
Sebelum pulang, usai makan malam Zahra diajak ngomong berdua oleh Zidan. Arsyad tentu tidak tersinggung, dia mengerti ada kalanya seseorang butuh privasi. Arsyad memilih bermain dengan Alifa. Mendengarkan celotehan anak kecil itu yang tak berujung.
"Mungkin kamu sudah tahu apa yang kakak ingin bicarakan," ujar Zidan.
"Iya kak!" Zahra tentu paham. Dia sengaja memaparkan semuanya pada Melati agar Melati menyambungkannya pada telinga sang kakak. Zahra, sangat butuh nasehat dan saran dari saudaranya itu.
"Bagaimana Arsyad di matamu?" tanya Zidan dengan lembut pada sang adik. Agar adiknya itu tidaklah merasa terintimidasi.
"Dia pria dan suami yang sangat baik kak!" jawab Zahra jujur.
"Lalu, apa yang membuat kamu belum siap? Bukankah kamu menerima pernikahan ini tanpa tekanan orang lain?"
Zahra diam sejenak. Hatinya membantah, tapi tak mungkin mengatakan jika ia menerima pernikahan tersebut semata-mata agar keluarga terutama kakaknya itu tidaklah menanggung malu lagi.
__ADS_1
"Maaf kak! Zahra hanya belum bisa menghapus bayangan Sam. Setiap kali Mas Arsyad mendekati Zahra, yang Zahra ingat adalah sosok Sam yang telah menantikan pernikahan kami dalam waktu lama dan dengan perjuangan yang besar. Hal itu membuat Zahra tidak bisa bersama Mas Arsyad. Zahra seakan melihat Sam menahan sakit di atas kebahagian pernikahan Zahra dengan pria lain yang menggantikan posisi Sam seharusnya jika ia masih ada." tutur Zahra lirih.
Zidan mencoba memahami perasaan sang adik. Namun, ia juga tak membenarkan adiknya itu terus larut dalam kenangan Samuel. Samuel telah tenang di atas sana. Dan, saat ini ada Arsyad yang harus lebih Zahra pikirkan.
"Kamu sendiri mengakui jika Sam sudah tidak ada lagi di dunia fana ini. Dia sudah tenang disisi sang pencipta. Sekarang, lihatlah! Ada sosok suami yang kamu sendiri akui kebaikannya. Dia dengan sabar menantimu. Jangan sampai kamu terlalu dalam tenggelam dalam kenangan lalu. Hingga mengabaikan masa depanmu yang insya allah lebih bermakna."
Zahra, mendengarkan setiap perkataan Zidan dengan baik.
"Berusahalah lebih keras lagi. Buka hati dan pikiranmu. Kakak rasa, kakak tak lagi perlu mengajarimu tentang takdir. Dan takdir kamu dengan Sam hanya sebatas kenangan. Sedang, ada takdir yang sesungguhnya yang harus kamu jalani bersama suami kamu." lanjut Zidan berujar.
Sekitar pukul sembilan lewat, Arsyad dan Zahra pulang ke rumah mereka. Sepanjang jalan, keduanya saling diam.
Arsyad tak berani angkat suara saat melihat mimik Zahra yang sulit di artikan. Sedang Zahra sejak tadi larut dalam pikirannya. Dia memikirkan setiap nasehat sang saudara kembarnya.
__ADS_1
"Ra!" panggil Arsyad.
"Zahra!" ulangnya.
"Eh, iya Mas?"
"Sudah sampai." ucap Arsyad sambil tersenyum. Dia hendak bertanya kenapa sejak tadi istrinya itu terlihat bimbang? Tapi, merasa enggan.
"Oh, maaf! Sepertinya aku mengantuk jadi tidak memperhatikan." ucap Zahra beralasan. Padahal sejak tadi ia melamun.
Arsyad tak bosan tersenyum pada istrinya itu. Dia membantu membukakan sabuk pengaman Zahra dan kemudian keduanya keluar dari mobil bersamaan.
"Istirahatlah duluan! Aku ingin mempersiapkan beberapa hal untuk besok."
__ADS_1
Arsyad melihat sang istri berjalan ke arah kamar. Kemudian, dia kembali menekan angka tiga pada tombol di dalam lift tersebut.
Dia sudah berapa hari ini tidak masuk kantor. Besok pasti akan ada banyak berkas yang menyambutnya. Jadi, dia ingin meminta sekertarisnya untuk mengirim file-filenya untuk ia periksa terlebih dahulu. Jadi, besok tak begitu repot lagi. Tinggal menandatangani.