
Samuel duduk di kursinya dengan lesuh.
"Bagaimana agar kamu percaya jika aku sungguh mencintaimu?"
...
"Ini makan siang dari pak Samuel."
Seorang karyawan meletakkan makanan di meja Zahra.
"Terima kasih."
Zahra yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya tidak menghiraukan makanan itu.
"Apa islam tidak menjelaskan kalau tidak boleh menyia-nyiakan makanan?"
Samuel yang sengaja melewati ruangan Zahra berkata di luar ruangan.
Zahra melirik makanan di mejanya lalu berkata "Aku akan memakannya."
__ADS_1
Zahra membuka kotak makan yang terhias dengan sangat unik itu.
"Apa perlu melihatku menghabiskannya?" Tanya Zahra saat melihat Samuel masih berdiri memperhatikannya disana.
"Tidak, selamat makan." Samuel pergi dari sana dan kembali ke ruangannya.
Isabel yang tidak sengaja melihat Samuel begitu memperhatikan Zahra merasa semakin kesal dan cemburu.
"Waktunya ma..." Vano yang datang dengan membawa dua kotak makan ditangannya terkejut mendapati Isabel sedang menangis.
"Hei kamu kenapa lagi?" Tanya Vona lalu meletakkan makanan yang dia bawa.
"Kamu diam dulu oke. Nanti aku akan bicara pada Samuel, sekarang kamu makan dulu."
"Benarkah? kamu akan bicara pada Samuel?" Isabel menatap Vano dengan girang.
"Iya, tapi sekarang kamu makan dulu oke."
Isabel segera melahap makanannya, dia terlihat sangat imut dimata Vano dengan tampilan apa adanya yang hanya dia tampakkan pada Vano saja, jika di depan orang lain, Isabel selalu tampak feminim untuk menjaga image, tapi saat bersama Vano entah kenapa Isabel merasa tidak perlu menjaga image namun selalu bersikap bebas dan apa adanya.
__ADS_1
...
"Apa kamu menyukai mahasiswi itu?" Tanya Vano pada Samuel.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Samuel dibuat bingung dengan sepupunya yang tiba-tiba menanyakan urusan pribadinya dan itu pun saat jam kerja.
"Kamu tahukan, sejak kecil Isabel sudah menyukaimu, dan dia bela-belain menjadi sekertaris ku di sini hanya untuk bisa selalu dekat denganmu." Kata Vano.
"Lalu kenapa? perasaan tidak bisa dipaksakan, kamu sendiri lebih tau itu dari pada aku." Kata Samuel yang membuat Vano bertanya.
"Apa maksudmu? disini aku membahas kamu dan mahasiswi itu bukan aku dan Isabel." Vano merasa Samuel sengaja menyinggung perasaannya.
"Akuin saja jika kamu selama ini mencintai Isabelkan? tapi kamu tidak mau memaksakan perasaanmu itu karena menyadari Isabel tidak mencintaimu juga. Begitupun dengan aku. Aku tidak mencintai Isabel jadi tolong berikan pengertian padanya jika dia tidak bisa memaksakan perasaannya padaku." Kata Samuel yang membuat Vano terdiam karena merasa yang dikatakan Samuel memang benar. Tapi Vano tidak bisa terus-terusan melihat air mata Isabel, baginya tidak perlu mendapatkan balasan cinta Isabel asalkan dia bisa melihat Isabel bahagia.
"Aku memang mencintai Zahra, dan harus kamu tahu jika kami sudah saling kenal sebelum dia magang disini." Sambung Samuel yang membuat Vano terkejut.
"Apa dia juga mencintaimu? maaf, tapi bukankah dia seorang muslim?" Tanya Vano.
"Memang kenapa jika dia seorang muslim apa itu penting?" Tanya Samuel tidak menyadari jika itu memang merupakan hal yang sangat penting yang kini jadi pertimbangan Zahra sehingga Zahra menghindarinya.
__ADS_1
"Itu tentu sangat penting, mungkin kamu tidak mempermasalahkannya jadi tidak memikirkannya, tapi coba kamu pikirkan, aku rasa Zahra pasti masih belum menjawabmukan? itu karena dalam ajarannya dia tidak bisa bersama dengan pria yang berbeda keyakinan dengannya." Perkataan Vano membuat Samuel kini mengerti kenapa selama ini Zahra selalu menghindarinya bahkan setelah yang kedua kalinya dia mengungkapkan perasaannya.