I LOVE YOU DOSEN!

I LOVE YOU DOSEN!
Cerita


__ADS_3

Setelah selesai jam kuliah Jova berjalan di koridor sendirian menuju kantin kampus.


"Jova!"


Jova menoleh ke sumber suara di belakangnya.


"Hai!" jawab Jova setelah tau siapa yang memanggilnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Indira yang sudah berjalan di samping Jova.


"Kantin, lapar!"


"Eh, sama. Ayolah!"


Mereka sudah memesan makanan dan minuman. Lalu membawanya ke salah satu meja di sana.


"Jova, nanti malem kau datang ke cafe ku ya? Aku ada menu baru, kau harus coba!" ucap Indira di sela makan siang mereka.


"Sepertinya tidak bisa ndi," ucap Jova.


"Kenapa?" tanya Indira penasaran.


"Aku terjebak sama si dosen simil itu!" ucap Jova malas.


"Dosen simil? apaan simil?"


"Similikiti!"


"What?" Indira mengerutkan keningnya. "Hahahaha!" tertawa kemudian.


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Lucu sekali julukan mu pada dosen setampan dia. hahaha", Indira masih saja ingin tertawa.


"Kau tidak tau saja seperti apa dia sebenarnya!"


"Yang aku tau, dia tampan dan rupawan sayangnya dingin bagai patung es!" Indira mendekap tubuhnya bagai kedinginan. "BTW terjebak padanya seperti apa yang kau maksud?"


"Huftt!" Jova membuang nafas beratnya. "Setelah makan aku akan cerita panjang lebar. Butuh tenaga ekstra untuk bercerita."


"Okelah, cepat habiskan makanan mu!" perintah Indira. Dia tidak sabar ingin mendengar cerita tentang dosen tampan itu.


10 menit kemudian mereka sudah menghabiskan makanan dan minuman mereka. Jova mulai bercerita. Indira tampak bersemangat mendengar cerita Jova. Mahasiswi mana yang tak antusias mendengar cerita tentang dosen tampan.


"Kemarin aku mengikutinya, sepertinya dia tau kalau aku mengikuti mobilnya. Entah dia sengaja atau tidak, dia mengendarai mobilnya dengan mode gas rem gas rem gitu. Dan aku reflek mengikuti mode mobilnya, alhasil mobil aku nabrak mobilnya dia. Dan kau tau?" Jova tampak menarik nafas berat lalu membuangnya.


"Apa?" tanya Indira yang dari tadi penasaran.


"Dia membawa ku ke restoran super mewah VIP room. Menyuguhi ku makanan yang asli nikmat. Lalu minta ganti rugi mobilnya 150 juta!. Kau bayangkan saja. Perusahaan ku saja sekarang sedang kritis. Jangankan 150 juta 50 juta saja aku pasti keberatan," Jova memanyunkan bibirnya.


"Siapa suruh kau menabrak mobil mewah. Terus?"

__ADS_1


Jova menarik nafas, lalu membuangnya pelan.


"Ayolah Jova! percepat cerita mu itu!"


"Heh! aku punya paru - paru jadi aku juga harus bernafas," Jova bersungut - sungut.


"Tch!!" Indira memiringkan bibirnya.


"Lalu dia memberiku pilihan untuk jadi pembantunya selama satu minggu."


"Apa!" teriak Indira


"Pelan kan suaramu Indiiii!" ucap Jova menepuk pundak Indira.


"Lalu kau mau jadi pembantunya?"


"Kalau kau jadi aku apa yang kau pilih? bayar 150 juta atau jadi pembantu nya?"


"Jadi pembantunya lah!" ucap indira yakin.


"What?" Jova mengerutkan dahinya.


"Jova ku yang cantik, mana ada si yang menolak walau jadi pembantunya. Kalaupun aku punya uang 150 juta, pasti aku tetap memilih jadi pembantunya. Kapan lagi bisa punya majikan tampan," ucap Indira melihat Jova dengan senyum merekah.


"Aku rasa bukan hanya dosen itu yang gila. Tapi kau juga gila!"


"Haha Jova.. Jova! Kau sih tak pernah jatuh cinta. Mangkanya tidak bisa membedakan mana laki - laki yang berbobot dan mana yang gak ada bobot!"


"Dilihat saja kelihatan kalau dia itu berasal dari bibit yang tidak sembarangan. Jadi tidak mungkin ada cewek yang menolaknya walaupun umurnya sudah banyak sekalipun."


"Lalu?" Jova mengerutkan keningnya.


"Huh! sudahlah!" ucap Indira menepuk keningnya sendiri. Bicara soal cinta pada Jova tidak akan ada habisnya. "Sekarang kau ceritakan, kau ke rumahnya setiap hari atau bagaimana?"


"Aku harus tinggal di apartemennya satu minggu penuh!"


"Haaa!" Indira kaget.


"Dan kau tau, ternyata apartemennya di lantai 25 di gedung apartemen yang sama denganku."


"Oh my God!, kau tidak salah cerita kan Jova?" tanya Indira seolah tak percaya.


"Apa aku terlihat berbohong?"


"Brarti kau tinggal di berdua dengannya di apartemennya?"


"Ya iyalah!" ucap Jova.


"Keenakan dong kau!"


"Ke enakan?" Jova tampak berfikir.

__ADS_1


"Kau bisa melihat wajah tampannya setiap hari!"


Iya sih. Aku suka melihat wajahnya yang tampan setiap saat. Di tambah kenyataan - kenyataan yang membuat ku terkejut. Semakin membuat ku ingin lebih jauh mengenalnya. Tapi tidak mungkin kan aku mengatakan pada Indira kalau aku bangga bisa masuk ke apartemen dosen tampan itu, batin Jova.


Setelah melamun dia tersenyum kecil. Indira melihat senyum Jova yang tidak biasa.


Aku rasa kau akan jatuh cinta padanya. Siapa yang tahan untuk tidak jatuh cinta pada laki - laki yang nyaris sempurna itu, batin Indira. Dia melihat Jova dengan senyum penuh arti.


"Hey! jangan membayangkan yang tidak - tidak! aku ada kelas sebentar lagi. Kau pulang atau mau disini menunggu pangeran mu selesai memberi kuliah?" ucap Indira menggoda Jova.


"Pangeran?" Jova tampak berfikir.


"Siapa lagi pangeran mu kalau bukan dosen tampan Alexander!" ucap Indira berbisik di telinga Jova. Tersenyum menggoda Jova lalu beranjak pergi.


"Apaan sih!" ucap Jova. Tapi wajahnya bersemu merah.


Jovanka berdiri lalu berjalan menuju gerbang. Dia menyebrang jalan lalu masuk ke gedung perkantoran itu.


# # # # # #


"Mau apa kau kemari!" tanya Rakha ketus.


"Bukan urusanmu!" jawab wanita di depannya tak kalah ketus. "Dimana dia?"


"Hehm!" Rakha tersenyum mengejek. "Uangmu habis?"


"Aku bilang bukan urusanmu. Jangan ikut campur!"


"Hahaha Aku ingatkan padamu. Jangan bermain api kalau kau tidak mau terbakar!" ucap Rakha tersenyum sinis.


"Diam! katakan padaku dimana dia?"


"Carissa.. Carissa! kau berkoar di mana mana kalau kau mencintainya. Tapi kau hanya mencarinya saat uangmu habis. Apa kau yakin kau waras?"


"Diam kataku!"


"Siapa kau berani menyuruhku diam?" Rakha menatap Carissa dengan penuh amarah.


"Hey! kau itu hanya anak pungut! jangan macam - macam denganku!" ucap Carissa penuh penekanan.


"Hahahaha kalau aku anak pungut lalu kau apa?" ucap Rakha sinis. "Kau bahkan hanya bisa menghabiskan uangnya. Tanpa berguna sama sekali untuknya. Bahkan dia saja enggan di sentuh oleh tangan kotor mu itu!" ucap Rakha tersenyum miring.


Carissa merasa kalah telak. Kalau di hadapan bawahan lainnya dia masih bisa sombong. Tapi kalau depan Rakha sebenarnya dia tidak berkutik. Karena dia yakin, Rakha tau semua rahasia yang dia sembunyikan.


"Siapapun kau, tetap saja kau bawahan!" ucap Carissa mencoba menutupi kegugupannya.


"Apa kau bodoh! jika Presdir dan CEO tidak ada di kantor, jabatan ku tertinggi di sini. Siapa pun yang aku perintahkan pasti menurut pada perintahku!" ucap Rakha penuh penekanan.


Kepercayaan diri Carissa mulai sedikit tumbang. Karena dia pun tau kalau Presdir Group G pun sangat mempercayai seorang Rakha Leonard. Mengingat Rakha anak asisten presdir yang meninggal saat bertugas.


"Angkat kaki dari tempat ini secara terhormat, atau security yang akan menggeret mu keluar dari tempat ini secara tidak hormat!" ucap Rakha tegas. Tampak matanya memancarkan kebencian.

__ADS_1


__ADS_2