Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 101


__ADS_3

Zidan dan Melati mengernyitkan alisnya.


"Alifa waktu itu? Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zidan.


"Iya, dua hari yang lalu kami tidak sengaja bertemu di taman." jawab Arsyad. Kemudian pria itu berpikir, 'Alifa sedang membantu aunty'nya di dapur? Apa Zahra ada disini?' batinnya bertambah semangat. Dia kira, Zahra tidak akan datang malam ini.


Datang? Yap, Arsyad belum tahu kalau Zahra tinggal serumah dengan Zidan. Entah kalau sudah tahu. Bisa-bisa tiap hari tiap malam pria itu akan main kesana dengan berbagai alasan.


"Oh, jadi paman di taman yang menawarkannya es cream waktu itu adalah kamu? Haha, Kamu tahu Ar, Alifa mengejek kamu tidak peka. Katanya kamu nawarin dia es cream yang kemudian Zahra tolak karena dia sudah makan es cream waktu itu. Kamu tahu Alifa bilang apa? begini, 'harusnya biar aunty menolak, paman itu tetap belikan Ayifa es klim. Kan bica buat di yumah makannya. Dacar paman tidak peka!' haha"


Zidan tertawa terbahak-bahak mengingat Alifa yang waktu itu berceloteh tentang seorang paman yang menawarinya es cream namun tidak dibelikan hanya karena Zahra berkata Alifa sudah makan es cream waktu itu. Parahnya, paman itu adalah Arsyad, sahabatnya.


Arsyad jadi salah tingkah. Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidaklah gatal. Benarkah dia mendapat cap 'paman tidak peka' oleh Alifa? Haduh, harus di sogok nih Alifa. Untung Arsyad tadi juga membeli beberapa es cream. Berguna juga buat ngilangin julukan sih Alifa padanya.


"Sudah, ayo ke dalam. Zahra pasti sudah selesai menghidangkan menu makan malamnya."

__ADS_1


Melati memukul pelan bahu Zidan yang masih saja tertawa.


...


Arsyad tak hentinya mencuri lihat ke arah Zahra yang sedang menyuapi Alifa. Gadis gemoy itu sangat semangat menghabiskan makanannya, agar bisa segera memakan es cream pemberian Arsyad. Ternyata, berhasil juga si Arsyad menghapus gelar 'paman tidak peka' pemberian Alifa.


Dan Zahra, gadis itu tentu tidak ikut makan berhubung ada pria yang bukan mahramnya disana. Begitu pun dengan Melati.


Ribet memang kalau wanita bercadar!


'Apa Arsyad tertarik pada Zahra?' batin Zidan. Sejak tadi, dia selalu memergoki Arsyad yang mencuri lihat ke arah adiknya.


...


Arsyad terlihat termenung mendengarkan bagian terakhir cerita Zidan.

__ADS_1


'Sungguh sulit menjadi Zahra!' batinnya antara kagum dan prihatin.


Sedang, Zahra kini baru makan malam bersama Melati. Alifa sudah sibuk di kamarnya membuka mainan yang Arsyad bawa di temani seorang pelayan.


"Bagaimana pendapat kamu mengenai Arsyad?"


Pertanyaan Melati, membuat Zahra hampir tersedak.


"Apa maksudnya?" tanya gadis itu bingung.


"Yah, pendapat kamu tentang Arsyad. Tampankah? Baikkah? Tajirkah? Sempurnakah? Cocokkah ...?"


"Cocok apa? semua yang kamu katakan barusan mah pendapat kamu pribadi kan? Awas nanti aku aduin kak Zidan."


"Eh, jangan! Meski pun semua itu memang hasil penilaian aku. Tapi, Mas Zidan tidak kalah dari semua itu kok di hati aku. Hanya Mas Zidan yang ada disini." ujar Melati sambil menunjuk arah hatinya berada.

__ADS_1


"Buruan katakan bagaimana menurutmu?" lanjut Melati.


"Tidak bagaimana-bagaimana. Biasa saja!" sahut Zahra. Dia tentu mengerti maksud pertanyaan Melati. Tapi, rasanya dia malas menanggapi.


__ADS_2