Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 76


__ADS_3

Vano dan Isabel memberikan ruang buat keduanya bicara. Vano membawa Isabel keluar.


Zahra tentu meminta mereka tetap disana. Tapi, lihat. Mata tajam Samuel mengisyaratkan agar Vano peka dengan keinginannya.


Kini, tinggallah Zahra dan Samuel di ruangan tersebut.


"Kata Vano, semalam kamu disini. Kok tidak masuk?" tanya Samuel saat dia menemukan suaranya sesaat setelah bungkam karena terpesona dengan penampilan Zahra hari ini.


Gamis putih dengan jilbab dan niqabnya yang selaras. Sama persis dengan penampilan bak malaikat Zahra saat ia diam-diam membuntuti Zahra di depan rumah gadis itu.


Masih ingatkan? Saat Samuel membuntuti Zahra hingga ke hotel tempat tante dan paman Melati mengadakan syukuran? Saat Samuel mencuri dengar siraman rohani yang Zahra bawakan.


"Aku... emmm..."


Zahra bingung. Mau bilang tidak berani pada ibunya Sam juga sungkan.


"Mama tidak segalak itu. Dia sebenarnya orang baik. Hanya kadang sedikit egois dan mementingkan pendiriannya saja. Jika dia membuatmu tidak nyaman dan mengatakan sesuatu padamu. Aku mewakilinya minta maaf. Itu mama lakukan semata takut kehilanganku. Mama sebenarnya tidak membencimu. Percayalah. Mama bersikap cuek karena mengira jika aku bersamamu, maka aku akan meninggalkannya."


Samuel yang mengerti dengan perasaan takut Zahra pada ibunya, menjelaskan.


Zahra hanya mengangguk pelan. Berdiri sedikit jauh dari Samuel.


"Duduklah. Kakimu bisa pegal nantinya," pinta Samuel lembut dan Zahra pun menuruti.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?"


Tanya keduanya kompak.


"Sudah tadi!"


Lagi, jawabnya serentak. Kemudian keduanya tertawa pelan.


Lalu, keduanya hanya melewati hari hingga sore dengan diam. Sesekali Samuel mencuri pandang ke arah Zahra yang merasa canggung sambil menunggu Vano dan Isabel kembali.


Lama juga dua sejoli itu meninggalkannya. Sampai pukul 5 lewat. Barulah keduanya datang dengan Vano yang menenteng dua paper bag.


Wah, sempat-sempatnya dua sejoli itu shopping. Sedang Zahra hampir mati kutu menantinya.


"


Beberapa menit kemudian, Zahra pun pamit undur diri. Sudah hampir gelap dan dia harus pulang, sebelum Rosa datang. Jujur, Zahra masih belum siap bertemu Rosa.


Dengan berat hati, Samuel pun mengizinkannya pulang. Mau gimana lagi. Melarang pun tidak mungkin.


...


"Baru pulang sayang?" tanya Laras saat dia dan suaminya turun dari mobil, bersamaan dengan Zahra yang juga baru sampai rumah.

__ADS_1


"Iya mah. Maaf telat pulang. Tadi Zahra, Isabel dan Pak Vano menjenguk Samuel di rumah sakit," ucap Zahra, lalu menyalami Laras dan juga Gibran.


"Tidak apa-apa sayang. Ini masih batas wajar seseorang berada di luar rumah kok. Lagian, mama percaya. Zahra anak baik dan bisa menjaga diri di luar sana," kata Laras sambil merangkul putrinya memasuki rumah.


...


Saat makan malam, Laras mengatakan sesuatu yang tidak Zahra duga.


"Samuel dan orang tuanya akan datang besok siang. Katanya, kemungkinan besok pagi Samuel sudah boleh pulang."


"Datang? kesini mah?" tanya Zahra bingung.


Gibran hanya menjadi pendengar. Dia sudah tahu dari istrinya tentang masalah Zahra dan Samuel. Dan soal Samuel beserta keluarga yang akan datang besok siang pun, Gibran tahu. Karena dia dan istrinya yang membuat kedua orang tua Samuel memutuskan untuk datang.


Laras tersenyum dan mengangguk, "Iya sayang. Sesuai janji mama. Mama akan berusaha sebisa mama, untuk membuat Zahra bahagia."


Kita mundur sedikit ke kediaman Samuel siang harinya yah.


Rosa dan Hamdan baru pulang dari rumah sakit. Itu pun karena mendapat panggilan dari Gibran, teman Hamdan.


"Apakah kamu tega pada putramu? Aku saja, tidak sampai hati melihat Zahra yang pada dasarnya bukan putri kandungku bersedih. Lalu, tega kah kamu pada Samuel yang nyatanya terlahir dari rahimmu? Jangan salah mengambil keputusan Rosa. Putra putri kita sudah dewasa. Mereka bukan lagi anak kecil yang bisa kita tekan semau hati. Mereka punya pilihannya sendiri. Dan jika kita menentangnya, bisa saja mereka akan mengambil jalan yang akan kita sesali."


Laras sejak tadi mencoba memberi pengertian pada Rosa. Keduanya duduk berdua. Sedang Hamdan dan Gibran memilih ke sisi lain rumah untuk berbincang.

__ADS_1


"Tidak belajar kah kamu dari yang sudah terjadi? Sebelumnya Samuel pernah berbuat nekat menculik Zahra karena rasa cemburu. Dan sekarang, Samuel terbaring di rumah sakit. Pikirkan. Apa lagi yang bisa terjadi jika kamu tetap menghalangi hubungan mereka," lanjut Laras, saat mendapati Rosa hanya diam.


Beribu nasehat Laras beri pada Rosa. Hingga cair juga hati wanita itu. Walau sedikit terpaksa dan tidak rela. Tapi apa daya. Toh yang Laras katakan benar. Dia tahu sekeras apa putranya. Meski ia menentang, putranya itu tidak akan menghiraukan.


__ADS_2