
Rakha pergi meninggalkan ruangan boss nya dengan menahan kesal. Bagaimana tidak, boss nya yang jatuh cinta, dia yang repot menyatukan mereka kembali, sampai harus memenuhi syarat Indira. Dan sekarang pun sepertinya Rakha bisa menebak rencana Jova.
Pasti gadis sialan itu yang memohon pada Nona Jova! awas saja kau! batin Rakha sepanjang perjalanan ke ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya.
# # # # # #
"Sayang? apa Rakha itu benar - benar playboy?" tanya Jova pada Alexander.
"Kenapa?"
"Jawab saja!" ucap Jova yang masih bermanja - manja di pangkuan Alexander.
"Dia memang suka gonta - ganti pacar, tapi bukan Casanova seperti Devander!"
"Lalu?"
"Rakha hanya mencari teman jalan dan makan saja"
"Maksudnya gimana sih?"
"Yaa dia hanya berpacaran atau sekedar dekat, tanpa pernah berjanji akan menikahi perempuan - perempuan yang dekat dengannya. Dan Rakha itu masih perjaka! dia sama sepertiku, tidak akan tega mengambil apa yang bukan atau belum menjadi haknya secara sah"
"Apa!" pekik Jova.
"Iya, gaya pacarannya hanya sebatas ciuman, dan meraba ini saja!" ucap Alexander tersenyum sambil meremas dengan gemas buah dada Jova bagian kiri.
"Ah!" pekik Jova dengan senyum malu - malu.
"Hahaha!" tawa Alexander, "Sayang, jelaskan padaku, kenapa kamu tiba - tiba meminta Rakha yang membeli nasi goreng di Cafe temanmu itu?" Alexander yang ahli membaca bahasa tubuh, merasakan ada rencana di balik keinginan Jova kali ini.
"Hehe, Sayang sebenarnya aku ingin menjodohkan Rakha dengan Indira" ucapnya, "apa kamu setuju kalau aku menjodohkan mereka?"
"Apa alasannya? kenapa kamu harus menjodohkan mereka?"
"Sebenarnya Indira cerita padaku, saat dia sedang bersama Rakha, dia merasa berada pada tempatnya walau pun Rakha galak katanya"
"Galak? apa mereka pernah bertemu?"
"Aku mau ikut Devan ke Singapura itu karena bujukan Indira, dan ternyata Rakha yang meminta bantuan Indira untuk membujukku. Lalu Indira mengajukan syarat pada Rakha untuk mengajaknya nonton dan shopping. Rakha menyanggupi. Dan waktu aku di Singapura Indira meminta bantuan ku untuk menagih janji pada Rakha, tapi waktu itu aku tidak paham. Untung ada Devan waktu itu, dia langsung nyambung yang di maksud Indira"
"Emm.. kalau begitu aku setuju!" jawab Alexander setelah berfikir beberapa saat.
__ADS_1
"Aaah.. terima kasih, Sayang!" Jova mencium sekilas bibir Alexander. "Kau tau Sayang? baru kali Indira berusaha mengejar laki - laki. Biasanya dia yang di kejar - kejar"
"Apa Indira juga playgirl?"
"Tidak! dia hanya dua kali menjali cinta. Saat SMA, baru menjalin hubungan satu bulan kekasihnya kecelakaan dan meninggal. Dan terakhir dia suka dengan seseorang di kampus, tidak lama setelah jadian dia di putuskan. Karena ternyata Indira hanya di jadikan pelarian."
Alexander mengangkat kedua alisnya mengerti.
"Jadi bantu aku untuk mendekatkan mereka ya Sayang?" ucap Jova, "karena Rakha kan hanya nurut sama kamu"
"Tidak masalah" ucap Alexander santai, "hanya saja, apa kamu yakin Indira bisa menaklukkan seorang Rakha Leonard?"
"Aku yakin pasti bisa!" ucap Jova yakin, "kamu saja yang sekeras batu dan sedingin salju jatuh ke tanganku yang tidak pernah jatuh cinta! hihi"
"Haha! iya juga ya!" Alexander tergelak, "kalau begitu aku akan membantumu"
"Terima kasih, Sayang!"
Alexander tidak menjawab, dia mengeratkan tangan kirinya yang memegangi pinggang Jova. Tangan kanannya meraih leher Jova sebelah kiri, dan menariknya untuk melakukan ritual yang selalu mereka lakukan setiap kali bertemu.
Apalagi kalau bukan berciuman, bertukar saliva, dan saling menyalurkan besarnya cinta mereka. Tangan kanan Alexander sudah berpindah tempat. Menyelinap ke dalam rok Jova yang berwarna putih itu. Meraba lembut paha mulus Jova, sampai pada bok*ng Jova. Alexander memijat lembut bok*ng Jova yang tertutup CD.
Ciuman mereka masih berlangsung dengan dekapan erat Jova di leher Alexander. Setelah puas bermain - main dengan bok*ng dan paha Jova, Alexander kembali menutup paha Jova dengan roknya. Lalu pindah menyelinap masuk ke dalam baju Jova, memijat pelan perut rata Jova. Lalu naik ke bagian yang pasti menjadi favorit setiap laki - laki. Hanya saja nyali Alexander terlalu kecil untuk menikm*ati benda kenyal yang kini berada di tangannya. Alexander tak berani melepas pengait ataupun menyelinap ke dalam br* Jova.
Lenguh Jova manakala rema*san Alexander berhasil menciptakan hawa panas di tubuhnya. Keduanya masih menutup mata mereka, sesekali merubah posisi kepala mereka.
Tok Tok Tok . . .
Ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka, yang sedang saling menarik hasrat di antara keduanya. Alexander melepaskan ciumannya dengan lembut. Lalu keduanya tersenyum karena ciuman mereka terganggu oleh ketukan pintu. Jova merapikan rambut dan bajunya yang sedikit acak - acakan.
"Masuk!" ucap Alexander setelah memastikan Jova kembali berpenampilan sempurna.
"Maaf, Tuan Muda" ucap Lisa setelah membuka pintu, Lisa tidak melanjutkan kalimatnya, justru menelan ludahnya saat melihat pemandangan di depannya.
Baik Jova maupun Alexander tidak ada yang melihat ke arah pintu. Jova masih melingkarkan tangan di leher Alexander, dan Alexander melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jova. Mereka masih saling tatap dengan senyum yang masih tersisa.
Merasa Lisa tak kunjung bicara tujuannya mengetuk pintu, Alexander menoleh ke arah pintu. Dan terlonjak kaget begitu melihat di belakang Lisa ada calon mertuanya, alias Ayah Jova yang sedang menatap mereka.
"Sayang! Ayahmu!" ucap Alexander pelan.
"What!" seketika senyum Jova hilang, dan mengerutkan keningnya panik.
__ADS_1
Jova ragu untuk menoleh, dia tidak tau harus berkata apa pada Ayahnya. Dia malu dengan posisinya yang saat ini berada di pangkuan Alexander. Jova menoleh pelan ke arah pintu, dan spontan berdiri manakala dengan jelas pandangan mata mereka bertemu.
"Ayah?" sapa Jova dengan senyum kikuknya.
Terlihat Lisa menahan senyum melihat ekspresi Jova yang bingung dan kikuk kepergok sang Ayah sedang bermesraan. Alexander pun tak kalah salah tingkah. Dia segera berdiri begitu Jova berdiri.
Ayah menatap heran pada anak dan calon menantunya itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ayahnya. Tatapan ayahnya begitu sulit di artikan oleh Jova.
"Tuan Muda, Tuan Saddam dari Group B ingin bertemu" ucap Lisa.
"Iya! keluarlah!" ucap Alexander yang masih salah tingkah.
"Baik, Tuan Muda" jawab Lisa, "silahkan masuk, Tuan Saddam" ucap Lisa pada Ayah Jova.
Ayah Jova mengangguk pelan dan melihat Lisa yang seolah masih menahan senyum. Lisa keluar, dan Ayah Jova berjalan pelan masuk ke ruangan Alexander, mendekati kursi di depan meja kerja Alexander.
"Silahkan duduk, Om" ucap Alexander yang masih berusaha menguasai dirinya.
Ayah tidak menjawab, dia hanya mengangkat kedua alisnya. Lalu duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja Alexander. Alexander kembali duduk begitu juga Jova yang ikut duduk di kursi samping Ayahnya. Alexander meletakkan kedua tangannya di atas meja, kegugupan masih menguasai dirinya. Dia menatap calon mertuanya dan calon istrinya bergantian.
Ayah melihat Jova di sampingnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Jova membuang mukanya, tidak tau harus berbuat apa.
Sepertinya aku nanti pulang ke apartemen saja, bagaimana kalau ayah cerita pada Ibu dan Tristan? ah, mereka pasti mengomel bersama, batin Jova.
"Ayah, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Jova memberanikan diri tanpa berani menatap mata Ayahnya.
Ayah tidak menjawab, lalu berpindah melihat Alexander yang seketika membuat Alexander menunduk dan menelan salivanya dengan sangat susah. Ayah Jova masih belum bicara sedikitpun. Menatap bergantian dua anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
Gini nih, mentang - mentang kantor sendiri! hehe
Enaknya Ayah di buat marah atau nggak ya?
Tinggalkan Like dan Komentarnya ya teman - teman.
Terima kasih yang sudah memberikan hadiah dan vote nya.
__ADS_1
Salam Lovallena.