
Dering alarm membangunkan gadis berbalut mukenah yang tertidur di atas sajadah itu. Dia sangat sulit tidur, hingga memilih berdzikir Sampai matanya terpejam entah kapan.
"Ya Allah! Sudah subuh."
Zahra, melepas mukenanya . Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah lalu kembali mengambil wudhu.
Zahra kemudian memakai kembali mukenanya. Lalu berjalan ke arah ruang sholat keluarga. Terdengar suara adzan sang ayah angkat. Disana sudah ada Laras, ibu angkatnya yang menyambutnya dengan senyum teduhnya.
Zahra merasa sangat beruntung dan semakin bersyukur atas apa yang Allah berikan padanya.
'maafkan hamba yang sempat mengeluh pada-MU!' batinnya beristighfar
...
Wajah gadis itu tidak lagi bimbang seperti malam tadi. Entah dari mana dia merasa mendapat kekuatan fisik maupun mental saat ini. Zahra meyakinkan hatinya untuk berkata jujur pada Samuel. Dan mencoba musyawarah dengan pria itu untuk masalah hati mereka.
"Bismillah!" Ucapnya melangkah memasuki ruangan kerjanya.
Zahra, melirik ke arah ruangan Samuel. Terlihat sepi, sepertinya orangnya belum datang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Isabel mengetuk pintu ruangan Zahra.
"silahkan masuk." ucap Zahra, mempersilahkan.
"Hai Zahra!" sapa Isabel lembut untuk pertama kalinya pada gadis yang sempat ia benci.
"Hai! Tumben Bu Isabel yang kesini?" tanya Zahra.
"Jangan terlalu formal begitu. Oh yah, ini aku mau minta tolong pada kamu. Tolong atur ulang semua jadwal meeting Samuel hari ini. Dia tidak masuk kantor soalnya."
Perkataan Isabel refleks membuat Zahra berdiri dari duduknya dan menghampiri Isabel yang berdiri di seberang meja kerjanya.
"Emm sepertinya tidak. Semalam dia minum terlalu banyak hingga tak sadarkan diri. Awalnya Vano hanya membawanya ke apartemennya untuk istirahat. Tapi, menjelang dini hari. Samuel bangun dan muntah da_rah. Jadi sekarang..."
"Astaghfirullah. Di_dia dimana sekarang? bagaimana keadaannya?"
Tak bermaksud menyela dan tidak sopan. Tapi Zahra begitu terkejut dan refleks memotong ucapan Isabel.
"Kamu tenang dulu, ok! Samuel sudah baikan. Untungnya Vano menemaninya di apartemen. Jadi pas Samuel muntah darah, Vano segera membawanya ke rumah sakit. Dokter sudah menanganinya." ucap Isabel mencoba membuat Zahra tenang. Terlihat sekali dari pancaran mata Zahra, kalau dia sangat khawatir.
__ADS_1
"Ini aku hanya menyampaikan hal ini. Terus mau ke rumah sakit. Kalau kamu mau ikut aku bisa menunggu kamu selesai mengatur ulang meeting Samuel. Lalu, kita berangkat bersama." lanjutnya.
Isabel bukan tidak peka. Zahra pasti ingin memastikan keadaan Samuel. Tapi mungkin dia akan urung ke rumah sakit jika hanya berangkat sendiri.
"Bu Isabel tidak keberatan nungguin aku?" tanya Zahra sedikit tidak enak hati.
"Tentu tidak! Dan sudah aku katakan, jangan begitu formal padaku." Isabel menarik kursi disana dan meletakkan bokongnya.
"Terima kasih!"
Zahra langsung gerak cepat melakukan tugasnya. Dia tidak enak membuat Isabel menunggu lama.
Untunglah para klien Samuel tidak rewel. Jadi, Zahra bisa dengan cepat mengatur ulang jadwalnya. Sebenarnya sih lebih ke membatalkan jadwal ini hari. Dan berkata akan mengatur ulang saat Samuel sudah kembali sehat.
"Sudah selesai?" tanya Isabel memastikan saat Zahra mengemas laptop dan handphonenya ke dalam tas.
"Sudah emm mba!" jawab Zahra sedikit kikuk, karena harus berpikir panggilan apa yang harus ia sematkan pada Isabel.
Isabel tersenyum dan mengangguk. Kedengarannya panggilan 'mba' terdengar enak di telinganya.
__ADS_1