I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Singapura 1


__ADS_3

Jova menatap dalam mata Alexander, mencari arti dari tatapan mata Alexander pada bibirnya. Cinta kah? nafsu kah?. Tangan kanan Alexander meraih tengkuk leher belakang Jova, menariknya mendekat. Alexander memiringkan wajahnya. Seketika Jova menutup mata. Alexander menahan senyum lucu, sampai dia benar - benar tidak sanggup menahan tawanya.


"Haha, kenapa kau tidak menolak aku mencium mu?", Alexander tergelak.


Jova membuka matanya lebar, membulatkan matanya menatap tidak percaya pada Alexander yang tertawa.


"DASAR!", pekik Jova kesal. "Awas kau!", Jova memukul keras lengan Alexander.


Alexander masih cekikikan sendiri. Jova semakin kesal melihat Alexander.


"Menyebalkan!", teriak Jova sambil mendorong pundak Alexander.


Jova hendak berdiri, tapi kedua tangan Alexander lebih cepat menguncinya.


"Lepas!", pekik Jova berusaha melepas kedua tangan Alexander.


Sayang sungguh sayang tenaga Jova kalah telak dengan tenaga Alexander.


"Maafkan aku sayang", ucap Alexander menyandarkan kepalanya di punggung Jova yang membelakanginya. "Aku hanya bercanda", masih ada sisa gelak tawa.


"Kau selalu saja menyebalkan!", ucap Jova kesal. "Lepas!".


Sebenarnya Jova senang saja dengan apapun perlakuan Alexander. Hanya saja dia merasa terlalu murahan jika tidak sedikitpun memberontak.


Jova masih berusaha memberontak, Alexander semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di perut Jova.


"Jangan berdiri, aku mohon sayang. Lihat aku!", Alexander memutar tubuh Jova menyamping.


Tapi Alexander kembali tergelak manakala melihat wajah Jova. Jova semakin kesal dibuatnya.


"Lepaskan aku! Dasar batu!", umpat Jova menahan kesal.


"Maaf nona, maafkan hamba", ucap Alexander mencium pipi Jova menggunakan hidung mancungnya, dan membiarkan hidung itu menempel di pipi kanan Jova.


"Sekarang kau boleh tanya lagi? aku tau di otakmu masih banyak pertanyaan", ucap Alexander yang masih menempelkan hidungnya di pipi Jova.


"Kita mau ke mana?"


Alexander mengangkat kepalanya menatap intens wajah cantik Jova yang ada sisa goresan kaca mobil. Lalu tersenyum manis pada Jova.


"Kita akan menghilangkan bekas lukamu ini", menunjuk bekas goresan di wajah, tangan dan kaki Jova.


"Maksudmu ke Singapura?", tanya Jova menatap Alexander tak percaya.


"Iya sayang! kenapa ekspresi mu seperti itu?", Alexander mentoel hidung Jova.


"Tapi aku belum ijin sama ayah dan ibu. Bagaiman kalau mereka menungguku?", tanya Jova panik.


"Aku sudah menghubungi ayahmu tadi", ucap Alexander santai.


"Kau tidak berbohong?", Jova mencari kebenaran di mata Alexander, tapi tidak menemukan.


"Untuk apa aku berbohong", menatap mata Jova. "Aku sudah minta ijin membawa mu ke Singapura selama satu minggu".


"Apa!", pekik Jova. "Satu minggu?", tanya Jova uang di angguk i Alexander. "Lama sekali".


"Kau akan menjalani perawatan yang tepat. Aku punya kenalan dokter yang hebat di sana".


"Oh, Ok!", Jova mengangguk. "Tapi bagaimana kau bisa punya nomor ponsel ayahku?".


Alexander hanya mengangkat kedua pundaknya sambil tersenyum.


"Apa ayah tidak marah?"


"Tidak, bahkan dia mengizinkan aku membawamu kemana pun aku mau"

__ADS_1


"Bohong!", Jova memukul dada Alexander.


Alexander tergelak, dia semakin gemas dengan Jova.


"Kenapa kau tidak bilang kita di Singapura satu minggu? aku tidak punya baju ganti", ucap Jova menyandarkan lengannya di dada kiri Alexander.


"Setelah kita sampai, kita langsung jalan - jalan dan belanja sepuas mu".


"Kau yakin?", melirik Alexander.


"Iya", jawab Alexander yakin.


Sampai pesawat pribadi yang membawa mereka berdua siap mendarat di Bandara Internasional Changi, Jova duduk di pangkuan Alexander.


Pesawat pribadi itu bersiap untuk landing, barulah mereka duduk sendiri - sendiri dan memakai sabuk masing - masing.


Jova dan Alexander turun dari pesawat dengan bergandengan tangan. Dan di sambut oleh beberapa orang berpakaian hitam yang mengarahkan jalan untuk menuju mobil yang sudah di persiapkan untuk Alexander. Alexander ingin mengemudikan sendiri mobilnya.


Mereka menuju pusat perbelanjaan di Marina Bay sands. Mereka belanja baju dan kebutuhan untuk satu minggu di Singapura.


Alexander yang mendominasi belanjaan Jova. Membelikan Jova banyak sekali baju, sepatu dan tas juga kebutuhan lainnya. Yang justru membuat Jova merasa jengah. Dia memang suka belanja, tapi tidak berlebihan seperti itu. Tapi Alexander yang justru antusias membelikan Jova ini dan itu.


"Perutku lapar", ucap Jova menyilangkan tangan di dadanya.


"Oke, aku bayar dulu belanjaan kamu itu"


"Itu belanjaan mu, bukan belanjaan ku", Jova tidak terima, karena dia hanya memilih sedikit.


"Tapi kan untuk mu", jawab Alexander


Alexander mengikuti SPG yang membawa belanjaan mereka. Alexander membayar hingga ratusan juta. Tapi bagi seorang Alexander uang bukan masalah.


Setelah membayar, Jova hendak mengambil paper bag yang jumlahnya cukup banyak. Tapi baru mengangkat satu paper bag, sudah lebih dulu di ambil dua orang berpakaian hitam yang entah dari mana datangnya.


"Suruhan ku", ucap Alexander menarik tangan Jova untuk keluar dari toko itu.


"Tapi dari mana datangnya mereka? aku tidak melihat menghubungi seseorang", tanya Jova penasaran.


"Turun dari langit", jawab Alexander asal lalu tersenyum jahil melirik Jova.


"Ish!", Jova memukul lengan Alexander.


Mereka masuk ke restoran mewah, yang membuat Jova jadi lapar sungguhan. Padahal tadi hanya alasan agar Alexander berhenti memilihkan baju dan lain - lain untuk Jova.


Jova memesan satu menu dan satu dessert. Alexander mengikuti pilihan Jova.


Tidak butuh waktu lama bagi Jova menghabiskan pesanannya. alexander yang biasanya makan dengan santai kali ini mengikuti gerakan makan cepat cepat ala Jova.


Setelah selesai makan, Alexander merasa lucu dengan yang dia lakukan.


# # # # # #


"Kau ingin tinggal di rumah orang tua ku yang ada di sini atau di hotel saja?", tanya Alexander saat sudah berjalan keluar dari restoran.


"Orang tua mu punya rumah di sini?"


"Mama ku campuran Indonesia - Singapura"


"Oh, kalau aku mau menginap di hotel saja boleh tidak?"


"Why Not?", ucap Alexander melirik Jova di sampingnya.


Jova tersenyum manis pada Alexander. Alexander membawa Jova menuju hotel yang menjadi icon Singapura.


Mereka sudah sampai di pintu masuk hotel Marina Bay Sands.

__ADS_1



Mereka masuk dengan bergandengan tangan. Alexander memesan dua kamar Sands Suite.


Ternyata dia memesan dua kamar, batin Jova tersenyum.


Alexander kembali menggandeng tangan Jova menuju kamar mereka.


"Ini kamar mu, kamar ku di sebelah", ucap Alexander menunjuk kamar di sebelahnya.


"Ok, makasih", ucap Jova tersenyum.


Saat Jova hendak masuk ke kamarnya, dua orang berpakaian hitam menghampirinya.


"Nona, ini belanjaan anda", ucap salah seorang dari mereka.


"Oh iya, sebentar", Jova membuka pintu kamarnya. "Letakkan di sini saja pak", ucap Jova menunjuk dalam kamarnya yang dekat dengan pintu.


Setelah meletakkan belanjaan Jova mereka segera pergi dari kamar Jova. Jova mengunci pintu, lalu mengambil paper bag, melihat semua isi paper bag.


"Alexander benar - benar gila sepertinya. Untuk apa baju sebanyak ini? harganya mahal - mahal pula", gumam Jova mengambil satu persatu bajunya. Dan masih banyak lagi pernak pernik untuk Jova.


Jova lalu masuk ke kamar mandi, untuk mandi dan mengganti bajunya. Lalu berbaring di tempat tidur yang paling nyaman di hotel itu.


Di kamar Alexander melakukan hal yang sama.


# # # # # #


Menjelang malam Alexander mengetuk pintu kamar Jova. Tidak butuh lama Jova langsung membuka pintu.


"Sebentar ya, aku baru selesai mandi", ucap Jova menuju meja riasnya.


Alexander hanya mengangkat kedua alisnya lalu duduk di sofa. Dia memperhatikan Jova yang sedang menyisir rambutnya. Lalu sibuk memainkan ponselnya.


Setelah selesai menyisir rambut Jova langsung menghampiri Alexander dan duduk di sampingnya.


"Kita makan malam dimana?", tanyanya antusias.


"Kau mau makan dimana?"


"Di luar dong, sambil menikmati jalanan Singapura saat malam", ucap Jova tersenyum manis pada Alexander. "Bagaimana?"


"Baiklah", ucap Alexander. "Mulai besok pagi kita ke dokter, siangnya kau bisa istirahat atau jalan - jalan kalau kau mau. Dan malamnya kau kembali jadi mahasiswi"


"Apa!", Jova menatap Alexander. "Aku pikir kita akan perawatan dan berlibur saja di sini", ucap Jova cemberut.


"Ingat, kau berlibur dengan dosen mu. Selama di sini aku akan jadi dosen pribadimu".


Jova memanyunkan bibirnya malas.




Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar ya teman - teman.


Dan mohon dukungan untuk novel pertama Author ini.



Terima kasih,



Salam Lovallena.

__ADS_1


__ADS_2