Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 32


__ADS_3

"Apa penculik itu tidak memberimu makan dan minum? mama pasti akan memberinya pelajaran nanti."


Laras sangat marah, diperjalanan pulang Gibran menelponnya dan menceritakan segalanya.


"Aku akan mengambilkan makanan." Ucap Sultan lalu hendak melangkah tapi dihentikan oleh Laras.


"Tidak, semua makanan di dapur adalah makanan berat. Perut kosong Zahra akan kaget menerimanya, dan Zahra juga memiliki penyakit magh. Iyakan sayang? apa kamu sering sakit atau perih di uluh hati kamu?"


Laras bertanya penuh rasa perhatian pada Zahra.


Zahra mengangguk.


"Iya, mungkin karena saat kecil Zahra kadang telat makan." Ucap Zahra.


Karena hidup sendiri dari kecil. Meski Zahra mendapat bantuan dari pemerintah dan kadang dibantu oleh tetangga yang merupakan pelayan rumahnya saat mendiang orang tuanya masih hidup, tapi sebagai anak yang masih sangat kecil dan hidup seorang diri, kadang bahkan seringkali Zahra tidak makan.


Bekas pelayannya tidak bisa terus menjaga Zahra meski ia mau. Karena ia harus bekerja di tempat barunya. Dan karena itulah, Zahra kadang telat makan hingga menderita magh, tapi Zahra tidak pernah menganggapnya serius. Karena semenjak dia tumbuh dewasa dan mandiri, magh itu tidak pernah kambuh lagi.


Tapi, mungkin karena tadi saat di apartemen Samuel. Sejak siang hingga malam hari perutnya benar-benar kosong. Makanya, magh nya kambuh.


Catatan penting!


Mendiang orang tua Zahra adalah orang yang terbilang sukses di kota itu. Mereka tentu meninggalkan Zahra dengan berbagai fasilitas dan warisan. Tapi, kenapa Zahra sering kelaparan? itu karena dalam syarat penerimaan warisan yang tertulis saat itu. Zahra hanya bisa memiliki semuanya setelah dewasa. Mendiang orang tuanya tidak menyiapkan kemungkinan, jika saja mereka akan pergi selamanya saat anaknya masih sangat kecil.


Akhirnya, Zahra tinggal seorang diri. Meski di rumah yang besar. Tapi ia benar-benar sendiri. Bertahan hidup dari santunan pemerintah dan orang sekitar.

__ADS_1


"Mama akan membuatkan makanan sehat dan ringan buat perut kamu cerna.Tunggu sebentar ya sayang."


Laras mengecup kening Zahra lalu bergegas ke dapur.


Setelah Laras selesai memasak, dia dengan penuh kasih sayang menyuapi Zahra, kemudian memberikannya sebuah vitamin untuk memulihkan tubuhnya.


"Dia pasti sangat menderita hari ini." Ucap Sultan pelan, sambil melihat adiknya yang sudah tertidur dalam dekapan Laras.


Sultan berjanji dalam hatinya, tidak akan mengampuni Samuel begitu saja. Membayangkan penderitaan adiknya selama ini sudah sangat membuat Sultan merasa sakit, ditambah lagi-lagi dia harus melihat adiknya jatuh pingsan karena kelelahan dan lemah. Terlebih karena Samuel tidak memberinya makan, sekarang magh Zahra kambuh.


...


"Apa gadis muslim itu yang papa kamu maksud hah?"


"Sudah mah, kasian Sam, tunggu sampai dia mengatakannya sendiri. Lagian kita tidak tau penyebabnya dia melakukan itu."


Hamdan yang lebih memahami Samuel melarang Rosa untuk membahas itu dulu.


"Tidak pah, anak itu sudah keterlaluan. Dia mencintai gadis muslim itu, dan karena ditolak dia menjadi tidak waras dan menculiknya."


Sebenarnya yang membuat Rosa begitu marah bukan karena Samuel menculik Zahra, tapi karena Samuel sudah terlalu mencintai gadis iti. Rosa takut jika suatu saat Samuel benar-benar akan meninggalkan keyakinan yang selama ini mereka anut dan pergi bersama Zahra.


Samuel seperti tidak mendengar siapa pun di sekelilingnya. Dia terus berjalan melewati orang tuanya dan memasuki kamarnya.


"Anak itu benar-benar membuatku pusing." Rosa seperti kehabisan kata untuk menggambarkan perasaannya.

__ADS_1


Hamdan hanya menepuk pelan pundak istrinya agar dia bisa tenang.


...


"Maaf karena terlalu cemas, aku memutuskan telpon denganmu begitu saja tadi."


Ucap Sultan pada gadis di seberang telpon, yang dari tadi memang menunggu telponnya. Tapi bukan karena soal panggilan telpon yang Sultan putuskan begitu saja, dia sama sekali tidak mempermasalahkan itu, tetapi menunggu kabar tentang sahabat baiknya.


"Tidak masalah, aku bisa mengerti. Bagaimana? apa Zahra baik-baik saja?" Tanya Melati, dia sangat mencemaskan Zahra.


"Iya, dia jauh lebih baik dan sudah tertidur." Jawab Sultan masih terus memikirkan adiknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi." Melati belum mengetahui tentang kejadian yang Zahra alami.


"Pria tidak waras bernama Samuel menculiknya dan..."


Sultan mulai menceritakan segalanya pada Melati.


"Samuel? apa tidak salah? maaf, maksudku Samuel orang yang lumayan baik selama kami mengenalnya. Jadi aku tidak percaya dia melakukan itu, apalagi dia menyukai Zahra." Ucap Melati dengan rasa tak percaya.


"Kamu mengenalnya? tunggu, kamu bilang dia menyukai Zahra?" Tanya Sultan penasaran.


"Iya,... "


Mulailah Melati menceritakan segala yang dia ketahui tentang Samuel. Dari Samuel yang menyamar menjadi mahasiswa di kampusnya, sampai pertemuan Zahra kembali karena Samuel merupakan pemilik perusahaan tempat dimana Zahra magang. Melati juga menceritakan tentang Samuel yang telah menyatakan cintanya pada Zahra, namun Zahra tolak karena mereka berbeda keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2