
"Bukan tidak tidur," ucap Alexander, "Kau bangun, membuatku langsung ingin bangun" Alexander mengecup singkat bibir Jova. Jova tersenyum menatap muka bantal Alexander yang tetap terlihat tampan.
"Aku lapar!" ucap Jova.
"Kalau begitu, ayo kita makan!" Alexander melepas dekapannya.
"Mandi dulu dong!"
"Iya!"
Setelah mandi, mereka naik lift ke atas untuk makan di skypark.
Setelah menyantap hidangan lezat ala skypark, mereka menikmati indahnya malam di skypark. Melihat Singapura dari ketinggian.
Jova menghadap kaca pembatas, melihat indahnya Singapura, sambil menunggu Alexander yang sedang ke toilet.
Tiba - tiba sebuket bunga mawar merah di depan dadanya, dengan sebuah tangan yang memegangi dari belakangnya.
"Will You Merry Me?" gumam Jova membaca tulisan di buket bunga itu.
Jova langsung menoleh kebelakang. Terlihat Alexander dengan senyum menawannya, dengan satu group music yang menyanyikan lagu Marry You by Bruno Mars. Di barengi dengan tepuk tangan semua orang yang ada di sekitar mereka berdua. Semua orang tampak tersenyum dan berkata "Say Yes! Say Yes! say Yes!"
Jova menganga tak percaya, air mata bahagia menetes dari mata lentiknya. Jova langsung mengambil bunga yang di sodorkan Alexander. Mencium bunga itu beberapa saat, lalu melihat mata Alexander dan berkata "YES!" dengan sangat jelas. Tepuk tangan meriah bergemuruh di skypark. Bahkan petasan terdengar di bawah sana. Entah bagaimana bisa Alexander menyiapkan kejutan seperti itu.
Alexander menyematkan cincin berlian di jari manis Jova, yang sudah dia siapkan sejak beberapa minggu lalu, sebelum dia menjalani operasi tumor otaknya.
Alexander mencium kening Jova cukup lama, menyalurkan besarnya rasa cinta yang dia miliki untuk Jova. Kemudian memeluk erat tubuh Jova.
Jova masih meneteskan air mata bahagianya. Ingatannya kembali saat dia di hukum Dosen Alex yang menurutnya Dosen gila. Saat dia harus merasakan tamparan Dosen Julie karena dekat dengan Alexander. Dan sekarang dia di lamar Alexander dengan suasana seromantis ini. Kejutan yang liar biasa baginya.
Air mata Jova semakin deras tatkala beberapa orang menghampiri mereka dan mengucapkan selamat.
Jam 7 malam mereka menuju The Shoppes, mereka masuk ke toko perhiasan.
"Ini bagus sayang!" ucap Jova menunjuk sepasang cincin pernikahan.
"Kalau begitu ini saja!"
Setelah itu mereka menuju butik, memesan baju untuk acara pertunangan mereka. Dan membeli satu baju couple untuk acara lamaran nanti malam.
"Kenapa pesan di sini? tidak di Indonesia saja!"
"Ini butik langganan ku!"
"Oh!"
Setelah belanja barulah mereka kembali ke kamarnya. Merebahkan tubuh mereka setelah membersihkan diri sebelum tidur.
"Sayang, kapan kamu membeli bunga dan cincin ini?" tanya Jova.
"Saat kamu tidur tadi siang!" ucapnya, "kalau cincin sudah aku siapkan sebelum aku menjalani operasi"
"Oh!"
"Sekarang tidurlah, besok pagi kita pulang ke Indonesia"
"Iya, Sayang!"
Jova merebahkan kepalanya di dada Alexander dan kembali terlelap dalam dekapan hangat Alexander.
__ADS_1
Kali ini Alexander ikut terlelap bersama lelapnya tidur Jova.
# # # # # #
Pesawat pribadi berlogo Group G yang membawa Jova dan Alexander sudah mengudara menuju Indonesia. Dua anak manusia yang sedang di mabuk cinta tengah duduk di satu kursi.
Jova menyandarkan kepalanya di pundak kekasih hatinya. Alexander memeluk erat tubuh Jova di pangkuannya.
"Sayang, sepertinya pesawat pribadi milik Papa kamu ini tidak pernah istirahat ya?"
"Haha, iya sayang!"
"Sayang, ceritakan padaku, bagaimana perasaanmu ketika orang tua mu memutuskan kamu untuk tinggal di villa"
"Tentu saja, aku kecewa. Tapi sebelumnya aku sudah di bekali ilmu bisnis, tentang berbagai kemungkinan di luar dugaan. Sehingga aku merasa tidak masalah, tidak tinggal bersama orang tua. Mengingat Devander justru tidak pernah di rawat oleh orang tua sejak lahir"
"Apa kau pernah membenci mereka?"
"Tidak! bagaimanapun aku tau, tujuan mereka pasti yang terbaik untukku"
"Baguslah!"
Kini Alexander sudah mengemudikan mobilnya untuk mengantarkan Jova pulang. Di dalam mobil Jova terlihat sangat bahagia melihat jari manisnya. Yang kini tersemat cincin berlian randa cinta dari Alexander, sang pujaan hatinya.
# # # # # #
Menjelang malam Jova sudah di depan meja riasnya, Berdandan secantik mungkin, untuk menyambut kehadiran Alexander dan keluarganya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Hidangan makan malam sudah di siapkan di atas meja makan. Tentu saja hasil masakan tiga wanita di rumah itu. Ibu, Jova dan satu ART.
Pukul tujuh malam, suara ketukan membuat Ayah, Ibu dan, Tristan di ruang tamu segera berdiri.
"Selamat malam, Nyonya Saddam" ucap Papa.
"Ma..malam" jawab Ibu terbata - bata. Pandangan Ibu teralihkan pada dua laki - laki yang senyumnya sama persis.
Ibu Jova tertegun dengan kemiripan mereka. Ayah dan Tristan tak kalah shock ketika melihat wajah yang seolah tak ada bedanya. Bahkan tinggi mereka pun sama. Hanya bajunya saja yang berbeda.
"Kalian bagai pinang di belah dua!" ucap Ibu yang masih hanyut dengan kemiripan mereka.
"Ibu, kenapa diam saja, ajak masuk dong tamunya!"
"Eh, iya! maaf Tuan, Nyonya. Saya masih tidak percaya dengan kemiripan mereka" ucap Ibu dengan senyum manisnya. "Silahkan masuk!"
"Terima kasih" jawab Mama dan Papa bersamaan dengan senyum mengembang.
Mereka semua duduk, Jova masih di kamarnya menyempurnakan penampilannya.
"Tristan, panggil kakak mu!" ucap Ayah.
"Siap, Ayah!"
Tristan menaiki tangga memanggil kakaknya.
"Bagaimana Nyonya Saddam?" tanya Mama, "apa sudah bisa membedakan mana Alexander dan mana Devander!" lanjut Mama dengan senyum manisnya.
"Kalau sekarang sih bisa, karena Jova tadi memakai baju yang senada dengan baju yang ini. Untuk selanjutnya saya tidak tau!" Ibu Jova menunjuk Alexander.
Semua tertawa, karena memang mereka sangat mirip.
__ADS_1
"Apa Jova bisa membedakan kalian?" tanya Ayah.
"Saya tidak tau!" jawab Alex dan Devan bersamaan.
Semua kembali tertawa. Sampai akhirnya terlihat Tristan turun menggandeng Jova yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Heemm" gumam Devan melihat Jova.
"Jangan macam - macam!" ucap Alexander.
Devan tergelak dengan kelakuan kembarannya itu.
Kini mereka semua sudah duduk di sofa kursi tamu.
"Tuan Saddam dan Nyonya Saddam, maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar putri Tuan secara langsung," ucap Papa, "apa Tuan Saddam merestui jika putri Tuan menikah dengan anak saya yang bernama Alexander?"
"Untuk jawabannya, saya serahkan pada yang di lamar," ucap Ayah melihat Jova yang sedari tadi tampak senyum dan canggung.
"Bagai mana, Jova? apa Jova mau jadi menantu Mama?" tanya Mama Alexander.
"Saya mau menjadi menantu Mama dan Papa" jawab Jova dengan sedikit malu.
"Alhamdulillah" ucap semua bersamaan.
"Baiklah, karena sudah di terima mari kita makan malam bersama. Sudah di siapkan di meja makan," ucap Ibu, "Mari!"
"Wah, terima kasih Nyonya. Tidak perlu repot - repot seperti ini" ucap Mama yang duduk paling dekat dengan Ibu.
"Tidak apa - apa Nyonya. Tamu adalah Raja," ucap Ibu, "Oh ya, mulai sekarang jangan panggil saya Nyonya. Panggil nama saja. Nama saya Tania" ucap Ibu.
"Kalau begitu, jangan panggil saya Nyonya juga," ucap Mama, "nama saya Adelia"
"Hehe baiklah jeng Adelia" ucap Ibu, "ayo semua kita pindah ke ruang makan"
Semua berdiri, dan berjalan menuju meja makan. Jova dan Alexander memilih untuk berjalan paling belakang dan sejajar. Jova sedari tadi tidak bisa menahan rasa bahagianya. Alexander tau apa yang di rasakan Jova.
Semuanya sudah duduk, kecuali Jova dan Alexander. Semua menatap ke arah pasangan yang sedang jatuh cinta itu.
"Ayo kakak - kakak bucin cepat duduk. Aku sudah lapar!" seru Tristan.
"Tristan!" pekik Ibu, "tidak sopan ada tamu seperti itu!"
"Tida apa - apa," ucap Ayah, "itu tandanya Tritan tidak canggung dengan kami"
"Betul jeng Tania. Kami ini orangnya biasa saja. Jangan memandang kami berdasarkan berita yang beredar!" ucap Mama.
Semua menikmati hidangan makan malam yang di sediakan keluarga Jova. Setelah makan malam mereka kembali ke ruang tengah, dan sedikit berbincang untuk mengakrabkan diri masing - masing.
"Untuk acara pertunangan mereka, rencana saya akan di adakan seminggu lagi. Setelah Jova selesai ujian. Bagaimana, setuju?" ucap Papa di tengah - tengah perbincangan.
"Setuju!" semua kompak menjawab setuju.
"Kenapa tidak langsung menikah saja!" sahut Devan dengan senyum tak berdosa nya. Membuat semua menoleh pada Devan.
"Devander!" pekik Mama.
"Tunggu Jova selesai skripsi, setelah selesai skripsi barulah menggelar pernikahan" ucap Ayah.
"Oh begitu! sabar ya bro, sekitar setengah tahun lagi!" ucap Devan pada Alex, dengan senyum mengejeknya.
__ADS_1
Alexander terlihat menyebikkan bibirnya. Membuat semua di ruang tamu tertawa.