
"Ka kami, tidak, bukan. A aku, aku yang bertanggung jawab atas penderitaan serta perpisahan kalian selama tiga belas tahun ini." Ucap Hamdan dengan terbata-bata.
Deg
Sultan dan Zahra sedikit menangkap arah bicara Hamdan.
"A apa maksud paman?"
Kali ini Zahra yang bertanya.
"Iya Nak, aku yang menyerempet mobil kalian tiga belas tahun lalu. Aku yang membuat kalian jadi yatim piatu. Aku yang membuat kalian terpisah sekian lama. Aku yang bertanggung jawab atas rasa sepi dan derita kalian selama ini. Aku. Tolong, maafkan paman. Paman sudah tidak mampu memikul beban bersalah ini. Bahkan Dari kecil, Samuel harus ikut menanggung kesalahan paman. Samuel sampai trauma ka... Sam? Samuel?"
Hamdan yang mendapati tubuh Samuel sudah ambruk ke tanah, begitu panik.
"Sam? sayang? bangun sayang?"
Rosa yang tadinya diam saja di belakang Hamdan, berlari ke arah Samuel yang sudah tidak sadarkan diri.
...
__ADS_1
Di depan ruang gawat darurat, tempat Samuel di tangani oleh Laras, Sultan dan Zahra campur cemas kini berpikir keras tentang pengakuan Hamdan.
Hamdan sudah menjelaskan pada mereka kejadian sebenarnya tiga belas tahun yang lalu. Dimana dia tidak sengaja menyerempet mobil putih yang terlihat seperti hilang kendali karena rem blong.
Karena dia juga mengemudi dengan kecepatan tinggi, maka dia tidak bisa menghindari mobil putih yang ternyata di dalamnya adalah mereka satu keluarga.
Akibatnya, dia membuat mobil putih itu terguling dan semuanya tidak bisa dihindari.
Saat dia hendak turun melihat situasi dari orang di dalam mobil itu, Rosa memohon padanya untuk tidak turun.
Rosa sangat takut jika Hamdan harus di penjara karena kecelakaan itu. Dan Rosa tidak mau putra kecilnya menjalani hari tanpa seorang ayah selama beberapa tahun.
Akhirnya dengan mengeraskan hatinya, Hamdan memejamkan mata dan meninggalkan tempat kecelakaan itu.
Dan sejak saat itu, Samuel selalu mengalami trauma serta teror mimpi buruk dari sosok gadis kecil itu.
Saat ini pun, Samuel pun pingsan karena tidak mampu menahan bayang-bayang gadis kecil itu mengutukinya.
Waktu di makam, dengan bergantian sosok gadis kecil itu terus mengutukinya hingga sosok itu berubah menjadi Zahra. Dan akhirnya Samuel tidak tahan dan jatuh pingsan.
__ADS_1
Sultan memandang Zahra dan bertanya.
"Apa pendapat kamu?"
Zahra yang sejak tadi melamun entah pikirannya terbang kemana, mengangkat wajahnya dan melihat mata kakaknya.
"Mungkin mereka memang bersalah, tapi tidak sepenuhnya." Jawab Zahra lirih.
Sultan pun mengangguk setuju.
Kedua kakak beradik itu berpikir, jika pada kenyataannya kecelakaan itu terjadi karena rem mobil orang tua mereka yang blong.
Meski Hamdan dan keluarganya juga bertanggung jawab, karena pergi begitu saja saat itu.
Mungkin, hanya mungkin. Mungkin jika seandainya saat itu Hamdan turun dari mobilnya dan membantu orang tua mereka agar segera mendapat pertolongan, mungkin saja orang tua mereka bisa diselamatkan.
Zahra samar-samar mengingat jika malam itu orang tuanya masih sempat menyebut namanya dan Zidan.
Bahkan ibunya sempat memeluknya hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
Zahra kembali merasa perih mengingat dirinya yang ketakutan, menangis seorang diri disana. Saat itu malam sudah sangat larut dan jalanan disana sangat sepi.
Hingga saat subuh, barulah seorang pengendara lewat disana dan memanggil ambulance.