I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Eyang!


__ADS_3

"Sayang, kenapa nama mu Cantika saat itu?" tanya Alexander dalam perjalanan ke rumah Eyang.


"Sebelum kami sampai di pantai, Ayah bilang jika ada orang yang tidak aku kenal bertanya siapa namaku. Maka aku harus menjawab Cantika, Ayah dan Ibu melakukan hal yang sama. Memanggilku Cantika selama di pantai. Kata Ayah, itu demi keselamatan ku. Tapi aku tidak tau, kenapa sampai harus mengganti nama"


"Oh"


"Oh ya, Devan bilang kamu tinggal di villa itu sejak umur 9 tahun. Apa saja yang kamu lakukan di sana sampai akhirnya kamu kuliah di London"


"Setiap pagi aku dan Rakha private school. Setelahnya hanya bermain - bermain di sekitar pantai. Sangat jarang kami keluar wilayah pantai. Di villa kami di asuh oleh orang tua asuh. Jika ada yang bertanya siapa orang tua kami, kami harus menjawab mereka berdua lah orang tua kami. Dan jika aku rindu Papa dan Mama, kami melakukan pertemuan di luar negeri. Bahkan saat mereka datang ke pantai itu, aku sama sekali tak terlihat kalau aku anak mereka. Nama Gibran ku pun di hilangkan pada saat itu. Identitas ku di palsukan untuk sementara waktu. Baru saat di London nama ku di buat jadi Alexander G. Tanpa pernah di sebutkan kepanjangan dari G"


"Lalu piagam di ruang kerjamu itu, semua bertuliskan Alexander G. Apa itu kau dapat dari London?"


"Tentu saja! selama di Indonesia, aku tidak pernah mengikuti kompetisi apapun! karena hidupku hanya di villa itu bersama Rakha"


"Oh!" ucap Jova, "lalu dimana sekarang orang tua asuh kalian?"


"Saat aku berangkat ke London, Papa memindah mereka ke Surabaya, sampai sekarang" jelas Alexander, "tapi anak pertama mereka masih berada di kantor utama Group G, dia laki - laki, sekitar 25 tahun"


"Anak kandung mereka hanya satu?"


"Dua, satu lagi perempuan. Saat aku berangkat ke London dia masih berusia 2 tahun.


"Oh" Jova menyunggingkan senyum mendengar setiap cerita seorang Alexander Gibran.


Tak terasa mobil yang membawa Jova dan Alexander sudah memasuki pagar rumah setinggi 3 meter, di susul satu mobil di belakangnya.


Wow! ternyata Mama juga berasal dari keluarga yang berada. Ucap Jova dalam hati, setelah melihat rumah yang cukup besar dan luas. Dengan desain modern, yang di dominasi warna gold.


Alexander turun setelah di bukakan pintu oleh Pengawal yang mengemudikan mobilnya. Setelah itu Jova turun dengan di sambut uluran tangan Alexander.


Alexander menyatukan jarinya dengan jari Jova. Mereka berjalan sejajar memasuki pintu utama rumah mewah itu. Mereka masuk dengan di sambut dua Pelayan lainnya. Jova menunduk dengan senyum ramahnya, membalas sapaan dari Pelayan.


"Di mana Eyang?" tanya Alexander pada dua Pelayan itu.


"Ada di taman belakang, Tuan muda" jawab salah seorang pelayan.


Alexander membawa Jova untuk menemui Eyang putrinya. Yang sudah berusia sekitar 75 tahun.


Sampai di taman belakang, Jova melihat ada seorang wanita tua, yang duduk di kursi goyang. Yang di yakini Jova sebagai Eyang Alexander. Tidak jauh dari Eyang ada seorang pelayan wanita berdiri menghadap kursi Eyang. Yang di yakini Jova sebagai pelayan khusus Eyang.


"Eyang?" panggil Alexander pada Eyangnya.


"Kau sudah sembuh Alexander?" tanya Eyang menoleh pelan pada Alexander dan Jova.


"Sudah Eyang" jawabnya, "Eyang, perkenalkan. Ini Jovanka, calon istri Alexander" ucap Alexander menoleh sekilas pada Jova di sampingnya.


Eyang diam saja, seolah tak perduli. Melihat itu Jova dan Alexander saling tatap. Jova berinisiatif mendekat ke tempat duduk Eyang.


"Eyang, perkenalkan nama saya Jovanka" ucap Jova dengan berlutut di depan Eyang, mencoba meraih tangan Eyang, tapi tak sedikit pun Eyang menggerakkan tangannya. Pandangannya lurus ke depan.

__ADS_1


"Eyang?" tanya Eyang pada Jova dengan senyum sinisnya, "sejak kapan aku jadi Eyang mu?"


Deg!


Seketika Jova menelan ludahnya, mendongakkan kepalanya menatap mata Alexander dengan penuh tanda tanya. Alexander terlihat manarik nafas dalam sebelum akhirnya bicara.


"Eyang, Alexander dulu pernah bilang pada Eyang. Kalau Alexander menunggu gadis kecil yang bernama Cantika. Inilah dia sebenarnya, Jovanka. Cantika hanya nama samarannya waktu itu"


"Dari mana kamu tau? bagaimana kalau dia hanya menyamar? demi hartamu!" ucap Eyang dengan senyum sinisnya.


Seketika Jova berdiri dari duduknya. Dia memang tidak bicara apapun, tapi jelas terlihat kalau dia tidak terima dengan perkataan Eyang Alexander. Alexander meraih tangan Jova, menggenggamnya erat. Seolah meyakinkan Jova, kalau semua akan baik - baik saja walau seandainya Eyang tidak menyukai Jova.


"Eyang? suka atau tidak suka Eyang pada Jova, Alexander akan tetap menikah dengan Jova!" ucap Alexander pelan, tapi penuh penekanan.


"Kau harus berhati - hati Alexander! sekarang semua orang tau kalau kau adalah pewaris tunggal Group G! perusahaan swasta paling sukses di Indonesia. Akan banyak gadis - gadis yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta mu" ucap Eyang.


Tidak terhalang orang tua Alexander, apa mungkin cinta kami akan terhalang Eyang Alexander? batin Jova.


Air mata Jova menetes begitu saja. Tentu saja tidak luput dari pengawasan Alexander. Tapi Jova segera mengusapnya.


"Cukup Eyang! jangan bicara yang tidak penting. Alexander tau, mana yang pantas untuk Alexander dan mana yang hanya mengincar harta Papa!"


"Kau tidak pernah mengenal cinta sebelumnya, Alexander!"


"Aku tidak perlu mengenal cinta Eyang, aku sudah menemukan cinta yang aku tunggu bertahun - tahun dan itu lebih dari sekedar mengenal!" ucap Alexander tegas.


Eyang hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Alexander.


"Tidak akan!" ucap tegas Alexander, "kami permisi Eyang, kami harus kembali ke Indonesia"


Eyang tidak menjawab, Eyang hanya menatap sinis pada Jova. Jova yang di tatap pada akhirnya memilih menunduk.


"Permisi" ucap Jova pada Eyang saat Alexander menarik tangannya.


Mereka berjalan masuk ke rumah melewati ruang tengah. Alexander memeluk lengan Jova, mengecup pelipis Jova. Jova masih tertegun dengan kenyataan mengejutkan itu.


"Hai, kak Alexander!" sapa seorang gadis yang baru masuk rumah.


"Hemm" jawab Alexander.


"Kak, stop!" Alexander dan Jova berhenti.


Jova yang mulai tersadar, menatap gadis di depannya, yang terlihat seumuran dengannya. Dengan ukuran badan yang sama pula dengannya.


"Ini pasti yang namanya Jova?" tanya gadis itu dengan senyum manisnya.


"Iya" jawab Jova dengan senyum tak kalah manis.


"Benar kata kak Devan, kau cantik sekali!" ucapnya tulus, "aku Fellicya" menyodorkan tangan pada Jova.

__ADS_1


"Jova!" ucap Jova menyambut tangan Fellicya.


"Aku sudah tau, hehe"


Jova ikut tersenyum melihat Fellicya tersenyum lucu begitu.


"Kalian mau kemana? tidak menginap di sini?"


"Aku harus segera kembali ke Indonesia" jawab Alexander.


"Oh ya sudah!"


"Aku pergi dulu" ucap Alexander.


"Ok kak!"


"Sampai jumpa lagi Fellicya!" ucap Jova.


"Iya Jova, bye!" Fellicya melambaikan tangannya.


Semoga hanya Eyang yang harus ku kejar restunya, batin Jova.


Alexander berjalan ke mobil yang tadi di pakai untuk pulang ke rumah Eyang.


"Aku akan bawa mobil sendiri!" ucapnya pada pengawal yang berdiri di dekat mobil.


"Apa Tuan muda yakin?"


"Jangan banyak tanya! mana kuncinya!"


"Ini, Tuan Muda" Pengawal memberikan kunci mobil untuk Alexander.


"Ayo sayang!" ucap Alexander pada Jova.


Alexander membukakan pintu untuk Jova. Lalu dia memutari mobil untuk masuk ke pintu kemudi.




Duh Eyang, jangan pilih - pilih cucu mantu deh. hehe



Jangan lupa tinggalkan Like nya yaa..


Dan terima kasih buat teman - teman yang memberikan hadiah dan Vote nya.


__ADS_1


Salam Lovallena.


__ADS_2