I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Rakha dan Indira


__ADS_3

Indira berdiri di pinggiran taman hotel. Dari tadi dia tidak pulang. Dia menatap sendu seseorang yang duduk di kursi taman dengan membelakanginya. Orang itu tampak diam menatap lurus ke depan. Sesekali terlihat dia memainkan ponselnya.


Setelah cukup bosan, Indira berjalan mendekat. Tanpa permisi, Indira duduk di samping Rakha. Rakha melirik Indira yang menatap lurus ke depan.


"Kamu kenapa disini?" tanya Indira.


"Memangnya kenapa?" Rakha tanya balik.


"Ini kan acara spesial Tuan mu, kenapa kau malah di sini menyendiri?"


"Aku tidak suka keramaian!"


"Oh ya?"


"Hemm" jawab Rakha cuek.


"Aku tidak yakin kalau kau tidak suka keramaian!"


"Kau bisa diam tidak!"


"Tidak, Tuan Rakha Leonard!" jawab Indira dengan senyum manisnya.


Rakha menarik nafas dalam dan membuangnya pelan.


"Ikut aku yuk!" ajak Indira.


"Aku lelah"


"Tch! ayolaah!"


"Tidak!"


"Ayo!" paksa Indira.


"Tidak!" bentak Rakha.


Indira membuang nafasnya panjang. Kemudian memikirkan ide terbaik.


"Baiklah," ucapnya kemudian, "kalau kau tidak mau ikut aku, aku yang akan ikut kamu!" lanjutnya.


"Apa maksudmu?" Rakha menoleh pada Indira di sampingnya dengan penuh tanda tanya.


"Sekarang kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu!" kembali melihat lurus ke depan.


"Tch, ayolah!" ucap Indira, "apa kau mau diam saja di sini?"


"Tidak!"


"Lalu?"


"Aku mau pulang!" berdiri dan berjalan menjauh dari kursi.


"Aku ikut!" Indira ikut berdiri berjalan di belakang Rakha.


"Ikut kemana?" tanya Rakha tanpa menoleh ke belakang.


"Ikut kamu pulang!"


Rakha berhenti dan menoleh ke kebelakang, menatap heran pada Indira.


"Apa kau gila ingin ikut aku pulang!" menatap Indira tajam, "aku ini laki - laki dan kau perempuan, dan aku tinggal di apartemen sendirian!"


"Lalu?" tanya Indira menatap mata Rakha.


"Tch!" Rakha mengalihkan pandangannya, "apa kau tidak takut berada di apartemen seorang laki - laki?" menatap Indira.


"Tidak!" jawab Indira yakin.


"Bagaimana kalau aku khilaf dan menyakitimu!"


"Aku yakin kau tidak akan melakukan itu!"

__ADS_1


"Dari mana kau tau! apa kau dukun!"


"Bukan, hanya saja aku percaya seorang Rakha Leonard tidak akan melakukan pelecehan terhadapku! apa lagi kau membenciku!" Indira menampilkan senyum manisnya.


"Tapi kalau ternyata aku melecehkan mu dan membuatmu terluka, bagaimana?"


"Dengan senang hati aku akan meminta pertanggung jawabanmu! apapun caranya!" jawab Indira yakin.


"Sepertinya kau harus ke psikiater!"


"Untuk apa?"


"Memeriksakan otakmu yang miring itu!" ketus Rakha sambil kembali berjalan.


Indira mengerucutkan bibirnya sambil mengejar langkah cepat Rakha.


"Aku ini tidak gila, Tuan!"


Rakha hanya membuang nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Rakha berjalan menuju mobilnya di parkiran hotel, Indira masih mengikutinya di belakang. Rakha membuka pintu kemudi Indira membuka pintu penumpang.


"Apa kau benar - benar ikut aku!" tanya Rakha saat melihat Indira ikut membuka pintu penumpang.


"Iyalah!" jawab Indira dengan senyum manisnya.


"Hah! terserah kau lah!" ucap Rakha pasrah, "asal jangan mengganggu waktu ku istirahat!" ucap Rakha dan langsung masuk ke mobilnya.


"Hehe, siap Tuan!" jawab Indira girang.


Indira memasang seat belt nya dengan menebar senyum bahagia. Rakha mengemudikan mobilnya meninggalkan hotel, membelah keramaian jalanan Ibukota di bawah terik Matahari.


"Apartemen mu di mana?" tanya Indira mencoba membuka obrolan.


"Nanti kau juga akan tau!" ketus Rakha tanpa sedikitpun menoleh Indira.


"Hemm" Indira menyebikkan bibirnya, membuang pandangannya keluar jendela.


20 menit berlalu, Rakha memasuki area apartemen. Dan memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen. Rakha turun di ikuti Indira yang juga ikut turun. Indira berjalan di belakang Rakha, sampai mereka masuk lift dan lift kembali terbuka di lantai 17.


Rakha berjalan ke arah apartemen nya, menekan sandi apartemennya. Indira mencoba mencuri - curi pandang nomor sandi yang di tekan Rakha, tapi tidak mendapatkan satu angka pun.


"Tentu saja lebih luas dan mewah!" jawab Rakha dengan nada ketus, "Kalau mau minum ambil sendiri, di lemari es ada cemilan kalau mau!"


Indira tidak langsung menjawab, dia tersenyum ke arah Rakha. Dia benar - benar tidak menyangka kalau Rakha akan menawarinya minum.


"Baik, terima kasih!"


"Hemm" jawab Rakha cuek.


Rakha melepas jas nya dan membawanya naik ke kamarnya di lantai dua. Indira membuka lemari es dan mencari minuman dingin dan mengambil cemilan. Lalu membawa nya ke ruang tengah, depan TV.


Tak berapa lama Rakha turun menggunakan baju santainya, celana pendek dan kaos lengan pendek.


Wow! baju santai membuatnya terlihat lebih tampan ternyata! ucap Indira dalam hati.


Rakha berjalan ke arah lemari es dan mengambil minuman dingin. Indira melihat setiap gerak gerik Rakha.


"Apa tidak arah lain yang bisa kau lihat selain aku!" ucap Rakha yang sadar sedang di perhatikan.


"Eh!" Indira gelagapan membuang pandangannya, "sorry, sorry, kau terlihat sangat tampan dan itu membuatku terpaku!" jawab Indira asal.


Hemmm.. kenapa dia selalu tau sih kalau di perhatikan, ucap Indira dalam hati.


Mata Indira menangkap kartu p*ker di bawah meja sofa. Indira mengambilnya dan membuka boxnya.


"Kau suka main kartu?" tanya Indira.


"Kalau ada lawannya!" jawab Rakha yang berjalan keluar area dapur hendak menaiki tangga.


"Aku juga suka!"


"Apa!" Rakha berhenti di anak tangga pertama, melihat Indira yang mengangguk dengan senyum yakin suka. "Kau inikan perempuan!"


"Memangnya kenapa?" jawab Indira, "aku hanya memainkan kartunya, tidak judi! ayo main dengan ku!" tantang indira.

__ADS_1


Rakha masih menatap tak percaya pada Indira. Rakha mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya. Dia berjalan ke arah sofa, dan duduk tidak jauh dari Indira.


"Ayo!" jawab Rakha.


"Ayo!" Indira dengan girang mengeluarkan kartu - kartu itu dan mengacak kartunya.


Mereka duduk berhadapan di sofa. Rakha menatap tangan Indira yang bergerak cepat seolah sudah lihai.


"Ini!" Indira membagi kartunya.


Rakha mengambil 4 kartu bagiannya. Dan mulai melihat - lihat kartu yang di dapatnya, hingga satu senyum sinis terbit di bibirnya.


Sementara Indira mengerucutkan bibirnya, pertanda 4 kartu yang dia dapat di dominasi kartu jelek.


"Kau dulu!" ucap Rakha.


"Oke!" jawab Indira mengeluarkan satu kartu.


"Ha!" ucap Rakha girang setelah mengeluarkan kartu yang mengalahkan kartu Indira.


Indira menatap Rakha melas, tapi Rakha tersenyum girang.


Rakha mengeluarkan kartu lagi, dan Indira mengeluarkan kartu dengan angka di bawah kartu Rakha. Rakha kembali tergelak senang, sementara Indira terlihat semakin sedih.


"Kau pasti kalah!" ucap Rakha yakin.


"Sepertinya begitu!"


"Kalau kau kalah, kau harus buatkan aku kopi!"


"Hemm.. iya iya!" jawab Indira malas.


Kartu ketiga Rakha di letakkan di atas sofa, Indira mengambil kartu yang yang di tumpuk tertutup sisa di bagi. Yang artinya dia tidak memiliki kartu yang di keluarkan Rakha. Sampai beberapa kali, barulah Indira menemukan kartu dengan gambar yang sama seperti kartu Rakha. Hanya saja angkanya lebih kecil.


"Yes! menang!" pekik Rakha.


Indira mengerucutkan bibirnya malas.


"Sekali lagi! kalau aku kalah lagi aku akan buatkan kamu kopi!"


"Tidak bisa!" ucap Rakha cepat, "perjanjiannya tadi jika kau kalah. Dan sekarang kau sudah kalah!" Rakha tergelak melihat Indira uang kemabli merapikan kartu - kartu yang berserakan.


"Baiklah! aku akan buatkan kopi sekarang" ucap Indira pasrah, "tapi kita main lagi! aku harus bisa mengalahkan mu!"


"Oke!" jawan Rakha setuju.


Indira berjalan ke arah dapur membuatkan Rakha kopi, lalu membawanya kembali ke ruang tengah.


"Ini kopi mu!" Indira meletakkan kopi di atas meja, "kita main lagi!" ucap Indira mengambil tumpukan kartu dan mulai mengacak kartu.


Indira kembali membagi 4 kartu untuknya, dan 4 kartu untuk Rakha. Ekspresi Indira terlihat tidak jauh berbeda dengan tadi, membuat Rakha tergelak.


Hingga 3 kali permainan Indira tetap kalah, tak sekalipun memenangkan permainan. Rakha tergelak senang melihat Indira yang kalah dengan raut muka kesalnya.


"Hahaha! kau tidak akan bisa menang dari ku!" ucap Rakha di sela - sela tawanya.


Indira menatap wajah Rakha yang tertawa dengan intens. Indira menyunggingkan senyum samar.


Aku senang bisa membuatmu tertawa, aku tidak perlu tertawa untuk terlihat bahagia. Cukup melihatmu tertawa bahagia karena aku. Ucap Indira dalam hati.


Sebenarnya jika main secara real, Indira akan menang dua kali. Dari tadi dia sengaja mengalah, dan mengambil kartu jika kartu yang dia punya lebih tinggi dari kartu yang di keluarkan Rakha.


Indira mengalihkan pandangannya dari Rakha, dan menunduk menyembunyikan senyum bahagianya dari Rakha.




Maaf ya, Author lagi sibuk, jadi up satu episode dulu. Besok pagi - pagi di usahakan up lagi.



Terima kasih untuk semua like dan dukungannya.

__ADS_1



Salam Lovallena


__ADS_2