Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 25


__ADS_3

"Oh, maksud kamu Sultan? dia..."


"Jadi nama kekasihmu itu Sultan? sepertinya kamu menyebut namanya dengan sangat lancar, apa kamu begitu mencintainya."


Zahra yang mau menjelaskan jika itu adalah saudaranya, tidak sempat mengatakannya. Karena Samuel yang merasa telinganya terbakar, mendengar Zahra menyebut nama pria lain dengan mudahnya, langsung memotong perkataannya.


"Lalu apa hubungannya dengan kamu? maaf aku disini hanya sebatas magang, jadi urusanku dengan kamu juga hanya yang bersangkutan dengan itu. Selain itu maaf aku tidak mau membicarakannya dengan kamu. Dan ya, aku sangat sangat sangat mencintai Sultan."


Perkataan Zahra itu membuat Samuel marah.


"Kamu menolakku dengan alasan lebih mencintai agamamu? tetapi kamu sendiri melanggar aturan agama kamu sendiri."


Perkataan Samuel merupakan hinaan bagi Zahra, kini Zahra pun merasa kesal.


"Agamaku tidak melarangku mencintai siapa pun." Ucap Zahra berusaha meredam emosinya.


"Mungkin, tapi berduaan dengan pria yang bukan mahrom kamu di dalam mobil dan juga memandangnya penuh rasa, apa itu halal dalam agamu kamu?" Sindir Samuel karena kecemburuannya. Sedikit banyak dia mengetahui aturan islam, makanya dia menggunakan pengetahuannya itu untuk menyindir Zahra.


Samuel kembali teringat saat tadi Zahra tersenyum indah menatap Sultan, itu membuat dadanya panas.


"Tidak ada satu pun manusia yang lepas dari kata dosa. Anggap saja tadi aku melakukan dosa karena rasa cintaku padanya."


Setelah mengatakan itu Zahra pun keluar dari ruangan Samuel. Lagian ada baiknya jika Samuel salah menerka hubungannya dengan kakaknya itu, mungkin dengan begitu Samuel akan melepaskannya.


"Sial, dosa kamu bilang...tunggu dan lihat apa itu dosa yang sebenarnya." Namun tidak, Samuel sepertinya memiliki rencana gila saat ini.

__ADS_1


Samuel menyapu semua barang yang ada di atas mejanya karena saking marahnya.


Samuel menetap pintu dimana bayangan Zahra menghilang dari sana dan bergumam. "Akan aku buat kamu mengetahui apa arti dosa yang sesungguhnya."


...


Zahra kembali ke ruangannya. Baru kali ini dia melihat sisi lain pria yang selama ini bersikap lembut padanya.


"Jika dengan ini kamu bisa melupakanku, maka itu lebih baik." Batin Zahra, meski menyadari dirinya juga telah jatuh cinta pada Samuel, tapi dia lebih menyadari lagi jika mereka tidak mungkin bersatu.


...


"Tan, aku punya kabar baik."


Ucap Isabel saat Rossa ibu Samuel mengangkat telpon darinya.


"Iya tan, baru saja aku mendengar jika gadis muslim itu sudah memiliki kekasih yang dia cintai. Dan itu membuat Samuel sangat marah. Aku yakin setelah ini Samuel pasti akan menjauhi gadis itu dengan sendirinya." Ucap Isabel.


Mendengar yang Isabel katakan tentu membuat Rossa legah karena jika Zahra sudah memiliki pria lain, maka putranya akan menjauhinya.


Tapi ngomong-ngomong tentang putranya, Rossa yakin saat ini putranya itu pasti sedang patah hati.


"Iya, terus pantau perkembangannya." Rossa mematikan sambungan telpon.


Isabel tersenyum riang. "Yes, tidak lama lagi Sam akan menjadi milikku." Ucap Isabel dengan girang.

__ADS_1


Vano yang melihat dan mendengar semua percakapan Isabel dengan tantenya, merasa sakit di hatinya.


"Segitunya kamu ingin bersama Samuel?" Batin Vano, lalu pergi dari sana.


...


Sore hari, Sultan sudah menunggu Zahra di parkiran perusahaan Samuel. Hari ini dia dan Zahra janjian akan ke rumahnya, rumah orang tuanya, tempat dia dilahirkan, rumah yang selalu muncul dalam bayangannya saat dia sedang berlarian bersama adiknya.


"Assalamualaikum kak, apa aku membuat kakak menunggu?" Zahra keluar dari perusahaan dan menghampiri Sultan di parkiran.


"Waalaikumsalam, tentu tidak. Ayo, hari sudah sangat sore." Ucap Sultan lalu membukakan pintu mobil untuk adiknya yang dia janji akan sangat menyayangi dan memanjakannya itu.


Keduanya pun meninggalkan perusahaan tersebut.


Samuel yang masih berada jauh dari mereka, melihat keduanya tersenyum bahagia. Itu dinilai mesra dimata Samuel dan kembali memicu rasa cemburunya.


Samuel mengikuti Sultan dan Zahra. Dan saat dia melihat mobil Sultan berhenti di depan rumah Zahra, Samuel mengira Sultan akan segera beranjak dari sana.


Tapi yang membuatnya semakin marah dan cemburu adalah, ternyata dia melihat Sultan turun dari mobil dan merangkul pundak Zahra memasuki rumah.


"Bahkan dosa yang kamu katakan melebihi apa yang aku pikirkan." Gumam Samuel salah paham dengan apa yang akan Sultan dan Zahra lakukan berduaan di rumah, disaat hari sudah mau gelap.


Samuel menunggu beberapa saat di depan rumah Zahra hingga dia yakin malam ini Sultan tidak akan keluar dari sana dengan cepat.


"Mu**fik...!"

__ADS_1


Samuel menginjak pedal gasnya dan meninggalkan tempat itu dengan emosi yang menyala-nyala.


__ADS_2