
Jova duduk di kursinya menunggu sang dosen datang sambil memainkan ponselnya. Teman - teman satu kelasnya bergantian melirik Jova. Jova sadar itu, tapi dia cuek.
Kenapa mereka menatapku seperti itu? apa mereka menganggap aku pelakor? mereka semua kan pasti tau, kalau Carissa Birdella mengaku sebagai tunangan Putra Gibran alias Alexander! ucap Jova dalam hati.
10 menit berlalu, akhirnya sang dosen masuk ke ruangan Jova.
"Loh! siapa dia? kok bukan Alexander?" gumam Jova pelan.
Jova mengikuti mata kuliahnya dengan pikiran yang masih di penuhi pertanyaan, kemana perginya Alexander.
"Ra?" panggil Jova pada teman di bangku sebelahnya setelah jam kuliah berakhir.
Rara menoleh pada Jova yang memanggilnya dengan mengangkat kedua alisnya. Seolah berkata apa?
"Kemana pak Alex?" tanya Jova.
Sontak teman - teman di bangku sekitar yang belum keluar kelas menoleh pada Jova.
"Lah, bukannya kau sering bersamanya? kok malah tanya aku," jawab Rara.
"Aku belum bertemu dengannya lagi"
"Jovanka.. Jovanka, bukannya kamu habis dari Singapura sama beliau?" sahut teman lainnya.
"Iya"
"Sejak hari itu juga pak Alex mengundurkan diri dari kampus ini," ucap Rara
"Apa!" pekik Jova. "Bagaimana aku bisa tidak tau!"
"Tch! kau ini kekasih macam apa!" Rara memukul pelan lengan Jova.
"Kekasih? kapan aku bilang dia kekasihku?"
"Hemm, tuan Alexander sendirilah yang bilang!"
"Kapan?" Jova tampak bingung.
"Tch! tidak mungkin kan kalau kaut tidak hadir di acara HUT Group G?"
"Aku datang, tapi di tengah acara aku pulang"
"Lalu kau tidak membaca artikel atau menonton berita begitu?"
"Sama sekali tidak! ponsel ku saja sampai hari ini masih mati!" ucap Jova menunduk.
"Kenapa kau matikan?"
"Tidak apa - apa. Cepat ceritakan, bicara apa saja dia?"
"Jadi saat acara akan berakhir, di putar vidio perjalanan berdirinya Group G, hingga kegiatan selama satu tahun ini. Lalu entah di sengaja atau tidak, ada part yang menunjukkan Carissa mencurangi Group G. Dia mengambil double job untuk produk bersaing gitulah di luar negeri. Sementara dia BA dari produk berkelas Group G yang baru. Jadi saat itu juga kontrak Carissa di putus oleh Group G. Dan di tayangkan secara langsung di layar TV!"
"What!" pekik Jova.
"Aku iri sama kamu Jov!" ucap yang lain.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saat Carissa melakukan pembelaan tentang kasusnya itu, dia mengaku kalau dia adalah calon tunangan tuan Alexander. Mungkin agar mendapat pembelaan dari media atau apalah. Tapi justru di bantah tegas oleh pak Alex, kalau Carissa bukan siapa - siapa nya. Dan pak Alex sendiri yang bilang, kalau dia sudah mempunyai kekasih berinisial J. Itu pasti kau!"
"Serius?"
"Ya iyalah Jovanka! dan kami baru tau produk mewah yang di keluarkan Group G itu terinspirasi dari namamu!"
"Hah! bagaimana bisa?"
"Namanya kan Jeyskin natural, nah Jey nya itu dari inisial J nama kekasihnya. Dan itu kau!"
"What!"
"Padahal produk itu kan sudah cukup lama, tapi baru di jelaskan sekarang. Memangnya kau sudah lama dekat dengan pak Alex?"
"Hemm, Iya sih! tapi aku tidak tau tentang semua itu"
Padahal waktu peluncuran produk itu statusku hanya pembantu di apartemennya. Ucap Jova dalam hati.
"Oh! kau tau Jov? bahkan acara pesta belum selesai pun, sudah banyak artikel yang muncul di ponsel memuat berita tentang Carissa"
"Kenapa dia?"
"Banyak keburukan lain yang selama ini di simpan media"
"Kasian sekali dia?"
"Ya! dan kemarin banyak artikel yang memuat tentang kekecewaan tuan besar Haidar Gibran pada Carissa"
"Hemm," Jova manggut - manggut mengerti. "BTW kenapa dia keluar ya?"
"Mana kita tau Jovanka!" sahut lainnya.
"Sama - sama"
# # # # # #
Jova berjalan menuju jalan raya, masih banyak mata yang menatapnya diam - diam. Tapi Jova tidak perduli.
"JOVA!!" teriakan menggelegar dari koridor kampus.
Jova menoleh ke arah koridor, terlihat Bayu dan Indira berjalan ke arahnya. Jova segera berlari, dan menaiki taksi yang kebetulan berhenti di depan kampus.
"Ke taman kota pak!" ucap Jova pada sang sopir.
"Baik, nona"
# # # # # #
"Sepertinya Jova menghindari kita Bay!" ucap Indira saat mereka sudah sampai di gerbang dan taksi yang membawa Jova sudah berjalan.
"Iya!"
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Percuma kita mengejarnya, sudah terlewat jauh. Apalagi dia naik taksi, pasti susah di cari"
"Baiklah, aku pulang sajalah"
__ADS_1
"Iya"
# # # # # #
Jova duduk di sebuah Cafe dekat taman kota. Dia memesan ice cappucino dan makanan ringan, sebenarnya dia sangat malas makan. Dia duduk sendiri di kursi bagian luar Cafe.
"Selamat siang, nona Jovanka!"
Suara seorang laki - laki dari belakang Jova. Jova menoleh dan seketika jengah melihat siapa yang memanggilnya. Jova langsung membalikkan mukanya, tanpa menjawab.
"Boleh saya duduk di sini?" tanyanya yang tidak di tanggapi Jova. "Sebentar saja!"
Laki - laki itu duduk di depan Jova, tanpa menunggu jawaban Jova. Jova memandang ke arah lain. Seolah tak perduli dengan laki - laki di depannya itu.
Laki - laki itu menjadi kikuk sendiri, tidak tau harus memulai percakapan dari mana. Dia meminum kopi yang dia bawa. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya pelan sebelum bicara.
"Nona Jovanka, sebelumnya saya minta maaf. Saya sudah mengkhianati tuan Saddam, orang yang sudah menolong saya, saat saya jatuh. Dan sekarang, saya jatuh karena keserakahan saya sendiri."
"Apa maksudmu!" ucap Jova ketus.
"Tuan Alexander Gibran tidak meloloskan saya sebagai rekan kerja di proyek baru mereka."
"Apa alasannya?"
"Karena ..." Hasan ragu melanjutkan ceritanya. "Karena ternyata tuan Alexander tau kalau saya berkhianat pada Group B sejak lama." Hasan menunduk malu.
"Sejak lama?" Jova mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Sebenarnya orang yang korupsi besar - besaran dulu bekerja sama dengan saya untuk korupsi di perusahaan tuan Saddam. Dan saya meminta dia untuk tidak menyeret saya. Dia menuruti keinginan saya dengan dalih saya harus membiayai kehidupan keluarganya. Saya menyetujuinya. Untuk itulah saya menjadi serakah, karena menghidupi dua keluarga. Dan sebenarnya sejak dua tahun lalu saya sudah mengajukan kerja sama pada tuan Haidar, tapi beliau selalu menolak. Dengan alasan yang tidak pernah saya ketahui. Sampai akhirnya tuan Rakha mengizinkan saya ikut seleksi. Tapi ternyata mereka terlebih dahulu menyelidiki latar belakang saya, tanpa sepengetahuan saya. Sampai - sampai mereka menciptakan produk yang menyaingi produk anda, untuk menyelamatkan perusahaan anda dari orang serakah seperti saya. Dan pada akhirnya saya tidak lolos, karena yang saya khianati adalah perusahaan keluarga anda." Hasan tersenyum kecil. "Saya baru tau, kalau ternyata nona Jovanka jauh lebih dekat dengan tuan Alexander Gibran."
"Dari mana kamu tau, kalau saya dekat dengan tuan Alexander?" tanya Jova.
"Saat anda berdiri di malam pesta, padahal semua orang sudah duduk. Ketika anda keluar dari ballroom tuan Haidar dan tuan Alexander terlihat menutupi kepaniknya. Dan di akhir acara, tuan Alexander menyebutkan brand Jeyskin natural terinspirasi dari nama kekasihnya yang berinisial J. Yang saya yakini adalah Jovanka. Karena ternyata produk yang menyaingi produk anda sudah di tarik sejak seminggu yang lalu."
"Lalu apa tujuan anda menemui saya di sini?"
"Saya hanya ingin minta maaf, nona. Dan saya tau anda kecewa dengan tuan Alexander. Tapi percayalah, tuan Alexander melakukan itu untuk menyelamatkan anda. Kalau tuan Alexander tidak melakukan itu, mungkin saya sudah membuat perusahaan anda bangkrut."
"Apa anda di bayar Alexander untuk mengatakan ini padaku?"
"Tidak, nona! sama sekali tidak! saya hanya ingin merubah mindset dalam diri saya"
"Apa kamu yakin?"
"Yakin, nona!"
Jova menghembuskan nafas kasarnya. Menatap arah lain. Pikirannya kemana - mana.
Terima kasih, pada teman - teman yang meninggalkan Like dan Komentar juga Dukungannya.
Tunggu up selanjutnya ya.
__ADS_1
Salam Lovallena.