Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 43


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan Laras, Sultan duduk bersandar di sofa.


Dia tidak tau harus berkata apa saat ini.


"Tolong sampaikan ucapan maafku pada om Gibran. Saya permisi."


Samuel langsung pergi dari sana, rasanya dia tidak sanggup melihat Zahra lebih lama dalam jarak dekat. Itu membuat hatinya bergejolak. Sedang Samuel sudah memutuskan akan mencoba melupakan perasaannya pada gadis itu.


Setelah mobil Samuel bunyi, barulah Sultan rersadar dan ingin mengejarnya. Tapi Samuel sudah pergi dari sana.


"Apa aku terlalu kasar padanya?" Tanya Sultan sambil melihat arah pergi mobil Samuel.


"Tidak sayang, mama mengerti jika berada di posisi kamu. Siapa pun akan berlaku sama." Ucap Laras.


...


Esok harinya, setelah sarapan Zahra mengambil tasnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Laras yang juga mau berangkat ke rumah sakit bersama Gibran.


"Aku seorang mahasiswi magang mah, jadi aku harus ke perusahaan itu sekarang. Aku sudah terlalu lama tidak masuk." Ucap Zahra pada Laras, namun matanya melirik Sultan. Zahra takut jika saja kakaknya itu akan melarangnya ke perusahaan Samuel.


"Kakak akan mengantarmu."


Namun salah, Sultan malah menawarkannya untuk di antar.

__ADS_1


Keduanya kemudian memasuki mobil dan menuju perusahaan Samuel.


Saat Zahra hendak turun, Sultan berkata "Tolong sampaikan maaf kakak padanya, kakak sadar, kakak sudah terlalu kasar padanya."


Zahra tidak menjawab, dia hanya mengangguk lalu keluar dari mobil. Dia sendiri bingung bagaimana menyikapi Samuel nantinya.


"Zahra, kenapa novel 'indah pada waktunya' belum up selama beberapa minggu ini? kami semua sangat menantikan kelanjutannya."


Saat Zahra mau memasuki perusahaan, banyak orang yang menghalaginya dan bertanya tentang novel baru Zahra yang tidak pernah update selama kurang lebih tiga minggu ini.


"Maaf, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Tapi kalian tenang saja, setelah ini aku akan mengupdate episode-epidode yang kalian nantikan."Ucap Zahra dengan senyum ramahnya.


Dia sangat senang dan bersyukur, karena ada banyak sekali orang yang mencintai tulisannya.


Samuel dari balik tirai lantai atas perusahaan itu, melihat Zahra dikerumuni banyak penggemarnya sambil tersenyum indah.


"Waalaikumsalam, kami selalu menanti..."


Teriak para penggemar Zahra.


Zahra melambai sambil tersenyum pada semuanya, lalu segera memasuki perusahaan.


...


Saat memasuki ruang kerjanya, Zahra merasa bingung.

__ADS_1


"Seharusnya sudah banyak berkas yang numpuk bukan?"


Zahra mengira karena sudah beberapa hari tidak masuk, maka pasti akan ada banyak berkas di atas mejanya. Tapi satu pun tidak ada.


"Apa masih di ruangan Samuel?" Pikir Zahra lalu pergi ke ruangan Samuel yang berada tepat di sebelah ruangannya.


"Tot tok tok."


"Silahkan masuk."


Samuel tau jika itu pasti Zahra. Samuel mencoba mengatur nafas dan detak jantungnya yang kini tak karuan.


"Permisi! Aku mencari berkas-berkas yang seharusnya aku kerjakan, apa ada disini?"


Tanya Zahra.


"Untuk saat ini tidak ada berkas atau pekerjaan apa pun." Jawab Samuel datar.


Sedang diruangan Vano, Vano dan Isabel tengah sibuk mengerjakan tugas yang seharusnya bukanlah tugas mereka.


"Sam benar-benar pilih kasih." Kesal Isabel.


Samuel baru saja menyerahkan semua tugas Zahra pada Vano dan Isabel. Samuel tau jika Zahra pasti masih kurang sehat, jadi dia tidak mau membebani Zahra dulu.


"Oh, baiklah. Jika ada pekerjaan kabari aku." Ucap Zahra lalu berbalik dan hendak keluar. Namun dia kembali berbalik ke arah Samuel.

__ADS_1


"Oh ya, Kak Sultan meminta maaf. Karena dia sudah sangat kasar kemarin." Ucap Zahra.


"Tidak, itu aku yang murni bersalah." Ucap Samuel tanpa melihat Zahra.


__ADS_2