
Samuel mendapat telpon dari ayahnya. Ia begitu girang saat ayahnya berkata telah mendapatkan titik terang tentang korban dari insiden 13 tahun silam.
"Sorry sorry."
Saking senangnya Samuel melompat dan tak sengaja menabrak Zahra yang sedang menuju kelas.
Zahra semakin malu, orang-orang semakin memperhatikannya dengan Samuel. Zahra teringat ungkapan hati Samuel waktu kemarin dan merasa bingung bagaimana cara menghadapi Samuel kedepannya.
"Selamat pagi Samuel."
Sapa si Melati dengan gaya centilnya.
"Selamat pagi cantik."
Balas Samuel tapi melirik Zahra saat kata cantik keluar dari mulutnya.
"Ayo."
Zahra menarik Melati masuk ke kelas.
Seharian Samuel menjaga jarak pada Zahra. Zahra merasa bersyukur karena akhirnya Samuel mengerti dengan perkataannya kemarin.
Tapi itu pemikiran Zahra. Samuel menjaga jarak padanya bukan karena perkataan Zahra kemarin. Tapi dia tidak mau Zahra merasa malu dan menjadi omongan di kampus. Makanya Samuel akan mengejar Zahra dan membuktikan cintanya dengan caranya.
__ADS_1
...
"Ra, aku punya kabar baik."
Kata Melati saat kelas selesai.
"Apa? bukan pria tampan barukan?" ejek Zahra.
"Ich apaan sih, bukanlah. Asal kamu tahu di hatiku dan mataku tak ada pria tampan lagi selain Sultan."
"Sungguh? apa kalian sudah jadian?"
"Belum, bukan itu yang aku maksud kabar baik. Mulai malam ini, dalam seminggu ke depan aku akan menemanimu di rumah gedung mu itu. Karena orang tuaku sudah pulang dan akan berangkat minggu depan lagi."
Kata Melati, Zahra benar-benar mendengar kabar baik. Akhirnya walau hanya seminggu tapi ada juga yang menemaninya di rumah sepinya itu.
...
Melati yang sedang memilah-milih pakaian yang akan dia bawah ke rumah Zahra, mendengar handphonenya berbunyi. Itu suara khusus notifikasi pesan dari Sultan.
Melati langsung meninggalkan kesibukannya lalu mengambil handphonenya.
"Assalamualaikum, lagi apa?"
__ADS_1
Sultan yang sedang bersantai di taman belakang rumahnya mengirim chat itu ke Melati yang sebenarnya Melati mengaku sebagai Zahra.
"Waalaikumsalam, lagi duduk santai aja nih, kamu?"
Tidak butuh waktu lama bagi Melati membalas chat Sultan.
"Kok sama yah? aku juga lagi duduk santai."
Balas Sultan.
"Mungkin jodoh😊."
Melati yang ganjen dan ceplas ceplos itu tidak menyadari kalau dia sedang berperan sebagai Zahra yang tidak mungkin bisa mengeluarkan kata seperti yang bisa dia katakan.
Melati memukul kepalanya karena saat mau menghapus pesan itu dia malah sudah mengirimnya.
Sultan yang membaca pesan Melati menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Mungkin saja, Allah memang menciptakan hambanya berpasangan. Dan mungkin kita salah satu pasangan itu." Balas Sultan.
Melati melompat girang saat membaca balasan Sultan, namun sedetik kemudian dia duduk mematung.
"Ini untuk Zahra, dia tidak mengatakannya padaku. Lagian salahku sendiri kenapa dari awal aku tidak mengatakan kalau aku bukan Zahra tapi Melati." gumam Melati.
__ADS_1
Melati memukul kepalanya karena merasa bego.
Awalnya Melati hanya iseng mengirim chat pada Sultan tanpa menulis namanya. Tapi Sultan malah bertanya dan mengira dirinya adalah Zahra. Dan berakhir membuat Melati yang berkecil hati mengatakan iya saja. Dan sekarang chat mereka berlanjut, dan kesalahpahaman semakin jauh. Sepertinya!