Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 28


__ADS_3

Hingga siang hari barulah kedua gadis itu berhenti di sebuah kedai kecil setelah lelah mengitari jalanan.


"Aku akan membeli air." Zahra turun dari mobil lalu membeli dua botol air mineral.


"Terima kasih." Melati meminum air yang diberikan Zahra, terlihat gadis itu sangat haus.


"Ayo pulang, Bocah itu pasti lapar, aku tidak memasak. Di depan kita akan membeli makanan." Ucap Melati, meski sering kali bertengkar dengan adiknya, tapi itu hanya pertengkaran adik dan kakak. Dia sangat menyayangi adiknya itu.


Keduanya kemudian melaju lagi sampai di sebuah restoran dan masuk membeli makanan.


Mereka tidak makan disana, tapi membungkusnya dan akan makan bersama nanti di rumah Melati.


Saat keduanya keluar dari sana, Samuel yang sedang makan siang disana melihat fokus pada Zahra yang tidak menyadari jika sebuah mata tajam sedang mengintainya.


"Maaf aku tidak bisa ikut makan bersama kalian, aku harus segera pulang." Ucap Zahra tanpa turun dari mobilmya.


"Oke hati-hati. Titip rindu buat Pangeranku." Kecentilan Melati kumat, mengingat wajah tampan Sultan.


"Oke, sudah aku kantongin." Zahra tersenyum lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah barunya.


"Ya Allah... Aku lupa, bensinku pasti tinggal sedikit dan tidak akan cukup sampai di rumah."


Di tengah jalan, Zahra teringat jika dia belum mengisi bensin.


Zahra kemudian mencari pom bensin terdekat.


"Terima kasih."

__ADS_1


Setelah membayar bensin, Zahra hendak memasuki mobil dan segera pulang.


"Emmpppp..."


Tiba-tiba mulut Zahra ditutup sebuah kain dari belakang oleh seseorang.


Dan tak lama Zahra pun pingsan.


"Maafkan aku, tapi hanya ini yang bisa membuatmu berasa disisiku."


Samuel membawa Zahra masuk ke dalam mobilnya, sedang mobil Zahra dikemudikan oleh orang bayarannya.


...


"Kita pulang telat, adik kamu pasti kesepian di rumah." Ucap Gibran sambil turun dari mobil bersama Sultan.


Keduanya melangkah ke arah pintu utama.


"Terkunci dari luar." Ucap Gibran saat mau mendorong pintu, tetspi dia melihat pintu rumah terkunci dari luar.


"Semalam ini, apa Zahra masih bersama Melati?" Ucap Sultan sambil mengambil kunci yang dia pegang sendiri dari dalam dompetnya.


"Melati?" Tanya Gibran, sejauh ini dia baru pertama kalinya mendengar nama itu.


"Iya, dia sahabat baik Zahra. Bahkan sudah seperti saudara sendiri. Tadi pagi Zahra mengirim pesan jika dia akan keluar bersama Melati. Tapi sudah malam begini dia belum pulang. Mungkin dia akan menginap disana. Nanti aku hubungi."


Ucap Sultan sambil berjalan memasuki rumah. Sebenarnya dia ingin mengatakan jika Melati juga kekasihnya, tapi dia masih malu untuk mengatakannya.

__ADS_1


...


"Samuel aku membencimu...!" Teriak Zahra.


Samuel mengurungnya dari siang hari di sebuah apartemen miliknya lalu meninggalkannya untuk suatu urusan dan sampai saat ini belum kembali.


"Kakak, tolong Zahra hikz hikz..."


Zahra menangis memeluk lututnya di atas lantai.


(kleekkk)


Pintu terbuka, dan Samuel datang dengan wajah cemas.


"Maafkan aku, aku terjebak meeting dan lupa jika kamu pasti kelaparan."


Samuel datang dengan wajah cemas, lalu mengeluarkan makanan untuk Zahra.


"Apa yang ingin kamu lakukan?"


Tanya Zahra gugup, saat jari Samuel mendekati wajahnya.


"Aku akan menyuapimu, ayo buka penutup wajahmu itu. Itu menghalangimu makan." Ucap Samuel.


"Tidak, jangan berani menyentuhku sedikit pun. Dan aku tidak akan mau makan dari tanganmu."


Zahra yang tadinya masih tidak tega pada Samuel, karena telah menyakiti hatinya dengan mengatakan telah mencintai pria lain, kini merasa sangat marah pada pria itu.

__ADS_1


Melihat sisi buruk seseorang yang menempati hati kita, itu sangat mengecewakan. Sama halnya dengan yang Zahra rasakan.


__ADS_2