
Karena tidak tega menambah rasa kecewa Samuel, Zahra akhirnya setuju di antar pulang olehnya. Lagi pula, Kakaknya sudah memberi izin.
Jangan tanya betapa senangnya hati Samuel hanya karena berhasil mengantar gadis pujaannya pulang.
Namun di sepanjang perjalanan Samuel malah merasa kikuk duduk berdampingan dengan Zahra di dalam mobil.
Sebenarnya ada banyak yang ingin Samuel ungkapkan, namun takut membuat Zahra tidak nyaman. Akhirnya Samuel memilih diam.
"Kabar ayah dan ibumu bagaimana?"
Zahra yang memperhatikan kekikukan Samuel memilih mulai angkat bicara agar suasana tidak terlalu canggung.
"Ah, emm mereka baik. Bahkan sebenarnya mereka yang membantuku memilih wedding organizer terbaik di kota ini. Namun mereka tidak bisa turun tangan langsung dan mengandalkan ku karena perusahaan tidak bisa kosong."
Samuel yang sedang berpikir keras bagaimana memulai obrolan dengan Zahra terkejut Saat Zahra bertanya padanya. Untungnya dia cepat tanggap.
"Oh, emm maaf karena membuat mu meninggalkan perusahaan. Sampaikan maaf ku juga pada paman Hamdan karena di usianya yang sudah harus istirahat beliau masih harus mengurus perusahaan beberapa hari ini menggantikan mu. Dan terima kasih ku padanya karena telah berpartisipasi dalam persiapan hari bahagia Kak Sultan."
Zahra berucap tulus. Sebenarnya ada rasa tidak enak dalam hatinya karena merasa telah melimpahkan urusan pernikahan kakaknya ke Samuel dan keluarganya. Akan tetapi, dia pun tahu jika itu semua keinginan Samuel agar lebih tenang dan bebas dari rasa bersalah.
"Maaf? kata itu harusnya di ucapkan oleh kami sekeluarga. karena kesalahan kami, kamu harus ke..."
__ADS_1
"Jangan mengingat sesuatu yang sudah berlalu. Itu hanya akan mengurung kita dalam kegelapan." Selah Zahra sebelum Samuel menyelesaikan ucapannya yang dia sudah tahu ujungnya apa.
Jujur, Samuel masih belum bisa melupakan semua kejadian silam semudah ungkapan kata.
Meski Zahra dan Sultan telah memaafkannya dengan tulus. Tetapi, Samuel masih juga belum mampu melepas insiden yang telah mengganggui nya selama belasan tahun tersebut.
Namun, meski pun begitu. Samuel tetap mengangguk sebagai respon ucapan Zahra barusan.
"Iya!"
Hanya itu kata yang mengiringi anggukan kepala pria yang menyetir itu.
Sisa waktu selama perjalanan, dua insan berbeda keyakinan itu hanya mengiringinya dengan kebisuan.
...
Beberapa menit kemudian. Mobil Samuel berhenti di depan rumah Gibran. Rumah tempat Sultan tumbuh besar. Dan kini menjadi rumah Zahra juga.
"Tidak ingin turun?" tanya Zahra, saat dia sendiri sudah keluar dari mobil.
Namun, tampaknya pria yang duduk di kursi kemudi itu tidak mendengarnya.
__ADS_1
Terlihat jelas dari pandangan pria itu yang kosong.
"Sam?" panggil Zahra sedikit mengeraskan suaranya. Karena Samuel ternyata sedang melamun.
"Emm iya. Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Samuel kikuk. Pasalnya sejak tadi dia terus kepikiran dengan takdir malangnya. Jatuh cinta dengan sangat kepada wanita yang terlihat dekat namun nyatanya terasa begitu jauh untuk ia gapai.
"Kamu tidak masuk dulu?" tanya Zahra.
"Emm sepertinya aku langsung pulang saja. Salam saja untuk orang rumah." ucap Samuel.
"Oh, ya udah. Terima kasih. Hati-hati di jalan."
Senyuman Zahra yang mengiringi ucapannya itu menambah rasa yang sejak tadi Samuel coba bendung kini kian membuncah.
Sebenarnya, ada jarak pemisah apa di antara dirinya dengan gadis di depannya itu?
Jika keyakinan? Pria itu rela meninggalkan keyakinannya.
Tapi, nyatanya bagi Zahra pribadi. Meninggalkan keyakinan dan pindah ke keyakinan lain tidak seinstan meninggalkan kos lalu pindah ke kosan baru.
Zahra tidak mau, menarik seseorang ke dalam agamanya hanya karena alasan cinta kepadanya.
__ADS_1
Lebih dari itu. Zahra akan senang jika seseorang mau memeluk islam karena memang merasa yakin dan beriman pada semua ajaran islam.
Bohong jika dia mengatakan dirinya tidak lagi mencintai dan mengharapkan Samuel. Tapi, gadis itu sadar. Jika ada cinta yang lebih utama dari pada cinta ke sesama hamba. Cinta Robb-NYA.