Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 35


__ADS_3

"Siap?"


Tanya Sultan sambil turun dari mobil.


"Siap!"


Jawab Melati dengan sedikit malu. Jujur saja saat ini jantungnya berdegup sangat kencang.


"Kak yang antar aku ke sekolah siapa?"


Teriak Kevin sambil berjalan keluar.


"Ups ya ampun, aku lupa."


Melati memukul jidatnya, karena saking semangatnya mau ke rumah Zahra dan bertemu orang tua Sultan sekaligus orang tua baru Zahra, dia melupakan jika dia harus mengantar adiknya ke sekolah.


"Ayo aku antar." Ucap Sultan yang langsung disetujui Kevin.


"Huh untung saja calon kakak ipar tidak seperti kak Melati." Gumam Kevin yang membuat Melati kesal.


"Memangnya kenapa dengan kakak?" Tanya Melati kesal.


"Yah seperti yang saat ini terlihat. Seperti... ibu tiri." Ucap Kevin lalu masuk ke mobil Sultan.


"Eh dasar bocah resek." Ketus Melati lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sultan hanya tersenyum melihat adik kakak yang seperti kucing dan tikus itu.


Seandainya bisa mengundur waktu, dia juga mau kembali ke umur Kevin yang bisa bermain, bercanda dan bertengkar dengan adiknya Zahra.


Sultan masih sangat sedih jika memikirkan masa kecil adiknya yang tidak sempurna itu. Dimana seharusnya anak kecil seperti Zahra saat itu, bisa mendapat kasih sayang dari orang tuanya bahkan dirinya sebagai kakak. Tetapi malang, Zahra tidak mendapatkan hak itu.


Berbeda dengan dirinya yang ditakdirkan bertemu dengan Laras dan Gibran, yang memberinya semua kasih sayang dan perhatian di dunia.


Sultan mengemudikan mobilnya menuju sekolah Kevin yang kebetulan searah dengan rumahnya.


"Terima kasih kak Sultan. Hati-hati di jalan, terutama sama..." Kevin sengaja menggantung kata-katanya.


"Dasar, sana pergi, belajar yang benar." Ketus Melati pada adiknya yang memang sangat suka menggodanya.


Kevin kemudian tertawa dan berlari memasuki sekolahnya.


"Ah, tidak. Aku hanya iri dengan kalian." Ucap Sultan memudarkan senyumannya.


"Iri? pada kami? maksud kamu aku dan bocah nakal itu?" Tanya Melati.


"Iya, kalian sangat beruntung, meski orang tua kalian sibuk, tapi itu demi masa depan kalian dan pastinya kalian masih memiliki orang tua. Berbeda dengan aku dan Zahra, terlebih Zahra yang malang itu. Dari kecil dia hanya hidup berteman sepi seorang diri. Tidak ada orang tua ataupun saudara nakal seperti Kevin yang akan menggodanya."


Berkata sampai disitu Sultan berhenti, dia tidak tau bagaimana menggambarkan perasaan kasian dan bersalahnya pada adiknya, Zahra.


Melati kemudian melihat ke arah sekolah dan melihat Kevin yang sedang ngobrol dengan temannya.

__ADS_1


"Iya, aku memang jauh lebih beruntung. Meski bocah itu sering membuatku marah, tapi aku tau dia hanya menggodaku dan dia sangat menyayangiku. Aku pun sangat menyayanginya." Ucap Melati sambil terus memandang adiknya dari jauh.


Sultan tersenyum, dia tau yang Melati katakan tulus dari hatinya. Sesering apa pun saudara bertengkar, mereka tetap saudara yang saling menyayangi dan terikat oleh ikatan darah.


...


"Naiklah, itu kamar Zahra, aku ada urusan sebentar." Ucap Sultan sambil menunjuk kamar kedua dari lantai atas.


"Kamu mau kemana?" Tanya Melati.


"Ke..." Sultan tidak mengatakannya tapi hanya memegangi perutnya.


Melati yang mengerti jika Sultan ingin ke toilet merasa sangat malu dan menyesal karena terlalu kepo.


Melati naik ke lantai atas dan memasuki kamar Zahra.


"Hei sayangku. Bagaimana keadaan kamu?"


Melati memeluk Zahra yang masih baringan di atas kasur.


"Alhamdulillah, baik. Hanya agak lemas saja. Dimana kak Sultan?" Tanya Zahra sambil berusaha untuk bangun dan bersandar di tepi tempat tidur.


Melati membantu menyandarkan kepala Zahra, dan menjawab dengan malu.


"Toilet." Ucap Melati pelan.

__ADS_1


Zahra yang melihat sisi malu-malu Melati yang selama ini dia kenal sangat bawel, centil, ceplas-ceplos, dan bar-bar itu, tersenyum melihat sisi baru sahabatnya itu yang terlihat lucu dimatanya.


__ADS_2