Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 103


__ADS_3

"Zahra, habis maghrib siap-siap yah! Emmm, seseorang akan datang menemui kita."


Zidan merasa gugup saat membicarakan ini pada sang adik. Entah, tumben sekali.


"Siapa kak? Apa dia orang penting? Klien kakak yah?" tanya Zahra penasaran.


Kakak adik ini baru sampai rumah dan sedang duduk di ruang keluarga. Menunggu Melati yang ke dapur membuatkan minuman segar.


"Bukan 'dia', tapi 'mereka'. Mereka sekeluarga akan datang ... em ingin menyampaikan niat baiknya pada keluarga kita."


Jujur, Zidan merasa tidak enak hati mengatakannya. Tapi mau bagaimana lagi.


Zahra mengernyitkan alisnya. Dia sedikit bingung dengan maksud sang kakak.

__ADS_1


"Emm itu.. me..."


"Aduh Mas, ngomong kok susah sekali. Biar aku yang jelasin."


Ujar Melati sambil meletakkan dua gelas orange jus di atas meja.


"Minum dulu, takut kalau aku sudah ngomong mood minum kamu hilang." Seloroh Melati.


Saat jus di gelas Zahra sisa setengah, Melati benar-benar mengatakan sesuatu yang membuat mood Zahra hancur.


Zidan menangkap raut syok sang adik.


"Kakak tidak akan memaksa kamu untuk menerimanya. Bagaimana pun kamu yang akan menjalaninya nanti. Kakak cuma berharap kamu sedikit mempertimbangkan. Arsyad dan keluarganya adalah orang baik dan terpandang. Kakak sudah belasan tahun mengenal mereka. Jujur, kakak sangat berharap kamu mau menerima lamaran ini. Karena kakak yakin kepada Arsyad. Tapi, semua itu kembali kepada kamu. Kamu yang mau jalani. Maka kamu juga yang memutuskan." ucap Zidan lembut.

__ADS_1


Zahra tidak bergeming. Pikirannya kembali ke tiga tahun silam. Dimana Samuel dan keluarganya datang melamarnya. Kemudian saat hari 'H' calon suaminya itu malah jatuh sakit dan meninggal dunia. Ada rasa trauma akan kata 'pernikahan' bagi Zahra. Dia takut kejadian itu akan terulang. Dan tentu, gadis itu juga belum berpikir ke arah sana. Dia masih sangat mencintai Samuel. Nyatanya, meski akhir-akhir ini dia kembali ceria dan bersemangat dalam segala hal. Namun, tak lantas membuatnya membuang sedikit saja rasa dan kenangan akan Samuel.


Melati baru ngeh saat mendengar penuturan sang suami.


"Jangan sedih. Kami tidak memaksa. Kamu hanya perlu duduk bersama kami semua nanti malam. Dan saat ditanya, ungkapkan keputusan mu. Apapun itu!" ujar Melati sambil mengusap pundak sang adik ipar sekaligus sahabatnya itu.


...


Zahra duduk termenung di kamarnya. Dia memikirkan semua perkataan Zidan dan Melati.


'Bagaimana aku bisa membuat kakak sedih dan kecewa? Pria itu adalah sahabat baik kakak. Meski kakak tidak mengatakannya. Akan tetapi kakak pasti merasa kecewa saat aku menolak nanti. Tapi, aku sungguh tidak bisa. Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Ya Allah, dilema apa lagi ini? Sam, kenapa kamu tidak menjemput aku saja?' batin Zahra lirih.


'Tak perduli sejauh apa kaki melangkah. Setinggi apa gunung di daki. Seluas apa samudera di seberangi. Saat hati telah terpaut dengan satu nama. Maka, selamanya nama itu abadi di dalam hati!'

__ADS_1


Seuntai kata gadis itu kembali ia torehkan ke dalam buku harian kecilnya.


__ADS_2