I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Pengkhianat


__ADS_3

Bayu mengamati Jova dan Alexander sejak sepasang mata Bayu menangkap Jova turun dari mobil Alexander. Awalnya dia ragu, bisa saja dia salah liat, mobil sport Alexander pun bisa di miliki juga oleh orang lain. Tapi saat Alexander keluar dari pintu kemudi, dia semakin yakin bahwa yang dia lihat adalah Jova.


"Sepertinya aku memang harus keluar negeri" gumam Bayu di balik persembunyiannya.


Bayu masuk ke villa minimalis milik orang tuanya. Menutup rapat pagar dan pintu villa. Dia naik ke lantai dua, tempat kamarnya berada.


Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman, menatap langit - langit kamar.


"Jova Jova . . . kenapa takdir tidak berpihak kepada ku?" gumamnya pelan.


# # # # # #


Matahari sudah hampir tenggelam, tapi Jova masih enggan untuk pulang. Dia duduk di pasir pantai bersama Alexander.


"Apa kau tidak kedinginan?" tanya Alexander pada Jova di sampingnya.


"Tidak!" jawab Jova yakin. "Aku ingin melihat matahari pulang" ucap Jova menatap sunset di depannya.


Alexander hanya menatap wajah Jova yang tampak sangat senang sore ini.


Setelah matahari bener - benar kembali ke peraduannya, Jova baru mau di ajak Alexander masuk villa keluarganya.


"Ganti bajumu! pelayan sudah menyiapkan baju untukmu. Lalu tunggu aku di bawah" ucap Alexander.


"Ok"


Jova sudah hafal ke kamar mana dia harus masuk. Dia mandi dan mengganti bajunya, lalu keluar dari kamarnya menuruni tangga. Seorang pelayan sudah menunggu Jova di bawah tangga.


"Silahkan nona, makan malam sudah siap" ucapnya.


"Iya" jawab Jova sopan dengan senyum manisnya.


Jova berjalan mengikuti langkah pelayan itu hingga berada di ruang makan. Lagi - lagi Jova membelalakkan matanya melihat meja makan yang penuh dengan menu. Padahal yang makan hanya dia dan Alexander. Jova duduk di kursi bersamaan dengan Alexander yang menuruni tangga.


Pelayan yang menunggu di samping meja makan memundurkan satu kursi untuk Alexander, dia duduk di samping Jova.


"Saya permisi tuan" ucap pelayan setelahnya.


Alexander hanya menunduk sedikit, dan Jova menatap pelayan setengah baya itu pergi itu.


"Makanlah" ucap Alexander pada Jova.


"Iya!" ucap Jova dengan senyum mengembang.


Jova mengambilkan makan malam untuk Alexander. Lalu mengambil untuknya. Mereka makan dengan sangat lahap dan tenang.


Setelah selesai dengan makan malam mereka, Alexander mengajak Jova untuk langsung pulang.


"Ayo pulang!" Alexander berdiri dari kursinya.


"Pulang?" Jova mengerutkan keningnya. "Kita tidak menginap di sini?" tanya Jova kecewa.

__ADS_1


"Aku tadi hanya minta ijin pada ayahmu hanya sampai jam 8 malam" ucap Alexander mulai melangkahkan kakinya.


"Oh, kau minta ijin juga ternyata!" ucap Jova tersenyum. Tidak menyangka Alexander minta ijin dulu pada ayahnya.


"Tentu saja!" Menghentikan langkahnya. "Bisa - bisa aku ciduk polisi membawa keluar anak perawan dari rumah orang tuanya tanpa ijin" jelas Alexander.


"Xixi, kau lupa? kau bahkan pernah membawa ku keluar dari rumah orang tua ku satu minggu" Jova mengangkat kedua alisnya.


"Tapi kan kau pasti sudah ijin dengan caramu sendiri" ucap Alexander.


"Iya juga sih" Jova memanyunkan bibirnya.


"Kau masih mau di sini? kalau iya aku akan pulang sendiri" Alexander berjalan ke arah pintu utama villa.


"Hey! tentu saja aku mau pulang!" Jova melangkah cepat menyusul Alexander yang sudah sampai di ambang pintu.


Pintu di buka oleh dua pelayang yang mengurus villa itu. Mereka mengangguk pada Alexander, tapi Alexander tidak merespon. Jova mengangguk dan tersenyum sopan pada para pelayan saat dia pun di sapa dengan cara yang sama.


Alexander masuk ke mobilnya di ikuti Jova. Seorang satpam yang berjaga sudah membuka pintu pagar besi yang tingginya mencapai 3 meter itu.


Alexander melajukan mobilnya meninggalkan Villa mewah milik keluarganya. Meninggalkan para pelayan dan seorang satpam yang menatap mobil Alexander sampai tak terlihat.


"Menurutmu apa tuan menyukai gadis itu?, sudah dua kali tuan membawanya kemari" ucap seorang pelayan bernama Yanti.


"Aku setuju saja kalau tuan menikah dengan gadis itu. Gadis itu kelihatannya benar - benar baik" ucap pelayan satunya yang bernama Ida.


"Aku juga, dari pada dengan perempuan pecicilan yang dulu pernah datang kesini tanpa di undang" Yanti meyebikkan bibirnya.


"Eh, kok jadi ngegosip sih"


"Eh iya" ucap Ida tersenyum kikuk.


# # # # # #


Alexander melajukan mobilnya membelah keramaian Ibukota. Jova begitu menikmati pemandangan kota saat malam. Lampu jalanan dan lampu - lampu yang menghiasi pohon adalah pemandangan yang menakjubkan saat malam hari.


"Alexander?" panggil Jova memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Hemm?" jawab Alexander tanpa menoleh.


"Aku lihat villa mu paling besar di sana" tanya Jova.


Alexander mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Hey! kenapa kau selalu saja tidak mau menjawab pertanyaan yang menurutku penting" Jova memukul pelan lengan kiri Alexander.


"Tapi pertanyaan itu tidak penting untuk ku!"


"Tch!" Jova menyebikkan bibirnya. "Aku penasaran saja, pantai itu kan di kuasai Group G, tapi kenapa villa mu paling besar? apa orang tua mu sebenarnya jauh lebih kaya dari tuan Haidar Gibran?" tanya Jova antusias.


"Tch!", kesal Alexander. "Apa kau tidak punya pertanyaan yang lebih berkualitas?"

__ADS_1


Jova menganga mendengar jawaban Alexander.


"Dasar manusia batu!"


"Daripada batu kutukan!"


"What!" pekik Jova menatap tidak percaya pada Alexander. "Kau juga tau batu kutukan? apa kalian berteman."


"Dasar gila!" ucap Alexander


"Kau juga!" ucap Jova cepat, lalu kembali bersandar dan menyilangkan tangannya kesal.


Apa aku benar - benar sudah gila? mengejar cinta seorang laki - laki yang dengan entengnya mengatai ku gila.


Ucap Jova dalam hati merasa geli sendiri.


Tak terasa mobil Alexander sudah sampai di depan rumah Jova tepat jam 8 malam.


"Kau tidak mampir?" tanya Jova.


"Tidak! besok aku jemput lagi, jangan coba - coba berangkat sendiri!" ucap Alexander.


"Siap pak Alex" ucap Jova mengerlingkan matanya yang tak di hiraukan Alexander.


Apa sesusah itu menarik perhatian perjaka tua, batin Jova.


Mobil Alexander sudah tak terlihat, Jova masuk ke rumahnya. Dia masuk ke ruang tengah dimana ayah, ibu dan Tristan sedang duduk tanpa menyalakan TV. Mereka hanya diam dan tampak berfikir.


"Kenapa ayah, bu? ada apa? Kenapa kalian terlihat masam?" tanya Jova yang langsung duduk di sofa ruang tengah memperhatikan sang ayah.


"Hasan resmi menarik semua sahamnya" ucap ayah pelan dan terlihat kecewa.


"Heemm" jova membuang nafasnya pelan. "Itulah yang dulu ingin aku tunjukkan pada ayah. Aku sudah lama curiga, dia menarik sedikit demi sedikit sahamnya. Dan dugaan ku benar, pada akhirnya dia akan menarik semuanya" ucap Jova pelan.


"Dia benar - benar lupa daratan" kata ayah. "Dulu ayah yang membantunya bangkit, giliran sekarang mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi bergabung dengan Group G dia dengan mudahnya meninggalkan perusahaan ayah"


"Padahal kan seleksi itu tidak menjamin dia benar - benar bisa bergabung dengan Group G" ucap Jova.


"Iya, dia benar - benar mengambil resiko besar"


"Ayah jangan pernah menerimanya lagi kalau seandainya dia gagal" ucap Jova lagi.


"Tentu saja!, ayah tidak akan memberi kesempatan pada pengkhianat.


"Setuju yah!" ucap Jova dan Tristan.


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


__ADS_2