
Untuk pertama kalinya. Zahra menatap lekat wajah Samuel. Dapat ia lihat, meski Samuel tersenyum padanya. Akan tetapi, ada rasa sakit yang calon suaminya itu coba tahan.
"Maafkan aku! Seharusnya sekarang kita menikah. Tetapi, aku malah terbaring disini," ucap Samuel dengan suara lemah. Ia merasa dadanya seperti terbakar. Dan bagian ulu hatinya sangat perih. Namun, sebisa mungkin ia menahannya. Tak ingin Zahra semakin khawatir dan sedih.
"Cepatlah sembuh. Bukankah kamu yang selalu mengejar ku? Ingin aku menjadi halal untukmu? Lalu, kenapa pada saat waktunya tiba. Kamu malah baring disini? Bangun, atau aku tidak akan memaafkan kamu."
Sumpah, meski saat ini, Samuel kesakitan. Tetapi ia tersenyum saat mendengar ocehan Zahra. Ini kali pertama ia melihat sisi lain calon istrinya itu.
"Kenapa tersenyum? Aku sungguh akan marah jika kamu masih mau tiduran di ruangan jelek ini."
Zahra kembali mengomeli Samuel. Membuat Samuel ingin sekali memeluknya. Ah, seandainya bisa. Kenapa ia harus sakit sebelum sah dengan Zahra? Tidak bisakah menundanya dulu?
"Jangan marah. Aku bisa semakin sakit nantinya. Kamu benar, ruangan ini sangat jelek. Bagusan kamar pengantin yang sudah aku siapkan untuk kita."
Perkataan Samuel yang terdengar sengaja menggoda Zahra itu, membuat pipi yang berada di balik cadar Zahra memerah.
__ADS_1
Zahra, langsung menundukkan kepalanya. Takut, Samuel menyadari rasa malunya.
...
Sudah empat hari Zahra bolak balik rumah sakit. Keadaan Samuel tidaklah bisa dikatakan baik-baik saja.
Kata dokter, ada kerusakan di bagian hati Samuel. Entah bagaimana bisa. Tapi, sepertinya efek dari minum alkohol berlebih beberapa bulan lalu.
"Mah? Pah?" panggil Samuel yang terlihat semakin pucat pada kedua orang tuanya.
"Iya sayang!" sahut Rosa mewakili suaminya.
"Sepertinya Sam tidak kuat lagi."
Sungguh, Samuel tak ingin mengatakannya. Namun, ia juga merasa tidak tahan lagi. Rasanya, bagian dalam perutnya seperti digerogoti sesuatu. Samuel sungguh tersiksa dan kesakitan.
__ADS_1
"Tidak sayang. Bertahanlah, mama tak bisa tanpa Samuel."
Rosa semakin histeris. Dia pun dapat melihat, jika saat ini tubuh putranya itu sudah hampir mencapai batasnya. Sedang Hamdan, ia hanya mampu terdiam dalam tangisnya.
"Tolong jangan menangis. Sam pun tak ingin meninggalkan kalian dengan menyisakan kesedihan. Tapi, mungkin ini sudah takdir Sam."
Sakit di tubuhnya sangat menyiksa. Tetapi, sakit di hatinya jauh lebih menyiksanya lagi. Apa dia sungguh akan kalah dengan penyakitnya? Lalu, meninggalkan kedua orang tuanya? Zahra? Apa mereka tidak akan bisa bersatu?
Air mata Samuel pun ikut tumpah. Membayangkan bagaimana nasib orang tuanya dan Zahra jika saja ia sungguh tak lagi mampu bertahan.
"Mah? Pah? Sam bisa minta sesuatu?" tanya Sam, setelah berpikir panjang. Yakin dengan keputusannya.
...
Kali ini, semua orang di perbolehkan kumpul di ruangan Samuel. Itu, atas permintaan Samuel.
__ADS_1
"Maafkan aku! Aku telah memberimu harapan yang saat ini tak bisa aku wujudkan. Aku tidak mau menikahi kamu, lalu pergi meninggalkan kamu dengan memberimu status 'janda' nantinya. Maaf! Dan terimakasih telah hadir di dalam hidupku. Membuatku melihat cahaya. Membuatku menemukan jalan yang benar. Berbahagialah Zahra. Aku menantimu di 'Surga'NYA!"
Semua orang tak mampu membendung air matanya. Dan, Zahra. Gadis itu sungguh merasa tersayat. Takdir apa yang Allah atur untuknya? Setelah ia mati-matian menghindari cinta Samuel, mereka akhirnya memutuskan untuk hidup bersama. Itu pun setelah melewati perjalanan yang sangat panjang. Tapi, kenapa saat waktu baik tiba, Allah malah ingin mengambil calon suaminya itu?