Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 98


__ADS_3

Suasana ruang keluarga itu, ramai akan kehadiran Zahra dan Alifa. Semua orang tak henti tertawa mendengar celotehan si gemoy Alifa.


"Lihat aunty, Ayifa tidak yangsing yagi. Ini gaya-gaya Opa. Opa kacih Ayifa makan banyak cekali tadi."


Dengar, anak kecil itu masih saja berceloteh. Wajahnya semakin gemas saat cemberut. Dia protes karena Hamdan membuatnya makan banyak tadi. Dan dia takut jika tubuhnya tidak langsing lagi. Heh, dasar Alifa. Masih bocah saja sudah sensitif dengan kondisi bodynya.


"Alifa jangan cemberut gitu. Alifa semakin cantik dan imut tahu kalau banyak makan. Anak kecil itu lebih menggemaskan jika sedikit gembul." ujar Rosa.


"Apa Ayifa menggemaskan Oma?" tanya Alifa sambil mengedip-ngedipkan mata bulatnya..


"Sangat! Cucu Oma sangat menggemaskan." sahut Rosa sambil mencubit gemas pipi Alifa yang membuat anak kecil itu bersorak gembira.


...


Zahra merapikan selimut yang menutupi tubuh kecil Alifa. Anak itu sudah tidur dengan pulas.

__ADS_1


Suasana menjadi sunyi. Hanya tersisa Zahra yang belum memejamkan matanya di rumah itu.


Zahra melangkah ke arah lemari. Mengeluarkan satu baju Samuel lalu memeluknya erat. Miris, saat hidup mereka belum pernah saling peluk. Sangat menyakitkan jika saat ini gadis itu hanya bisa memeluk pakaian pria yang hampir halal untuknya.


"Aku sudah berusaha dengan sangat Sam. Tapi, belum juga bisa melepas bayang-bayang mu. Aku merindukan kamu. Sangat merindumu." lirih gadis itu berucap dengan bercucur air mata. Setelahnya ia mengambil wudhu dan mengaji. Dengan meniatkan mengirimnya untuk pria yang teramat ia rindukan kini.


Baru saja Zahra menyudahi bacaannya. Suara notifikasi telponnya terdengar. Zahra melepas mukenanya, kemudian beralih meraih ponselnya.


'Assalamualaikum ukhti Zahra! Maaf, mengirim pesan malam-malam. Saya Arsyad, tolong save nomor aku yah. Senang bisa berkenalan denganmu.'


Ternyata itu pesan dari Arsyad. Pria yang bertemu dengannya pagi tadi.


'Waalaikumsalam.'


Akhirnya, hanya itu yang gadis itu ketik lalu mengirimnya.

__ADS_1


Zahra kemudian membaringkan tubuhnya di samping Alifa. Berdoa lalu memejamkan matanya. Berharap bisa bermimpi bertemu sang pujaan hati di alam sana.


Sedang Arsyad sangat bahagia. Pria itu tersenyum saat membaca balasan Zahra. Meski singkat, tapi setidaknya pesannya di respon. Pria itu pun memilih tidur. Tidak enak mengganggu seorang gadis malam-malam. Besok dia akan kembali menghubungi Zahra. Gadis yang mampu menyentuh hatinya.


...


"Oh, sayangnya mama. Kangennya..."


Melati memeluk tubuh sang putri lalu membawanya dalam gendongannya.


"Terima kasih Ra. Kamu sudah menjaga Alifa." ucap Melati sambil membawa Alifa ke dalam rumahnya.


"Bagaimana? apa calon adik Ayifa sudah jadi mah?"


Pertanyaan sih kecil Alifa membuat mata Melati dan Zidan membola. Bisa-bisanya putri kecilnya itu bertanya demikian.

__ADS_1


Keduanya kemudian melirik Zahra yang terlihat menahan senyum.


Fix, adiknya itu pasti mengatakan yang tidak-tidak pada sang ponakan. Jangan kira. Meski Zahra gadis pendiam, kalem dan santun. Tetapi dia memiliki sisi lain saat bersama Alifa. Dia bisa jadi lebih cerewet di banding Melati, bahkan bisa berkata ajaib. Yah, contohnya kemarin. Saat Zahra mengajak Alifa ke rumah Rosa sepulang dari taman. Alifa bertanya kenapa pulang ke rumah Rosa dan bukan ke rumahnya. Dan Zahra menjawab, 'Alifa mau punya adik nggak?', kemudian si kecil Alifa mengangguk antusias. 'kalau begitu jangan ganggu mama dan papa. Mereka akan membuatkan Alifa adik yang lucu nantinya.'


__ADS_2