di tempat tidur, melirik koper berisi bajunya dan perlengkapannya. Dia berjalan mendekati kopernya dan menyeretnya ke Almari pakaian di kamar itu.


Dia membuka kopernya dan mulai menata rapi bajunya. Setelah itu ke meja rias menata semua alat make up nya di sana.


Tok Tok Tok


Jova membuka pintu kamarnya, dan tampaklah wajah Alex yang sinis.


"Lama sekali kau di dalam?" ucap Alex meletakkan tangan kirinya di dinding dekat pintu. "Apa kau lupa kalau kau disini itu untuk bekerja."

__ADS_1


__ADS_2