
Rosa sejak tadi melihat interaksi Zahra dengan Arsyad. Pikirannya sedikit tidak enak.
'Tidak, aku tidak berhak menghalangi masa depan Zahra. Dia sudah cukup menderita. Mungkin, dia memang harus mencari pria lain untuk menggantikan Sam di sisinya,' batin Rosa.
Dia sedikit tidak rela jika Zahra akan bersama pria lain suatu saat nanti. Tapi, dia juga sadar. Jika Zahra berhak melanjutkan hidupnya. Menjalani rumah tangga yang bahagia layaknya wanita di luar sana.
"Tante? dari tadi yah? Maaf tadi, Alifa berlarian sampai kesana. Sayang, salim sama Oma."
Alifa pun dengan segera mencium punggung tangan Rosa. Membuat Rosa tersenyum hangat. Dia harus bersyukur. Karena dia tidaklah sendirian. Ada Zahra yang hadir layaknya seorang putri dalam hidupnya. Dan di tambah sosok gemoy Alifa yang menganggapnya sebagai Omanya sendiri.
Setelah Kepergian sang putra. Masih ada Zahra dan Alifa yang menemani masa tuanya. Tuhan tidak sekejam perkiraannya.
Hingga siang hari, mereka menemani Alifa di taman. Dan saat matahari mulai terik, mereka pulang ke rumah Rosa.
Pulang? Iya, karena rumah itu juga sudah seperti rumah Zahra. Terkadang gadis itu bahkan bermalam disana dan menemani Rosa.
Dan seperti hari ini. Zahra dan Alifa akan bermalam disana.
"Opaaaa!"
__ADS_1
Pekik Alifa sambil berlari ke dalam pelukan Hamdan.
"Oh, cucu opa yang manis. Bagaimana mainnya tadi, seneng nggak?"
Hamdan mencium dengan gemas kedua pipi Alifa.
"Ceneng banget opa." Alifa mengangguk antusias. Kemudian gadis kecil gemoy itu menceritakan semua yang ia lakukan di taman tadi.
"Alifa, mandi dulu yuk sayang. Banyak kuman tuh yang ngikutin Alifa. Emmm acem lagi." ucap Zahra, sambil mengendus tubuh Alifa. Membuat yang di katakan acem itu mencium badannya sendiri.
"Emmm nggak kok. Ayifa masih halum. Iyakan Opa?"
"Iya sayang. Alifa harum. Tapi, tetap harus mandi. Di luar banyak virus dan kuman yang mungkin ikut sama Alifa." ujar Hamdan, memberi pengertian.
"Ok! Ayifa akan mandi sekalang. Ayo, aunty!"
Zahra kemudian membawa Alifa ke kamarnya. Yah, kamar Samuel, kini menjadi kamar gadis itu. Bahkan di lemari Samuel, Zahra telah menyimpan beberapa pakaiannya.
Zahra memandikan Alifa, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sengaja ia bawakan dari rumah.
__ADS_1
"Kumannya sudah pergi kan aunty?" tanya Alifa saat Zahra menyisir rambutnya.
"Iya sayang, kumannya sudah pergi. Malu, sama Alifa yang cantik dan wangi."
"Memangnya kuman itu jelek dan bau yah aunty?"
"Iya, kuman itu juga jahat. Suka membuat orang sakit. Jadi, Alifa harus selalu menjaga kebersihan. Agar kuman tidak berani mendekati Alifa. Kebersihan juga kan sebagian dari iman."
"Sip aunty! Alifa akan menjaga kebersihan."
"Anak pintar!"
Zahra kemudian menyuruh Alifa tidur siang. Dan, saat mata gadis kecil itu sudah terpejam. Zahra bergegas bersih-bersih lalu menunaikan sholat dzuhur.
*Ketika mata tak lagi bisa memandang, ketika tangan tak lagi mampu menggenggam, ketika tubuh tak lagi bisa disentuh. Saat itulah, hati berperan. Menggenang mu di relung hati yang terdalam.
Melantunkan nama mu di dalam doa-doaku. Mengabadikan nama mu di setiap sujudku.
Berharap kelak akan kembali menyatu dengan mu. Bersama menuju istanah impian yang kekal. Menyatu, dan tak akan lagi terpisahkan*.
__ADS_1
Setelah sholat dan berdoa. Zahra menuliskan beberapa isi hatinya dalam bentuk syair di dalam lembaran diary kecil yang selalu setia ia bawa.