
Samuel berdiri dan melangkah mendekati Zahra.
"Baiklah, perusahaan tentu akan menerima mahasiswi pintar sepertimu, selamat bergabung di perusahaan kami."
Kata Samuel sambil mengulurkan tangannya ke depan Zahra untuk berjabat tangan.
"Terima kasih."
Kata Zahra tanpa membalas jabatan tangan Samuel.
"Oh maaf."
Samuel menarik tangannya dan teringat jika seorang muslim tidak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenisnya dengan sengaja.
"Mari aku tunjukkan ruangan mu."
Samuel membuka pintu ruangannya dan membuat Vano yang dari tadi berusaha menguping di pintu hampir terjatuh.
"Sudah selesai bos? mari nona saya akan mengatur tempat anda."
Tanya Vano pada Samuel lalu mengajak Zahra mengikutinya.
Zahra baru saja akan mengikuti Vano, tapi dihentikan dengan suara dingin Samuel.
"Nona, panggil dia Zahra. Dan tidak perlu mengatur tempatnya lagi, aku sudah menempatkannya sebagai pengganti Luna."
__ADS_1
Vano belum sempat merespon, Samuel sudah memasuki ruang sekertaris dan mau tak mau di ikuti oleh Zahra.
"Apa? seorang mahasiswi magang di tempatkan sebagai sekertaris?"
Vano bingung dengan keputusan Samuel kali ini, biasanya dia selalu mencari sekertaris yang sudah sangat profesional tapi sekarang hanya seorang mahasiswi.
"Pak, di bawah ada wanita yang mencari bapak, katanya namanya Isabel dan sudah buat janji dengan bapak." Lapor seorang karyawan pada Vano yang membuat Vano memukul jidatnya.
"Ya ampun, bagaimana ini?"
Vano merasa sakit kepala saat ini, tadinya Samuel memintanya secepat mungkin mencari sekertaris buatnya, tapi saat orang yang dia temukan datang, Samuel sudah menempatkan Zahra sebagai sekertaris nya.
Vano yang sedang pusing berlari menuruni anak tangga dan melupakan jika disana ada lift.
"Hai, selamat pagi."
"Selamat pagi."
Balas Isabel, sedikit bingung kenapa Vano ngos-ngosan begitu.
"Maaf, Samuel sedang sibuk, mari ikut ke ruanganku dulu."
Vano membawa Isabel ke ruangannya, sebenarnya Isabel adalah teman masa kecilnya dan Samuel.
"Ok!"
__ADS_1
Isabel mengikuti Vano ke lantai atas dengan menaiki tangga.
"Apa sedang ada perbaikan disini?" Tanya Isabel yang mulai capek menaiki tangga.
"Hah, kenapa?" Tanya Vano bingung.
"Aku bilang apa ada perbaikan? liftnya rusak?" Ulang Isabel.
"Astaga, aku di buat bodoh oleh Samuel itu."
Batin Vano sambil memukul jidatnya lagi karena baru sadar jika dia benar-benar di buat bodoh karena memikirkan Samuel sampai lupa jika ada lift dan sekarang malah membuat Isabel menaiki tangga bersamanya.
"Hehe, tidak ada perbaikan, liftnya baik-baik saja tapi aku sedang olahraga mumpung masih pagi. Apa kamu kelelahan? kamu pake lift saja."
Vano kini benar-benar terlihat bodoh dimata Isabel, yang benar saja jika Isabel ditawari naik lift sekarang sedang tinggal 2 anak tangga lagi mereka sudah sampai di depan ruanggan Vano.
"Tidak perlu, aduh kakiku."
Isabel yang sudah sangat akrab dengan Vano membuka pintu ruangan Vano sendiri lalu duduk di sofa yang ada disana sambil memijit kakinya.
"Maaf, pegel yah? sini aku pijitin."
Vano duduk di lantai dan memijit pelan kaki Isabel.
Isabel yang sudah biasa bersikap manja kepada Vano juga tidak sungkan saat Vano memijit kakinya.
__ADS_1
Vano memijit lembut kaki ramping Isabel, jantung Vano berdegup kencang, dia telah lama jatuh hati kepada Isabel. Tapi dia ragu mengungkapkannya karena dia tahu jika Isabel menyukai Samuel, bukan dirinya.
Dan tujuan Isabel kesana juga bukan semata-mata mencari pekerjaan, Isabel bukan orang yang kekurangan uang, orang tuanya memiliki perusahaan sendiri, tapi Isabel tetap mau bekerja sebagai sekertaris Samuel untuk bisa lebih dekat dengan Samuel.