Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 87


__ADS_3

Waktu kian berlalu. Tak terasa, sudah dua bulan sejak keputusan dua keluarga itu ditetapkan.


Zahra dan Melati kembali ke kampus. Masa magang keduanya telah selesai. Kini mereka sedang sibuk menyusun proposal.


Meski dalam keadaan hamil. Melati tetap semangat dan percaya diri memasuki pelataran kampusnya. Toh, dia hanya sesekali datang untuk melakukan revisi. Itupun ada sahabat sekaligus adik ipar yang menjaganya.


Seperti saat ini. Zahra yang sebenarnya tidak ada jadwal kampus. Menunggu Melati di depan ruangan dosen pembimbing.


...


Skripsi Zahra dan Melati sudah beres. Tinggal menunggu hasil akhir.


Dan, hari yang Samuel nantikan akhirnya tiba jua.


Dua keluarga inti itu, kembali berkumpul. Tentunya di rumah Gibran.


"Bagaimana? Apa keputusan kamu setelah mendalami 'keduanya'?" tanya Gibran, sesaat setelah dua keluarga itu saling menyapa.


"Apakah kamu masih pada keputusan awal? Atau keputusan kamu berubah?" lanjutnya bertanya.


Gibran tentu merasa penting untuk mengetahui jawaban Samuel dulu, sebelum meminta Zahra mengungkapkan keputusannya juga.

__ADS_1


Samuel menatap semua orang satu persatu. Terakhir, matanya tertuju pada Zahra yang duduk di depannya.


"Sejak awal, sedikit pun aku tidak ragu untuk mengikuti 'keyakinan' kalian. Dan setelah tiga bulan ini aku habiskan untuk mendalami 'keduanya'. Membuat aku semakin yakin dengan keputusan yang sejak awal aku ambil. Iya! Aku Samuel Smith Gentara. Meminta kepada Om, Tante dan semua pihak keluarga. Untuk memberiku restu memperistri putri kalian, Zahra jika ia menerimanya."


Keputusan Samuel itu tidaklah mengejutkan orang tuanya. Sebelum berangkat, mereka sudah terlebih dahulu membahasnya.


Berbeda dengan tiga bulan yang lalu. Rosa sekarang dengan segenap hati, menerima keputusan putranya.


"Bagaimana sayang? Apa kamu sudah siap menjawab?"


Kali ini, Laras yang bertanya pada Zahra.


Zahra, mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya ia tundukkan. Menatap wajah sang ibu angkat, lalu beralih ke ayah angkatnya. Zahra kemudian menatap kakak dan kakak iparnya. Seakan meminta izin pada semua, untuk memberi jawabannya.


"Aku menerima!"


Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Zahra. Namun, meski demikian. Dua kata itu sudah membuat Samuel terbebas dari rasa resah yang sejak tadi menyiksanya.


"Alhamdulillah!" ucap Laras, Gibran, Zidan dan Melati secara serentak dengan mata berkaca-kaca.


Hamdan dan Rosa pun berucap syukur.

__ADS_1


...


Waktu empat bulan, terasa begitu lama bagi Samuel.


Yah, setelah lamarannya diterima. Ia harus kembali bersabar dan menunggu Zahra menyelesaikan kuliahnya. Dan, minggu lalu Zahra baru selesai di wisuda.


Kini, penantiannya telah berakhir. Samuel dengan raut bahagia bersiap untuk menuju Masjid. Tempat ia akan mengucapkan dua kalimat syahadat dan juga ijab qobul.


Rencananya, setelah ijab qobul di Masjid. Barulah resepsi akan di adakan di hotel tempat Zidan dan Melati menikah tujuh bulan lalu.


Namun, saat hendak memasuki mobil. Samuel terbatuk hebat.


ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...


"Sam!" pekik Rosa, saat melihat tangan yang Samuel gunakan menutup mulut penuh darah.


Samuel hampir saja ambruk. Jika ayahnya terlambat menangkap tubuhnya.


"Pah, cepat ke rumah sakit." ucap Rosa, panik. Namun, Samuel menahan.


"Tidak! Aku sudah menunggu sangat lama untuk hari bahagia ini. Aku tidak mau menundanya lagi," ucap Samuel yang terlihat pucat.

__ADS_1


"Apa maksud kamu? Kamu berdarah Sam. Mama tidak mau kamu kenapa-kenapa."


Air mata Rosa telah mengalir deras. Takut putranya kenapa-kenapa.


__ADS_2