
Alexander mengemudikan mobilnya membelah keramaian jalanan Singapura. Mereka baru saja selesai makan malam di tempat yang di tunjuk Jova.
Kebetulan Jova sudah beberapa kali ke Singapura, jadi dia sudah mengenal Singapura sebelumnya. Dia juga selalu menginap di Marina Bay Sands, hanya saja dia dna keluarganya selalu menyewa kamar tipe deluxe Room.
Alexander mengemudikan mobilnya menuju hotel. Sebelum ke hotel, dia lebih dulu mengajak Jova untuk menikmati malam di Singapore Flyer. Karena lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel.
Dia pernah juga mendatangi Singapore Flyer. Hanya saja dia belum pernah mencobanya. Dia memang ahli bela diri, dan tidak takut untuk berhadapan dengan siapapun. Tapi dengan ketinggian yang mencapai 165 meter itu membuat nyalinya menciut begitu saja.
"Untuk apa kita kesini?", tanya Jova curiga. Dia malu mengakui kalau dia takut ketinggian.
"Mencoba itu!", menunjuk kapsul pengamatan tertinggi di dunia.
"APA!", pekik Jova mulai panik.
"Kenapa? kau takut?"
Jova tidak menjawab, dia hanya melirik Alexander sambil memanyunkan bibirnya.
Alexander membayar tiket untuk mereka berdua. Mereka masuk dengan beberapa orang lainnya. Kaki Jova maju mundur untuk masuk. Alexander tersenyum lucu dengan tingkah Jova.
"Ada aku, jangan takut. Kau bisa mencakar atau menggigitku kalau kau takut", ucap Alexander menyakinkan Jova.
Jova menatap mata Alexander, hingga akhirnya dia masuk. Dia duduk bersebelahan dengan Alexander. Tangan kanannya tak lepas sedikit pun dari lengan Alexander.
Kapsul mulai bergerak. Jova semakin erat memeluk lengan Alexander. Dia menempelkan wajahnya di lengan Alexander. Kapsul bergerak pelan ke atas mengikuti arah jarum jam.
"Kau lihat, Singapura sangat indah saat malam. Kau juga bisa melihat kota Batam dari sini. Malaysia pun bisa kau lihat", ucap Alexander mencoba membuat Jova tertarik membuka matanya.
"Lebih baik aku naik pesawat 18 jam dari pada setengah jam naik ini", ucap Jova tanpa merubah posisi.
"Apa bedanya?"
"Karena benda ini bergerak melingkar, dan memperlihatkan jelas keadaan di bawah sana!", ucap Jova menahan kesal, membuat Alexander tersenyum lucu.
Orang di sekitar ada yang tersenyum melihat tingkah Jova.
"Kau tau, orang - orang melihat aneh padamu", ucap Alexander pelan.
"Kenapa? kau malu?", ucap Jova kesal. "Kalau kau malu kenapa mengajak ku kesini? sudah tau aku takut!"
"Aku tidak malu sama sekali", Alexander menyandarkan kepalanya pada kepala Jova di lengannya. "Aku hanya takut kau yang malu".
Jova hanya menggeleng, jengah dengan bujukan Alexander. Tubuhnya bergetar saat kapsul bergerak, Alexander menyadari itu. Ada rasa bersalah sudah memaksa Jova menaikinya.
Akhirnya Alexander menemukan ide, dia memindahkan rangkulan tangan Jova di lengannya ke perutnya. Lalu merangkul pundak Jova, menyandarkan kepala Jova di dadanya. Setelah beberapa saat dia mengangkat dagu Jova, menghadapkan wajah Jova untuk melihat matanya.
"Buka matamu, lihat mataku", ucap Alexander pelan.
"Tidak!"
"Buka pelan - pelan saja"
Akhirnya Jova membuka sedikit matanya, menatap mata Alexander.
"Lihat tangan kiri ku!", ucap Alexander menunjukkan tangan kiri Alexander yang dekat dengan kaca kapsul, yang memperlihatkan keindahan 3 negara.
Jova melirik sedikit tangan kiri Alexander. Mata Jova terbelalak melihat keindahan di bawah sana.
"Ya Tuhan, Indah sekali!", Jova menganga melihat keindahan dari dalam kapsul saat hampir mencapai puncak lingkaran.
Jova berdiri mendekati kaca yang tidak ada kursi. Dia tampak terkagum - kagum dengan keindahan yang dia lihat di depan matanya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bilang kalau seindah ini!", Jova memukul keras lengan Alexander yang mengikuti Jova berdiri.
Seketika orang - orang yang tadi melihat ketakutan Jova, sekarang kembali tersenyum melihat tingkah Jova yang seperti anak kecil. Alexander melirik kanan - kiri, bingung harus berekspresi seperti apa.
Andai saja aku bisa menghilang. Ucap Alexander dalam hati.
Jova mengeluarkan ponselnya, dan menyerahkan pada Alexander.
"Foto aku cepat! mumpung kita berada di puncak lingkaran", Jova bergaya di samping kaca.
Alexander mengambil gambar Jova sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Sampai mereka keluar dari kapsul yang membawa mereka, Jova tampak bahagia.
Alexander menggandeng tangan Jova ke mobilnya. Alexander membuka pintu mobil untuk Jova. Jova langsung mengeluarkan ponselnya. Membuka galery dan melihat foto - fotonya. Fotonya sendirian dan ada juga fotonya bersama Alexander.
Alexander sudah duduk di belakang kemudi, melirik ponsel Jova. Dia menggelengkan kepala dengan tersenyum kecil.
"Sok sok an takut, giliran sudah melihat indahnya Singapura, tingkahmu seperti anak kecil", ucap Alexander.
"Hehehe tau begitu dari dulu aku akan naik. Pantas saja setiap kesini Tristan pasti minta naik itu", Jova tersenyum lucu mengingat kekonyolannya.
"Kau tau?",
"Apa?", tanya Jova menoleh pada Alexander.
"Aku tadi rasanya ingin menendang ****** mu itu!", Alexander tersenyum geli.
"Apa!", Jova kaget bukan kepalang.
"Kalau saja kau bukan Jovanka, pasti sudah ku kantongi", ucao Alexander.
Jova menganga tak percaya.
"Kau pikir saja sendiri!", Alexander tertawa.
Jova justru tersenyum lucu dan geli mengingat kelakuan nya tadi.
"Besok jangan terlambat, kau harus bangun pagi. Kita ke dokter", ucap Alexander di depan kamar Jova.
"Siap boss!", ucap Jova.
# # # # # #
Jam 8 pagi Jova sudah bersiap dengan pakaian rapi dan mengunci kamar hotelnya, mengetuk pintu kamar Alexander. Alexander keluar dengan pakaian santainya. Mereka sudah sarapan di kamar masing - masing.
Alexander melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dimana kenalannya praktek setelah membuat janji sebelumnya.
Jam 12 siang mereka keluar dari rumah sakit. Mereka berjalan menuju mobil Alexander.
"Kau mau makan dimana?", tanya Alexander pelan.
"Bagaimana kalau kita Universal Studio, dan makan siang di sana saja?", tawar Jova. "Boleh?".
"Tentu saja nona, kita berangkat"
Mereka menghabiskan siang hingga sore di Universal Studio.
Jova terlihat sangat bersemangat menghabiskan hari bersama Alexander. Menjelang malam mereka kembali ke hotel.
"Kita makan malam dulu di sini", ucap Alexander menggenggam tangan Jova menuju restoran di hotel.
"Ok", Jova menurut saja.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing - masing. Jova berendam di bathub dan Alexander mandi tanpa berendam.
Tok Tok Tok
Alexander membuka pintu kamarnya setelah baru saja mengganti baju.
"Ini pesanan tuan"
"Hemm", Alexander menerima pesanannya pada suruhannya.
"Permisi tuan", ucap seorang laki - laki berpakaian hitam.
Alexander mengunci pintu kamarnya, dan mengetuk pintu kamar Jova. Karena tidak ada jawaban Alexander langsung masuk ke kamar Jova.
Alexander mendengar suara percikan air di kamar mandi, membuat dia yakin Jova masih mandi. Dia menunggu Jova di sofa sambil membuka tas yang dia pesan dari suruhannya.
Jova keluar dari kamar mandi, langsung menuju almari dengan hanya memakai handuk kimono dan handuk kecil di kepalanya. Dia sama sekali tidak menyadari ada Alexander di sofa. Alexander memperhatikan setiap gerak gerik Jova.
Dengan percaya diri dia memilih baju dan melepas handuk kimono nya dan memakai pakaian dalam terlebih dahulu lalu bajunya. Alexander menutup matanya dengan buku yang dia pegang.
Bagaimana pun aku adalah laki - laki normal, melihat seperti ini tentu saja membuat juniorku bangkit. Sial!. Ucap Alexander dalam hati.
Setelah berpakaian lengkap barulah Jova berbalik, dia terlonjak kaget begitu melihat Alexander menutup wajahnya dengan buku.
"Aaaakkkhhh!!!!! sejak kapan kau di situ!", teriak Jova.
"Aku tidak melihat!"
"Tidak mungkin!", Jova menarik buku yang di pakai Alexander.
Alexander melihat Jova yang seperti sedang kebakaran jenggot. Lalu menerbitkan senyum manisnya.
"Aku hanya melihat sedetik", ucap Alexander dengan ekspresi kikuk.
"Kenapa kau masuk tanpa ijin dari ku!", ucap Jova kesal.
"Aku sudah mengetuk pintu mu, tapi tidak ada sahutan. Jadi aku masuk saja, salah sendiri tidak mengunci pintu. Jadi bukan salahku kalau aku dapat bonus melihat tubuhmu", Alexander tersenyum.
"APA! bonus? dasar dosen mesum!", umpat Jova.
Alexander tersenyum menarik tangan Jova pelan, tapi di tepis Jova. Tapi Alexander tidak begitu saja menyerah. Dia menarik pelan pinggang Jova, dan mendudukkan Jova di pangkuannya.
"Jangan cemberut, kalau kau tidak terima aku pernah melihatmu telanjang. Kau bisa minta pertanggung jawaban padaku. Aku akan bertanggung jawab", ucap Alexander lembut.
"Kalau aku mau kau menikahi ku apa kau mau? karena kau satu - satunya laki - laki yang sudah melihat tubuh ku!", ucap Jova kesal.
"Dengan senang hati nona. Tapi tidak sekarang", ucap Alexander dengan tatapan serius pada Jova.
Jova menatap mata Alexander yang terlihat tulus mengatakan itu.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar teman - teman yaa.
Dan juga vote novel ini ya.
Terima kasih,
Salam Lovallena.
__ADS_1