
Hari - hari berlalu, sudah 2 minggu aktivitas Jova dan Alexander berjalan normal dan penuh kebahagiaan sebagai pengantin baru setelah kepulangan mereka dari Pulau Bali.
"Sayang! kamu kelaparan atau bagaimana? tumben makan mu banyak sekali!" tanya Jova pada Alex yang duduk di sampingnya pada Senin pagi.
"Entahlah, padahal aku tidak lapar!" jawab Alex di tengah mengunyahnya. "Tapi aku benar - benar ingin memakan semua masakan kamu ini, Sayang!" jawab Alexander.
"Hemm.. ya sudah, makan pelan - pelan! kalau kurang nanti aku buatkan lagi!" ucap Jova tersenyum senang.
"Sayang!" pekik Jova, "itukan susu untuk mempersiapkan kehamilanku! kok kamu habiskan sih?" protes Jova karena susunya tiba - tiba di minum Alex hingga satu gelas habis.
"Ups! sorry Sayang! hehe," Alexander tersenyum dengan tak berdosa nya sudah meneguk susu yang bukan miliknya. "Terlihat sangat menggiurkan, jadi aku minum!"
"Sejak kapan kamu tergiur susu beginian!" tanya Jova, "ini kan bukan susu sembarangan." lanjut Jova.
"Entahlah, aku hanya ingin makan dan minum yang semua buatan tanganmu!" ucap Alex menyungging senyum mansi.
"Hemm" Jova tersenyum senang mendengar kalimat puitis Alexander. Entah serius atau tidak, seorang istri pasti suka dengan segala bentuk pujian suaminya.
"Sayang! aku langsung berangkat ke kantor ya?" ucap Alex setelah menyelesaikan sarapannya.
"Iya, Sayang! hati - hati" ucap Jova mencium tangan Alex.
"Iya! Sayang! kamu nanti kuliah kan?" tanya Alex.
"Iya, aku berangkat sekitar jam 8 saja."
"Baiklah, kamu juga harus hati - hati!" mengusap lembut kepala Jova.
"Siap, Komandan!"
Mereka berjalan ke arah pintu utama apartemen. Jova hanya mengantar sampai depan pintu apartemen 25A.
"Hemm," Alexander menarik pinggang Jova, mencium kening Jova cukup lama. Lalu beralih mencium bibir Jova singkat.
"Ingat! kami harus hati - hati bawa mobilnya!" peringatan Alexander lagi.
"Iyaa, Sayang!" jawab Jova, "aku sudah biasa bawa mobil sendiri kan?"
"Iya juga sih! entah, rasanya aku ingin memperingatkan mu berkali - kali!" ucap Alex.
"Hehe, sudah berangkat sana!" ucap Jova lembut.
"Hemm.. baiklah!" Alex melepas pelukan tangannya di pinggang Jova dan berjalan ke arah pintu.
"Bye!" ucap Jova sambil melambaikan tangannya saat Alex sudah masuk ke dalam lift.
Alexander hanya membalas dengan senyum dan lambaian tangan singkat. Jova kembali masuk ke apartemen setelah pintu lift kembali tertutup.
"Sebaiknya aku mandi sekarang!" gumam Jova pelan sambil berjalan naik ke lantai atas.
Satu jam berlalu..
__ADS_1
Seperti biasa hari ini pun Jova mengemudikan sendiri mobilnya menuju kampus. Jova mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan Ibukota yang tidak terlalu ramai.
Dari kejauhan lampu hijau persimpangan berubah menjadi kuning. Jova pun menyalakan kedua lampu sein nya, sebagai peringatan pada mobil belakangnya agar berhati - hati. Karena dari spion Jova terlihat mobil belakang tidak mengurangi kecepatannya. Jova berhenti karena lampu benar - benar sudah mulai menunjukkan warna merah. Jova berada di barisan paling depan.
BRRAAAAKKKKK!!!
Mobil Jova tertabrak sangat keras oleh mobil di belakangnya. Hingga mobil Jova terpental sisi kiri mobilnya, menabrak pengendara motor yang berhenti di sampingnya. Seketika Jova tidak sadarkan diri.
Mobil yang menabrak mobil Jova justru menancap gas lebih dalam. Hingga menerobos lampu merah, dan menyerempet pengendara sepeda motor dari jalur hijau yang mulai berjalan maju.
Kondisi perempatan lampu merah seketika berubah. Banyak kendaraan yang memilih berhenti dan menolong banyaknya korban yang kebanyakan para pengguna sepeda motor.
Dua pengawal yang mengikuti Jova di belakang mobil si penabrak seketika berhenti. Satu Pengawal turun menghampiri Jova, dan satu lainnya yang bertugas mengemudi langsung mengejar pelaku penabrakan.
Pengawal yang menolong Jova segera menghubungi Rakha sebagai pusat utama bagi para Pengawal memberi Informasi. Karena Alexander tidak menerima sambungan telfon dari bawahan. Pengawal menginformasikan kondisi Jova yang pingsan dan bersiap di bawa ke Rumah Sakit.
Dengan bantuan orang - orang di sekitar, Jova berhasil dikeluarkan dari mobil. Dan membawa Jova ke Rumah Sakit menggunakan mobil salah seorang pengendara yang berbaik hati.
# # # # # #
Di perusahaan Group G, setelah mendapat telfon, Rakha meraih kunci mobil, lalu segera keluar ruangan kerjanya dan berlari keruangan Bosnya.
Brak!!
Rakha membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, karena Rakha tau bagi Bosnya ini adalah kabar genting. Sehingga tidak membutuhkan standar SOP.
"Ada apa Kha?" tanya Alex yang spontan melihat ke arah pintu.
"Apa!" pekik Alex berdiri dari duduknya.
"Sekarang dalam perjalanan ke Rumah Sakit!"
"Cepat! kita ke sana!" ucap Alexander meraih ponselnya di meja dan berjalan beriringan berjalan dengan Rakha. Tentu saja dengan langkah yang lebar dan cepat. Hingga Lisa dan security merasa keheranan.
Tanpa menunggu Rakha mengambil mobil, Alexander ikut menuju tempat mobil Rakha di parkir. Alex masuk ke kursi penumpang depan tanpa di bukakan pintu siapapun. Dengan cepat Rakha melajukan mobil sportnya menuju Rumah Sakit.
Alexander langsung turun dari mobil, begitu Rakha baru saja berhenti di parkiran Rumah Sakit. Petugas Rumah Sakit yang melihat kehadiran Alexander segera mengarahkan Alex ke ruang dimana Jova tengah di tangani.
Terlihat di depan sebuah ruangan VVIP beberapa Pengawal yang di tugaskan Rakha membantu menangani kecelakaan Jova sudah berjaga di sana. Tanpa permisi Alexander membuka pintu ruang rawat Jova. Tentu saja tidak ada yang berani melarangnya. Dokter yang sudah selesai memeriksa Jova seketika menoleh ke arah pintu. Terlihat Alexander yang berdiri dengan paniknya dan Rakha yang berdiri di belakangnya.
"Tuan!" sapa Dokter dengan sedikit menunduk sopan.
"Bagaimana keadaan istriku!" tanya Alex tanpa menjawab sedikitpun sapaan Dokter itu.
Rakha menutup pintu dan berdiri di belakang Alexander, menunggu jawaban Dokter yang melihat Alexander dan Jova bergantian.
"Tidak ada luka parah yang di alami Nona Jovanka, Tuan!" ucap Dokter itu.
Alexander mendekati Jova yang masih pingsan, dan melihat sekujur tubuh Jova. Memastikan tidak ada luka yang pernah di alami Jova beberapa bulan lalu.
"Tabrakan secara mendadak dari arah belakang membuat Nona Jovanka shock, karena tidak ada persiapan sebelumnya. Apalagi terjadi saat lampu sedang merah yang mana harusnya kendaraan mengurangi kecepatan dan berhenti."
__ADS_1
"Apa kau sudah pastikan tidak ada benturan keras yang di alami istriku?'
"Sudah, Tuan!" jawab Dokter, "Nona Jovanka hanya sedikit mengalami benturan di sisi kanan kepala, yang mana itu pasti benturan kaca pintu."
"Kenapa dia belum sadar?" tanya Alex lagi.
"Mungkin sebentar lagi, Nona Jovanka akan sadar, Tuan!"
Alexander tidak menjawab dan tidak lagi bertanya. Alex hanya mendengarkan saja, sambil mengusap kepala dan tangan Jova.
"Sebenarnya yang membuat Nona Jovanka shock parah adalah.." dokter itu tidak melanjutkan kalimatnya. Dokter itu menatap Alex dan Rakha bergantian.
"Apa! cepat katakan!" perintah Alex tidak sabar.
"Kalau kau bertele - tele aku akan membuat surat pemecatan untukmu!" sahut Rakha.
Suara ponsel Rakha berdering. Rakha dengan cepat mengangkatnya karena panggilan dari Pengawal yang mengejar pelaku penabrakan.
"Apa!" tanya Rakha.
"Kami sudah berhasil menangkap pelaku, Tuan!" suara dari sebrang.
"Bawa dia ke gudang rusun kalian!" perintah Rakha.
"Baik, Tuan!" jawab Pengawal di sebrang.
Rakha mengakhiri panggilannya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Tuan, sepertinya saya harus mengurus pelaku penabrakan!" ucap Rakha.
"Pergilah!" ucap Alex, "kau urus siapapun yang sudah menabrak istriku. Cari tau dia sengaja atau tidak!"
"Baik, Tuan!" Rakha mengangguk dan berlalu dari ruang rawat Jova.
"Lanjutkan apa yang ingin kau bicarakan tadi!" perintah Alex pada Dokter.
"Baik, Tuan!" Dokter itu mulai memasang wajah serius.
Ayo dong kakak - kakak tinggalkan Like nya, hehe.
Author pengen di semangati buat Up ini.
Terima kasih yang sudah memberikan Dukungan, Hadiah dan Vote nya.
__ADS_1
Salam Lovallena.