
Esok harinya, Kevin yang bersi keras untuk dibawa pulang, akhirnya di izinkan oleh Laras. Kevin akan melakukan perawatan di rumah saja.
"Nak Sultan tidak masuk dulu?" Tanya Cahaya.
Sultan ikut mengantar Kevin sampai di rumahnya.
"Tidak tante, terima kasih. Aku harus kembali dan melihat adikku." Jawab Sultan sopan.
Sejak kemarin, Sultan tidak pulang dan dia sangat merindukan Zahra.
"Kalau begitu tante dan om sekali lagi mengucapkan terima kasih. Hati-hati di jalan, titip salam buat Zahra."
Cahaya bersama Yoga merasa sangat menyukai Sultan. Sikapnya yang baik, penuh perhatian dan lemah lembut serta tutur katanya yang sopan membuat kedua orang tua Melati merasa senang karena putrinya memilih pria yang sempurna.
"Kalau begitu saya permisi om, tante, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kedua orang tua itu hendak memasuki rumah, namun tersenyum melirik Melati yang masih berdiri disana.
"Aku pulang dulu." Ucap Sultan pada Melati.
"Hati-hati." Balas Melati dengan canggung, karena orang tuanya masih terus tersenyum jahil padanya.
Sultan meninggalkan rumah Melati dan bergegas pulang.
...
__ADS_1
Baru saja Sultan memarkir mobilnya, Sebuah mobil hitam juga datang.
"Bajingan itu, buat apa dia kesini."
Sultan bukan pria yang mudah emosi dan kasar. Namun saat melihat, jika pengemudi mobil itu adalah pria yang telah menculik adiknya, tentu siapa pun akan sangat marah.
"Apa yang kamu lakukan kesini?"
Tanya Sultan menahan kepalan tangannya yang terasa tak sabar ingin menonjok Samuel.
"Aku ingin bertemu kalian semua dan meminta maaf, terutama pada Zahra."
Jawab Samuel tak merasa takut sedikit pun meski melihat dari sorot tajam mata Sultan pria itu masih sangat marah.
"Jangan berani menyebut nama adikku lagi."
Kepalan tangan Sultan hampir saja mendarat di wajah tampan Samuel yang terlihat sama sekali tidak ingin menghindar.
Namun suara Zahra menghentikan gerakan tangan Sultan.
Sultan dan Samuel melihat Zahra yang berjalan menghampirinya.
"Kakak sudahlah, bukankah dia datang dengan baik-baik? lalu apa begini sikap tuan rumah menyambut seorang tamu?" Ucap Zahra.
"Tamu? dia itu bukan tamu, tapi..."
Perkataan Sultan dipotong oleh Zahra.
__ADS_1
"Tolong kak!" Pinta Zahra, membuat Sultan menghempaskan kepalan tangannya.
"Cepat selesaikan urusanmu dan segeralah pergi dari sini." Ucap Sultan pada Samuel.
"Kakak!" Ayo silahkan masuk."
Zahra menegur Sultan, lalu mengajak Samuel masuk ke rumahnya.
Zahra melangkah duluan, kemudian Sultan dan Samuel menyusul.
"Silahkan duduk dulu."
Ucap Zahra lalu hendak ke dapur.
"Tidak perlu repot. Kakak kamu benar, aku tak layak di anggap tamu, aku kesini hanya ingin meminta maaf pada kalian semua secara langsung. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengusikmu lagi." Ucap Samuel.
Laras yang menuruni tangga mendengar permintaan maaf tulus Samuel.
"Kami sudah memaafkan kamu. Zahra juga sudah memberikan pengertian pada tante yang awalnya sangat marah. Tapi setelah mendengar penjelasan Zahra, tante mengerti. Meski kamu memang berbuat salah, tapi itu tidak sepenuhnya karena kesalahan kamu. Iyakan sayang?"
Ucap Laras, lalu melihat Zahra.
Zahra, baru saja menjelaskan pada Laras penyebab Samuel menculiknya. Itu karena Samuel ingin memisahkan Zahra dari Sultan yang tadinya dia kira kekasihnya.
Zahra hanya tunduk sambil mengangguk.
"Mah, bukankah mama sama marahnya denganku pada pria ini? lalu kenapa mama tiba-tiba berubah pendapat?" Tanya Sultan.
__ADS_1
"Sayang, Samuel tidak sepenuhnya salah. Apalagi sekarang dia kesini untuk minta maaf. Zahra sudah menjelaskan pada mama jika..."
Laras mulai menjelaskan hal sebenarnya pada Sultan. Dari Zahra yang mengatakan pada Samuel jika Zahra dan Sultan adalah kekasih. Dan kesalah pahaman Samuel saat melihat keduanya masuk ke rumah Zahra hingga malam hari.