I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Penyesalan


__ADS_3

Alexander tertidur di kamar Jova, memeluk guling Jova membayangkan seolah memeluk Jova.


# # # # # #


Di apartemen, Jova sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Membayangkan wajah kesal Alexander tadi.


"Selamat malam Alexander", ucap Jova tersenyum, kemudian memejamkan matanya.


# # # # # #


Jova berjalan sendiri di koridor kampus setelah jam mata kuliah berakhir.


"Hai Jov!", sapa seseorang sambil merangkulkan tangannya di pundak Jova.


"Hai!", jawab Jova tersenyum.


"Kau mau pulang atau mau ke mana?"


"Aku mau pulang ke rumah saja"


"Aku antar bagaimana?"


"Emm.. bolehlah"


Jova dan Bayu berjalan beriringan menuju parkiran tempat mobil Bayu.


Bayu membuka pintu penumpang bagian depan mobilnya untuk Jova. Saat Jova akan masuk, sebuah tangan kekar menarik kuat pergelangan tangan kiri Jova.


"Auhh!!", pekik Jova


Jova tersentak kaget mengikuti langkah Alexander yang menariknya dengan berjalan cepat ke arah parkiran khusus dosen.


"Hey! apa yang anda lakukan?", teriak Bayu marah mengikuti Jova yang di tarik Alexander.


Alexander tidak menghiraukan teriakan Bayu. Dia terus menarik tangan Jova. Jova terlihat kesakitan pada pergelangan tangannya.


"Hey! pak Alexander yang terhormat, apa anda tidak tau ini termasuk kekerasan pada perempuan!", bantak Bayu geram.


Alexander menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Bayu yang juga menghentikan langkahnya.


"DIAM!! JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU!!", Bentak Alexander pada Bayu dengan tatapan membunuh.


Jova tersentak kaget mendengar bentakan Alexander yang menggelegar. Semua mahasiswa dan beberapa dosen melihat kejadian itu. Tapi mereka semua diam, saat Alexander mengedarkan tatapan membunuhnya ke sekeliling parkiran. Seolah mereka takut dengan tatapan tajam Alexander. Julie yang melihat kejadian itu sejak awal pun memegangi dadanya takut.


Alexander kembali menarik tangan Jova. Jova melihat ke belakang ke arah Bayu yang hanya diam di tempat. Matanya menyiratkan kata "maaf" dan Bayu yang menyadari tatapan Jova hanya memasang wajah teduh dan mengangguk pelan.


Alexander membuka pintu penumpang mobilnya. Dan mendorong Jova untuk duduk di kursi penumpang. Dia memasangkan sit belt pada Jova. Lalu menutup pintu keras, hingga Jova terlonjak kaget. Lalu berjalan memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


Alexander mengemudikan mobilnya meninggalkan kampus dengan kecepatan penuh. Dia masuk ke jalan tol dan menambah kecepatan. Jova takut bukan kepalang. Tangan kirinya berpegang pada peganganbpintu mobil, tangan kanannya memegang sit belt di dadanya. Matanya membulat melihat ke depan dan melihat Alexander bergantian.


"Alexander apa yang kau lakukan!", ucap tegas Jova di tengah kepanikannya.


Tapi Alexander tidak menggubris ucapan Jova.


"Apa kau ingin membunuhku?", ucap Jova dengan dada kembang kempis karena merasakan kepanikan luar biasa.


"Alexander!", teriak Jova, karena Alexander diam saja.


"Kalau kau ingin membunuhku, tidak secara perlahan seperti ini!", teriak Jova.

__ADS_1


Tapi Alexander tidak bergeming.


"Aku tidak mau mati di tanganmu! lebih baik aku mati dengan cara ku!", bentak Jova.


Jova melepas sit belt nya dengan penuh amarah. Dia menarik gagang pintu mobil.


"Apa yang kau lakukan!!", bentak Alexander.


"Aku mau melompat dari mobil ini! setidaknya aku mati karena ulahku sendiri. Bukan karena kau bunuh!!", ucap Jova menghadap Alexander.


Dengan cepat Alexander mengunci otomatis pintu mobilnya.


"Buka!!", teriak Jova setelah tidak bisa membuka pintu. "Buka!!", teriak Jova tak di hiraukan Alexander.


"BUKA ALEXANDER!!", Jova berteriak di telinga Alexander.


Alexander menepis kepala Jova.


"Diam!! duduk! pakai sabuk pengaman mu!", ucap tegas Alexander.


"Aku tidak mau!", teriak Jova memukul lengan Alexander.


"Apa kau gila!"


"Kau yang gila!", teriak Jova memukul kembali lengan Alexander.


"Shit!! pakai sabuk mu Jova!", teriak Alexander panik.


BLAAAAAARRRRRRR!!!!!


PRAANNKK!!!


Mobil sport mewah Alexander menabrak kontainer yang sedang berhenti karena pecah ban. Bersamaan dengan pecahnya gelas di tangan ibu Jova saat hendak minum air.


Kepala Alexander menatap kemudi mobilnya. Jova yang sedang tidak memakai sabuk pengaman terpental menabrak kaca depan mobil hingga pecah.


Alexander yang setengah sadar dengan menahan sakit di kepalanya, menatap buram Jova yang seketika tidak sadarkan diri. Tubuhnya bersimbah darah dari kepalanya dan tangannya di penuhi goresan dari pecahan kaca.


"Jova", ucap Alexander lemah.


Dengan cepat orang - orang yang sedang memperbaiki kontainer mengerumuni mobil Alexander. Dengan bantuan beberapa orang dari mobil yang berhenti mereka berdua berhasil di keluarkan.


Alexander sudah berhasil di keluarkan lebih dulu, dia masih bisa membuka sedikit matanya melihat Jova yang sedikit kesulitan untuk di keluarkan. Sesaat kemudian pandangannya menjadi gelap.


# # # # # #


Ibu Jova tidak bisa tidur hingga larut malam. Dia menghubungi nomor Jova tapi tidak ada yang mengangkat. Menghubungi Indira, tapi Indira tidak tau dimana Jova.


Sebelumnya, Tristan sudah datang ke apartemen Jova, tapi sepi dan tidak menemukan petunjuk apapun. Dia juga mendatangi kantor Jova, tapi sepi juga.


Ayah dan Tristan pun tampak bingung. Tapi mereka berfikir positif. Sampai akhirnya mereka bertiga tertidur di ruang tengah.


# # # # # #


Jam 2 pagi sepasang mata mengerjap, namun sesaat kemudian menutup lagi. 5 menit kemudian mengerjap lagi lalu membuka matanya perlahan. Melihat sekelilingnya, dia merasa tempat itu asing.


"Jova", gumamnya pelan.


Alexander membuka matanya lebar, bangun dari pembaringannya. Melihat sekelilingnya, dia sedang berada di ruang VIP sebuah rumah sakit.

__ADS_1


"Dimana Jova?", gumamnya pelan.


Dengan badan yang serasa remuk, dia turun dari tempat tidur pasien, mencabut paksa jarum yang menancap di tangan kirinya. Berjalan mendekati pintu, membuka pintu perlahan.


"Maaf tuan, tuan mau kemana?", tanya salah seorang penjaga.


"Dimana Jovanka?"


"Maksud anda, gadis yang kecelakaan bersama anda? Dia berada di ruang ICU tuan"


"Apa?", Alexander menegang. "Tunjukkan pada ku dimana ruang ICU!", ucap Alexander tegas.


"Tapi tuan, kata dokter anda harus istirahat sampai besok pagi"


"Kau berani membantahku!!", ucap Alexander geram.


"Em... ba...baiklah tuan", ucap salah seorang penjaga dengan gugup.


Alexander mengikuti langkah penjaga itu. Sampai di depan ruang ICU, Alexander menatap nanar pada Jova yang tubuhnya di penuhi alat medis. Matanya tertutup rapat.


Alexander membuka pintu kaca ruang ICU yang di jaga oleh orang yang berpakaian sama seperti yang mengantar Alexander. Dia berjalan mendekati tempat tidur Jova. Dia mengusap lembut puncak kepala Jova.


"Maafkan aku", gumam Alexander dengan suara bergetar. "Bangunlah Jova, hukum aku yang sudah membuatmu seperti ini", ucap Alexander sendu.


Setetes air matanya jatuh di lengan Jova. Dengan segera dia mengusap matanya. Alexander menunduk, mencium kening Jova dan kedua mata Jova.


"Bangunlah Jova, buka matamu", ucap Alexander yang masih menunduk.


"Maaf tuan, pasien membutuhkan suasana yang benar - benar tenang. Jika keadaannya membaik, besok akan di pindah ke ruang rawat inap", ucap dokter yang masuk ke ruang ICU.


"Katakan padaku! dia pasti akan bangun!", ucap Alexander dingin.


"Kami selalu berusaha yang terbaik tuan. Sebaiknya tuan kembali ke ruang rawat tuan, suster akan membantu memasang infus anda kembali".


Alexander tidak menjawab, dia mengecup kening Jova lagi dan mengusap pelan puncak kepala Jova. Lalu berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruang ICU.


Alexander berjalan lunglai menuju ruang inapnya. Di ikuti seorang perawat dan seorang penjaga.


Dia duduk di atas tempat tidur pasien. Perawat memasang jarum infus lagi di tangan Alexander. Alexander hanya diam dengan tatapan kosong.


Setelah selesai, perawat dan penjaga itu keluar dari ruang rawat Alexander. Meninggalkan Alexander yang hanya bernafas tanpa bergerak.


"Apa yang sudah aku lakukan?, aku bukan siapa - siapanya. Aku tidak berhak mengatur Jova", gumamnya pelan. "Kalau saja aku bisa mengontrol diriku semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku Jova", gumam Alexander penuh penyesalan mengingat banyaknya alat yang menempel di tubuh Jova.




Kira - kira Jova sadar atau tidak ya?



Selamat membaca part ini.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian ya teman - teman.



Terima kasih,

__ADS_1



Salam Lovallena.


__ADS_2