
Matahari belum ada tanda - tanda akan terbit. Sepasang mata mengerjap menyadarkan diri dari tidurnya yang sempat terbangun karena haus. Dia menyalakan lampu kamar mewahnya menggunakan remote di laci nakas.
Lalu dia turun dan masuk ke walk in closet lanjut ke kamar mandi. Setelah membuang air kecil dan mencuci mukanya dia berjalan ke balkon apartemennya. Duduk sendiri menikmati pemandangan subuh di depannya yang terhalang kaca tembus pandang dari dalam apartemen, namun tak terlihat dari luar.
Sebatang rokok menyala ada di sela sela jarinya, sesekali di hisapnya. Dia memang merokok tapi tidak setiap hari. Hanya saat pikirannya teringat pada sosok yang di rindukannya tapi dia tidak mau mencari. Bukan tidak mampu atau tidak mau berusaha, tapi dia hanya percaya pada takdir Tuhan.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuatnya meletakkan rokok yang baru saja di hisapnya beberapa kali. Laki - laki itu berjalan menuju pintu utama kamar. Membukanya pelan dan memperlihatkan Jovanka dengan senyum ala pagi hari belum mandi.
"Ada apa?" tanya Alexander cuek.
"Aku mau mengambil baju kotor mu. Aku akan mencucinya"
"Memangnya kau mau mencuci bajuku?" tanya Alexander dingin.
"Mesin cuci yang mencucinya, bukan aku. Hehe" Jova meringis melihat Alexander yang tidak memunculkan senyum pagi hari.
"Ambillah!" Alexander kembali berjalan ke arah balkon. Membiarkan pintu kamarnya terbuka.
Jova masuk ke walk in closet di kamar Alexander. Mengambil tumpukan baju kotor. Lalu keluar membawa keranjang yang penuh dengan baju kotor Alexander. Sebelum keluar pintu kamar, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alexander. Terlihat pintu balkon terbuka, Jova yakin Alexander di sana.
Jova keluar dari kamar Alexander menuruni tangga menuju tempat mencuci baju. Setelah memasukkan semua baju kotornya dan baju kotor Alexander ke dalam mesin cuci, dia mengisi air hingga penuh di tambah sabun yang cukup banyak lalu menyalakan timer pencucian dan meninggalkannya ke dapur.
Di dapur Jovanka sudah memasak nasi dan mulai memasak untuk lauk sarapan. Hingga satu setengah jam kemudian semua pekerjaannya di dapur dan urusan cucian selesai tepat jam setengah tujuh pagi.
Dia masuk ke kamarnya untuk mandi dan mengganti bajunya. Merapikan rambut dan memakai make up tipis di wajahnya yang sebenarnya sudah cantik walau tanpa make up.
Setelah beres dengan urusan dirinya di kamar, Jova berjalan keluar menata masakannya di atas meja makan. Kemudian dia menaiki tangga menuju kamar Alexander.
Tok tok tok
"Alexander, sarapan sudah siap. Aku menunggumu di bawah!" ucap Jova sedikit berteriak.
"Iya!" sahut Alexander dari dalam kamarnya.
Jovanka kembali turun dan duduk di meja makan menunggu Alexander. 5 menit kemudian Alexander turun dengan pakaian rapi dan tentu saja terlihat sangat tampan.
"Selamat pagi" sapa Jovanka saat melihat Alexander berjalan menuju meja makan.
"Hemm" jawab Alexander duduk di samping Jovanka.
"Kau mau sarapan sekarang?" tanya Jova melihat Alexander di sampingnya.
"Minggu depan!" jawab Alexander melirik Jova. "Ya sekarang lah"
"Hehehe" Jova tersenyum kikuk. Lalu mengambil nasi untuk Alexander.
"Tumben kau rajin?"
__ADS_1
"Hari ini adalah hari ke - 4 aku di sini. Aku akan rajin mulai pagi ini" ucap Jova meletakkan lauk di piring Alexander.
"Apa hubungannya hari ke - 4 dan rajin?"
"Tidak ada" Jova tersenyum memperlihatkan gigi putihnya dengan tingkahnya yang bingung harus jawab apa. Dia hanya ingin melayani Alexander seperti benar - benar majikannya di sisa perjanjian mereka. Dia hanya tidak ingin menyesal menyia - nyiakan kesempatan bisa tinggal bersama seorang Alexander.
Setelah mereka selesai makan, Jova membereskan meja makan. Alexander masih duduk di meja makan memainkan ponselnya.
"Kau tidak berangkat ke kampus?" tanya Jova setelah selesai mencuci piring.
"Kau duluan saja!" ucap Alexander tanpa melihat Jova.
"Ok, aku harus ke kantor dulu!"
"Ingat! jangan terlambat, kalau kau terlambat hukuman mu 2 kali lipat!" ucap Alexander menatap tajam Jovanka.
"Siap pak dosen ku yang tampan!" Jova menyebikkan bibirnya dan berlalu pergi meniggalkan Alexander yang masih santai di meja makan.
# # # # # #
Jovanka sudah berada di kursi tertinggi setelah kursi ayahnya Saddam Barraq di perusahaan Group B. Dia menatap nanar pada berkas seseorang yang terlihat akan berkhianat padanya.
"Aku akan berusaha untuk tetap berdiri walau tanpa investor seperti mu. Aku akan mengikuti permainanmu! dan aku pastikan kau yang akan hancur!" ucap Jova penuh amarah.
Jova melempar berkas itu ke sembarang arah. Lalu dia keluar meninggalkan ruangannya menuju kampus.
# # # # # #
"Selamat pagi, pak Alex" sapa salah seorang dosen wanita.
"Hemm!" jawab Alexander cuek.
Dia sangat susah di dekati! batin dosen centil itu. Dia berjalan mengikuti langkah cepat Alexander.
"Pak Alex ada jam pagi?" tanyanya sok akrab.
"Hemm!" jawab Alexander lagi.
Yaa ampun!, batinnya lagi.
"Pak Alex, kalau ada waktu, bisa kita makan siang bersama? ada beberapa hal harus saya sampaikan kepada bapak"
"Tidak ada!" ketus Alexander.
"Pak Alex, saya tidak terlambat!" sapa Jova tersenyum girang berlari kecil mendahului Alexander di koridor kampus.
Alexander hanya menatapnya sinis, tanpa menjawab sapaan Jova.
__ADS_1
Yaa ampun dia tampan sih, tapi kenapa seperti batu lagi! batin Jova yang berlari kecil menuju kelasnya.
Siapa gadis itu? ada hubungan apa mereka? aku sering sekali melihat gadis itu keluar masuk ruangan Alex, batin dosen wanita yang berusaha berjalan beriringan dengan Alexander.
"Pak Alex ..." kalimatnya menggantung, karena di potong Alex.
"Maaf bu Julie, saya harus masuk kelas sekarang!" ucap Alexander tegas.
"Ehmm. Iya" jawab Julie kecewa. Aku harus mencari cara agar bisa dekat dengan dosen Alexander. batinnya.
Julie Vamana
Alexander langsung masuk ke kelas Jovanka di lantai dua. Dia memberi materi kuliah dengan sangat serius ala dosen Alexander yang tampan.
Sampai jam kuliah selesai para mahasiswa mengikuti dengan antusias. Tentu saja ada beberapa mahasiswi yang antusias karena bisa melihat dosen tampan tanpa curi - curi pandang. Jova kadang merasa malas dengan tingkah teman - temannya yang seperti itu.
Jova berjalan menuju kantin kampus. Dia berjalan di koridor kampus sendirian.
"Ikut aku!" suara bariton di samping Jova mengagetkan dia yang sedang berjalan sambil memainkan ponselnya.
"Kemana?"
"Ikut saja, jangan banyak tanya!" ucapnya ketus
"Iya! iya!" Jova berjalan di belakang laki - laki itu sampai di parkiran.
"Wow!! mobilmu baru?" setelah sampai di parkiran khusus dosen.
"Masuk!" jawab Alexander tanpa menjawab pertanyaan Jova.
Jovanka masuk ke mobil Alexander dengan penuh takjub pada mobil sport baru Alexander.
Masuknya mereka berdua ke dalam mobil Alexander tidak luput dari tatapan para mahasiswa di sekitarnya. Tak terkecuali sepasang mata laki - laki tampan.
Semoga dia benar - benar baik pada mu. Bukan karena suatu hal, batin Bayu.
"Sial! gadis itu bahkan di ajak masuk ke mobil Alexander!" gumam Julie pelan yang juga melihat kepergian mereka dalam satu mobil.
Hai Reader, jangan lupa tinggalkan Like atau komentar kalian ya..
Dan Terima kasih yang dengan ikhlas menekan vote untuk novel pertama aku ini..
Semoga rejeki kalian di lancarkan.. Aamiin.
__ADS_1
Salam Lovallena