Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 53


__ADS_3

Zahra bingung bagaimana agar Samuel yakin jika dia sungguh sudah merelakan semuanya.


"Kalau dengan kompensasi barulah kamu merasa puas hingga bisa melepas beban rasa bersalah mu maka lakukan satu hal."


Melihat adiknya kebingungan serta Samuel yang kekeh ingin melakukan penebusan, Sultan pun angkat bicara.


Semua orang di sana sontak menatap Sultan.


Terutama Rosa, dia sangat takut jika saja Sultan akan meminta sesuatu yang besar yang akan membuatnya dan keluarganya kesulitan.


Hamdan pun sedikit khawatir. Namun berbeda dengan orang tuanya, Samuel merasa senang jika dia bisa memberikan kompensasi pada kakak beradik itu.


Melihat tatapan panik Hamdan dan Rosa, Sultan kembali bersuara.


"Urus pesta pernikahanku yang akan berlangsung minggu depan."


Permintaan itu bukan hanya membuat Samuel dan orang tuanya bingung, namun juga Zahra.


Melihat tatapan bingung adiknya, Sultan menjelaskan jika kemarin dia melamar Melati dan besok dia akan mengajak seluruh keluarga untuk melamar Melati secara resmi.


"Bagaimana?"


Sultan kembali menatap Samuel.

__ADS_1


"Seringan itu?"


Bukannya menjawab, Samuel yang masih heran balik bertanya.


"Siap atau tidak? jika tidak maka lupakan soal kompensasi mu pada kami."


Sultan pun tidak mau kalah. Dia juga balik bertanya dengan sedikit tegas, sehingga Samuel langsung refleks menggeleng.


"Ti tidak! Iya, aku janji, pesta pernikahan kamu akan sempurna." Ucap Samuel.


Meski masih tidak menyangka jika kompensasi yang Sultan minta sekecil itu, Samuel memilih diam agar tidak menyinggung Sultan.


"Kami juga akan memastikan resepsi pernikahan kamu akan berjalan lancar." Ucap Hamdan.


"Terima kasih. Kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Sultan lalu mengajak Zahra pulang.


"Permisi. Semoga lekas sehat."


Zahra berkata tanpa menatap Samuel. Kemudian tanpa menunggu sedetik pun dia mengikuti kakaknya keluar dari sana.


...


Saat makan malam, Sultan mengungkapkan niat baiknya untuk melamar Melati besok. Dan itu tentu direspon baik oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Maa syaa allah. Alhamdulillah, kalau begitu sekarang juga kita harus menyiapkan segalanya untuk lamaran besok."


Laras yang pulang duluan dari rumah sakit, tidak mendengar percakapan Sultan dengan Samuel siang tadi.


Laras sangat bahagia, mendengar putra yang dia rawat dan dia besarkan kini telah tumbuh dewasa dan berniat mengarungi bahtera rumah tangga.


Begitu pun dengan Gibran, dia sampai berkaca-kaca karena mengingat kembali dengan penuh syukur pertemuannya dengan Sultan tiga belas tahun silam.


Pasangan suami istri itu sangatlah bersyukur, karena Allah memberinya kesempatan dan kepercayaan untuk menjadi ayah dan ibu, meski bukan orang tua kandung.


...


Tepat jam 10 pagi, Sultan sekeluarga datang ke rumah Melati.


Niat baik nan suci Sultan alhamdulillah mendapat jawaban baik pula.


Keluarga Melati tentu menerima lamaran itu dengan sangat bahagia.


Ijab qabul insya allah akan dilaksanakan minggu depan, bersamaan dengan resepsi megah yang kini di atur oleh Samuel.


Sebenarnya Sultan tidak ada niat mengalihkan urusan itu pada Samuel, bahkan pada siapa pun. Dia mampu mengurus segalanya sendiri, namun karena merasa tidak tega dengan beban rasa bersalah Samuel yang terlihat begitu menyiksanya, Sultan pun refleks memberinya tugas itu sebagai kompensasi agar Samuel merasa puas dan bisa sedikit menghilangkan rasa bersalah serta traumanya.


...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Samuel menghubungi temannya yang memiliki perusahaan pengatur wedding.


Samuel pun dengan antusias mengatur segalanya agar tidak ada sedikit pun kekurangan dalam resepsi pernikahan Sultan dan Melati.


__ADS_2