
Zahra tersenyum saja mendengar perkataan Vano.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanyanya dengan suara lembut khas miliknya.
Hanya di tanya demikian. Samuel sudah merasa mendapat obat penyakitnya. Apalagi saat melihat senyum yang terpancar dari mata Zahra.
"Aku baik kok! Vano nya saja yang lebay pake bawa aku kesini." ucap Samuel yang sontak membuat Vano mendelik.
"Eh, semalam itu kamu..."
"Diam. Aku tidak bicara dengan kamu."
Samuel menyela perkataan Vano. Takut Vano mengatakan kejadian malam tadi pada Zahra. Padahalkan...
"Tidak bicara dengan aku tapi nyebut nama aku barusan!" gerutu Vano, lalu memilih meraih jemari kekasihnya.
"Kita ke kantin yuk honey. Aku lapar banget. Dari semalam belum makan." Vano berdiri mengajak Isabel.
"Eh, sorry! Tadi kami beli makanan. Tapi sepertinya ketinggalan di mobil. Zahra sih, panik banget, sampai lupa sama makanan yang dia beli." ucap Isabel dan berhasil membuat Zahra merasa malu.
Samuel jangan ditanya. Mendengar Zahra ternyata mengkhawatirkannya pria itu girangnya bukan main.
__ADS_1
"Ya sudah, kita ambil yuk honey!"
Vano dan Isabel meninggalkan ruang rawat Samuel.
Tinggallah tiga orang disana yang membuat suasana lebih canggung lagi.
Rosa sibuk dengan handphonenya. Sedang Zahra bingung harus bagaimana.
"Mama cari minum dulu yah!"
Lama-lama Rosa merasa canggung juga berada disana. Biarlah, mereka berdua. Mungkin ada hal yang ingin keduanya bicarakan namun malu padanya, pikir Rosa dan keluar dari sana.
'sepertinya mereka memang butuh waktu untuk bicara. Setidaknya agar anak keras kepala itu bisa mengerti dan menerima kenyataan kalau dia dan gadis itu tidak bisa bersama.' batin Rosa.
Sepeninggal Rosa, bukannya bisa rileks. Keduanya justru semakin merasa canggung.
Hingga mau tak mau Samuel sebagai lelaki yang berinisiatif memulai obrolan.
"Emm terima kasih sudah mau kesini." ucapnya kikuk, namun sebenarnya tulus. Pria itu sungguh bahagia Zahra datang menjenguknya. Yah walaupun dia nggak siap. Tapi dia bersyukur, karena tahu wanita yang ia cintai mengkhawatirkannya.
"Maaf!"
__ADS_1
Namun respon Zahra membuat Samuel bingung.
"Maaf karena aku, kamu jadi seperti ini." ucap Zahra lagi.
Deg! Apa ada seseorang yang mengatakan sesuatu pada gadis itu? Sehingga dia merasa dia yang bersalah? Atau, gadis itu mengetahui sesuatu tentang kejadian semalam?
Pertanyaan itu menyeruak di dalam hati Samuel.
"Kenapa kamu berkata begitu? Aku sakit walau nggak parah tapi itu juga bukan karena kamu. Apa ada seseorang yang mengatakan hal tidak baik padamu? siapa?" tanya Samuel.
Kalau di usut, secara tidak langsung dia memang berbaring disana karena kepikiran Zahra. Kepikiran Zahra! Ok! Bukan karena Zahra.
"Tidak ada yang mengatakan hal buruk padaku. Tapi aku mengetahui semuanya. Maaf! Karena aku yang terkesan selalu menghindari mu dan tidak mau memberimu kesempatan. Kamu jadi begini." ucap Zahra sambil menundukkan pandangannya.
"Segeralah pulih. Dan mari kita diskusikan hal ini. Semoga kita bisa mendapat jalan keluar dari masalah yang ada." lanjut Zahra.
Sesaat Samuel ngebleng. Tidak terlalu mengerti maksud Zahra. Tidak! Tepatnya dia takut mengambil kesimpulan. Takut dia salah mengira.
Sampai Zahra kembali berkata, karena tidak juga ada respon dari Samuel.
"Aku memberi kamu kesempatan membuktikan cintamu padaku. Dan kita bersama-sama bisa mencari jalan keluar dari masalah kita." ucap Zahra. Lalu cepat menambahkan "Tapi, tolong jangan menyimpan begitu banyak harapan. Karena jujur, aku sendiri tidak yakin akan ada penyelesaian dari masalah kita."
__ADS_1
"Tidak! Aku sangat yakin. Aku hanya butuh satu, satu saja kesempatan. Dan aku akan membuktikan keseriusanku. Percayalah sesuatu yang kamu anggap jarak ini, bukanlah jarak bagiku. Aku akan melampauinya."
Samuel menyambut ucapan Zahra dengan begitu semangat. Dia merasa pulih total saat ini.