
"Kamu jangan bangun dulu." Ucap Sultan saat melihat Melati hendak berdiri dari ranjang pasien.
Sultan di SMS ibunya, jika Melati sedang di rumah sakit dan berada di ruangan itu, karena baru saja mendonorkan darahnya buat adiknya yang mengalami kecelakaan.
"Aku harus memastikan keadaan Kevin."
Melati tetap kekeh untuk beranjak dari sana dan melihat adiknya secara langsung.
"Kevin sudah aman sekarang, kita tinggal menunggu dia sadar saja. Tapi kamu tetap harus istirahat untuk memulihkan kondisi kamu sendiri." Ucap Sultan tidak membiarkan Melati bangun dari ranjang pasiennya.
"Tapi Kevin baik-baik saja kan? dia pasti selamatkan?"
Mata Melati kembali basah.
"Iya, dia akan selamat dan segera bangun untuk membuatmu marah lagi." Ucap Sultan sambil bercanda agar Melati lebih semangat.
"Tidak, aku tidak akan memarahinya lagi meski dia senakal apa pun." Ucap Melati sambil menghapus air matanya.
Melihat adiknya hampir tiada di hadapannya, membuat Melati sangat takut. Dia berjanji, akan sangat memanjakan adiknya itu saat dia sadar nanti.
...
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Kevin dan juga Melati? dia pasti sangat sedih sekarang."
Zahra menanyakan Kevin dan Melati dari ujung telpon. Tadinya dia ingin ikut pada Sultan, tapi Sultan tidak membiarkannya karena Zahra sendiri belum terlalu sehat.
"Alhamdulillah setelah menerima darah dari Melati, kondisi Kevin mulai stabil dan Melati..."
Sultan menggantung perkataannya sambil melihat gadis itu masih saja terus menangis tanpa suara. Dan karena itu, Sultan merasa teriris di hatinya. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu, tapi itu tidak mungkin.
"Tolong jaga sahabatku itu kak."
Zahra mengerti apa yang kakaknya pikirkan. Dan tentu Zahra sangat tau sedikit banyak gambaran tentang kondisi Melati yang terpuruk saat ini.
"Pasti." Janji Sultan, bukan hanya pada Zahra, tetapi pada Melati, dirinya dan juga pada Allah.
...
Sultan meminta seorang suster membantu Melati yang masih pusing karena kekurangan banyak darah, untuk ke depan ruangan Kevin.
"Maafkan kakak de'." Lirih Melati sambil melihat Kevin lewat kaca kecil dari depan ruangannya.
"Sayang? Bagaimana keadaan Kevin?"
__ADS_1
Ibu Melati datang bersama ayah Melati dan langsung memeluk Melati.
Melati tidak bisa menjawab, dia hanya memberikan ruang untuk orang tuanya bisa melihat Kevin dari kaca kecil disana.
"Ya Allah Kevin... huhu."
Cahaya menangis di pelukan suaminya, dia tak kuasa melihat putranya yang sangat tegar dan ceria itu kini terbaring disana.
Selang beberapa waktu, Laras keluar dan menyapa Cahaya dan Yoga. Laras bisa menebak, kedua orang tua yang hampir seusia dirinya itu pasti orang tua Melati dan Kevin.
"Kevin sekarang dalam kondisi aman, kalian jangan terlalu cemas, insyaa allah paling lambat nanti malam dia akan sadar." Ucap Laras.
"Terima kasih dok, terima kasih banyak, anda telah menyelamatkan putra kami."
Ucap Cahaya sambil menjabat tangan Laras.
"Laras, panggil saja saya Laras." Ucap Laras lalu merangkul Melati.
"Melati memanggilku tante, tapi aku memanggilnya putriku." Sambung Laras sambil tersenyum ramah pada orang tua Melati.
"Cahaya, dan ini suami saya Yoga. Sekali lagi terima kasih dokter Laras."
__ADS_1
Meski Cahaya belum tau hubungan putrinya dengan Laras yang baru dia lihat itu, tapi Cahaya tau, pasti putrinya sangat dekat dengan dokter wanita itu. Terlihat dari mata Laras dan Melati, jika mungkin kedekatan mereka lebih dari pada kedekatan dirinya sebagai orang tua kandung Melati dengan Melati sendiri.