
Zahra memasuki rumah kakaknya dengan girang, setelah memberi salam saat sang kakak membukakan pintu untuknya.
"Melati mana kak?" tanyanya sambil berjalan ke arah ruang keluarga.
"Ada di dapur. Lagi buat cemilan," jawab sang kakak.
Keduanya menyusul Melati di dapur.
"Emmm kayaknya enak tuh. Tapi beneran enak nggak sih?" ucap Zahra sedikit menggoda Melati.
Melati baru saja mengangkat kue buatannya dari dalam oven. Wangi khas kue itu menyeruak, membuat Zahra tak sabar nyicipin. Tapi entah ada yang menyadari atau tidak, yang membuat kue itu, malah menutup hidungnya.
"Jangan ngeledek. Aku sudah belajar sejak lama resep ini," sahut Melati membela diri walau dia sendiri sangsi. Melati lalu memotong kue itu dan menyimpannya di sebuah piring kecil.
"Buka mulut," pintanya sambil menyodorkan secuil kue buatannya pada Zahra.
"Emmm... Wah, enak sekali. Sejak kapan kamu belajarnya? pasti tahunan yah? soalnya kalau cuma satu dua hari, rasanya nggak mungkin selezat ini. Cobain deh kak," ucap Zahra, membuat Melati mendelik seakan berkata 'terserah mau ngomong apa.'
Melati lalu menyuap sang suami, dan menanti pendapat suaminya itu.
"Masya allah! Enak sekali sayang," ucap Zidan jujur.
__ADS_1
Melati tersenyum. Entah harus percaya atau tidak. Dia tadinya sangat yakin jika kuenya itu akan enak. Secara sudah lama ia mempelajari resep kue itu. Namun, bau kue yang masuk ke indra penciumannya itu, seakan mengatakan kebalikannya.
'Mereka sangat menghargai usahaku. Kue jelek saja, mereka bilang enak,' batin Melati, senang bercampur sedih disaat bersamaan.
"Eh malah melamun. Cicipin deh."
Zahra memasukkan secuil kue ke dalam mulut Melati. Dan sesaat kemudian dia dan Zidan terkejut.
Uuwwekk
Melati sudah sebisa mungkin menahan bau kue buatannya. Dan kini dia tak mampu lagi karena kue itu masuk ke dalam mulutnya.
Zidan dan Zahra, sejenak saling pandang. Lalu keduanya bergegas menghampiri Melati.
Uuwwekk uuwwekk
Zidan membantu memijat tengkuk sang istri yang seakan ingin mengeluarkan semua isi perutnya itu.
Dia dan Zahra tentu bingung. Kenapa Melati memuntahkan kue itu? Kuenya sungguh enak. Zidan memberi jempol untuk rasa kue buatan istrinya itu. Tapi, kenapa istrinya malah muntah-muntah setelah memakan kue itu?
Melati membersihkan mulutnya, lalu berjalan ke ruang keluarga dengan dituntun sang suami.
__ADS_1
Wajah Melati tampak pucat. Dan itu membuat Zidan dan Zahra khawatir.
"Temani Melati Ra. Kakak mau ambil hp dan menelpon mama," ucap Zidan dan hendak beranjak dari sana.
Tapi, Melati mencegahnya. Melati tentu paham kenapa Zidan mau menelpon Laras. Laras seorang dokter.
"Tidak perlu Mas. Aku baik-baik saja. Jangan merepotkan mama," ucapnya, namun dengan berderai air mata.
Zidan dan Zahra tentu semakin panik.
"Apa ada yang sakit?" tanya saudara kembar itu kompak.
"Kenapa kalian bisa menelan kue jelek itu? Jangan terlalu menjaga perasaanku. Bagaimana kalau kalian sakit perut. Baunya saja sudah nggak enak, dan rasanya..."
Melati menangis. Merasa terharu dengan kedua orang di depannya yang begitu menjaga perasaannya. Menghargai usahanya. Tapi dia pun sedih. Karena merasa tak enak hati.
Zidan dan Zahra saling pandang. Keduanya merasa bingung.
"Apa yang kamu katakan? Kue itu sangat enak. Iyakan kak?" sahut Zahra lalu meminta penbenaran dari Zidan.
Zidan mengangguk cepat, "Iya sayang. Kue buatan kamu sangat enak. Bagaimana mungkin kami bisa sakit perut dengan memakannya."
__ADS_1