
Zahra melihat mobil itu melaju dan menghilang dari pandangannya.
"Mengapa harus begini? Kenapa rasa ini hadir di antara kita jika memang kita tidak bisa bersama?" batin Zahra.
"Astaghfirullah Ya Allah! Ampuni hamba yang masih menyisakan keluh dalam hati ini atas apa yang telah engkau tuliskan untuk hamba."
Ucap gadis itu mengusap dadanya. Dia sadar, beberapa saat lalu dia tanpa sengaja mengeluh atas ketentuan sang Ilahi.
...
Tak terasa, hari yang dinantikan tiba juga.
Pagi ini, kediaman Gibran terasa berkali-kali lipat sibuknya.
"Kak...!"
__ADS_1
Dari sekian banyaknya kata yang ingin Zahra rangkai untuk saudara kembar laki-lakinya itu, nyatanya hanya satu kata itu saja yang bisa ia ucapkan dan air mata telah membasahi pipinya.
Rasa bahagia, syukur dan haru. Menyatu jadi satu. Saat menuju detik-detik hari besar kakaknya.
Sultan yang telah berpakaian rapi dengan dibantu sang adik. Memfokuskan tatapannya pada adiknya yang terlihat kesulitan mengeluarkan suaranya.
Pria berbalut pakaian pengantin itu, memeluk adiknya dengan penuh rasa sayang. Tanpa sang adik ucapkan, Sultan tahu betul apa yang ada di hati adiknya itu.
"Apa di hari besar kakak ini, kakak malah di iringi dengan air mata dari adik kesayangan kakak ini. heh?" ucap Sultan lembut, sambil mengusap kepala adiknya.
Zahra, meregangkan pelukannya dengan sang kakak. Lalu mengangkat wajahnya menatap sang kakak.
"Jangan menangis, kakak sudah berjanji tidak akan membiarkan seseorang menjatuhkan air mata mu. Tapi justru kakak yang menjadi penyebab air mata yang begitu berharga ini tumpah." ucap Sultan.
Zahra tersenyum dan berkata "ini air mata kebahagiaan kak."
__ADS_1
"Meski pun demikian. Kakak tetap tidak rela air mata membasahi wajah indah adik kakak ini."
Sultan tak bosan memandang wajah cantik nan teduh sang adik. Wajah yang sempat ia kagumi sebagai seorang pria ke wanita saat keduanya belum saling mengetahui kebenaran hubungan mereka.
Dalam hati pria itu begitu bersyukur. Karena wanita yang ia kagumi dengan kepribadian mau pun karena karyanya itu adalah adik yang selama belasan tahun terpisah dengannya.
Dari dulu pria itu berharap bisa dekat dengan Zahra sang idola. Dan tidak ada hubungan yang lebih dekat bagi Sultan dari hubungan darah.
Meski pun bukan hanya darah syarat kedekatan suatu hubungan. Seperti misalnya hubungannya dengan kedua orang tua asuhnya dan insyaa allah hubungan suami istri yang akan terjalin dengannya dan Melati yang tak lama lagi. Akan tetapi, melebihi dari itu semua. Pada kenyataannya, hubungan darah tetaplah yang terdalam. Hubungan yang tak akan bisa putus oleh perkara apa pun.
Keduanya larut dalam perasaan satu sama lain.
"Kamu tahu Zahra? Saat pertama kali kita bertemu secara langsung di jalanan sebelum acara dakwah kamu di rumah waktu itu? Kamu hampir tertabrak mobilku karena aku buru-buru sekali ingin melihat secara langsung dakwa seorang Zahra yang telah lama menjadi idolaku... Ah, kakak bahkan tidak meminta maaf telah membentak kamu saat itu.
"Maafkan kakak! Maaf karena di pertemuan pertama kita kakak malah meninggikan suara padamu." ucap Sultan penuh sesal yang langsung disambut gelengan oleh Zahra.
__ADS_1
"Tidak kak. Meski awalnya Zahra sedikit kesal waktu itu. Tapi Zahra tidak menaruh amarah. Tidak ada yang perlu di maafkan. Justru Zahra bersyukur, karena adanya pertemuan itu maka ada pula pertemuan berikutnya. Dan kini kita telah bersama."
"Kamu tahu dek? Kakak sering kali merasa seperti berada dalam mimpi. Mimpi mempunyai seorang adik seperti bidadari. Bahkan kakak kadang berdoa, jika memang semua ini hanya mimpi. Kakak rela tertidur selamanya agar mimpi ini berlanjut indah." ucap Sultan, kembali menarik adiknya dalam pelukannnya.