Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 44


__ADS_3

Sebenarnya Zahra enggan berlama-lama disana. Tapi melihat Samuel seperti sangat merasa bersalah padanya sampai sikapnya berubah drastis, Zahra berkata.


"Islam tidak melarangku untuk berteman dengan siapa pun."


Mendengar perkataan Zahra, Samuel sontak mendongakkan kepalanya.


"Benarkah? Apa aku boleh menjadi temanmu?" Tanya Samuel penuh harapan.


"Iya, asal pertemanan itu masih dalam garis aman saja." Ucap Zahra yang langsung disetujui Samuel.


"Ok, aku janji akan menjadi teman yang baik dan tau aturan."


Samuel sangat semangat saat ini. Bisa mendapatkan maaf dari Zahra saja sudah membuatnya sangat senang, apalagi bisa berteman dengannya. Itu lebih dari yang Samuel harapkan.


"Baiklah, aku kembali ke ruanganku dulu." Ucap Zahra merasa senang melihat senyum Samuel kembali, namun disaat bersamaan dia juga merasa malu karena untuk pertamakalinya dia menatap lurus mata seorang yang bukan mahromnya.


"Ok."


Tentu saja Samuel akan mempersilahkannya.


Samuel sangat bahagia saat ini, meski hanya menjadi sebatas teman itu sudah lebih dari cukup dari pada dibenci oleh gadis yang dia cintai.


"Ini, semuanya sudah selesai."


Vano yang datang membawa berkas yang sudah dia dan Isabel kerjakan, merasa heran melihat Samuel yang senyum-senyum sendiri. Bahkan Samuel tidak menyadari kedatangannya.


"Bos!!! Ini berkasnya sudah beres!"

__ADS_1


Vano sengaja membesarkan suaranya.


Samuel baru sadar dan merasa canggung karena sepupunya itu pasti telah melihat tingkah anehnya.


"Ya sudah, taruh dan keluarlah." Ucap Samuel datar.


"Huh bukannya bilang terima kasih."


Ketus Vano tapi sekedar dalam hatinya saja.


Vano dengan tampang sebalnya hendak pergi dari sana. Tapi suara Samuel menghentikannya.


"Tunggu! Van, sudah berapa lama kita tidak minum bareng?" Tanya Samuel.


Kalau dia pikir-pikir sejak dirinya terlena oleh perasaannya sendiri, dia tidak lagi pernah nongkrong bareng sepupunya yang kini nampak kesal itu.


Bahkan selama beberapa waktu terakhir ini, Samuel menyadari jika sikapnya terlalu kasar pada Vano. Terlebih tadi dia menyuruhnya dengan paksa untuk mengerjakan tugas Zahra.


"Sudah sejak kamu menjadi aneh." Ketus Vano yang membuat Samuel tersenyum.


"Baiklah, maafkan aku. Bagaimana jika malam ini kita happy?" Ucap Samuel.


"Tidak akan ingkar bukan?"


Vano tentu ragu, secara akhir-akhir ini mood Samuel sering berubah-ubah.


"Janji!" Ucap Samuel.

__ADS_1


...


Vano memasuki ruangannya dan bergumam "Apa yang membuatnya happy begitu? kesambet kali yah?"


"Siapa yang kamu maksud?"


Isabel mendengar ucapan Vano dan bertanya.


"Samuel. Sikapnya saat ini sangat berbeda dengan sikapnya yang kayak bos mafia tadi..."


Vano menceritakan tentang sikap Samuel yang dia lihat barusan.


"Apa gadis muslim itu disana?" Tanya Isabel.


"Tidak. Kenapa kamu menanyakan dia?"


Vano merasa bingung dengan Isabel, apalagi sekarang tampangnya menjadi kusut.


"Samuel menjadi kacau itu karena gadis itu, jadi jika Samuel kembali normal, terlebih jika sikapnya seperti yang kamu katakan, maka alasannya sama, yaitu gadis itu."


Memikirkan kemungkinan itu, Isabel menjadi kesal.


"Sudahlah, jangan rusak mood kamu. Bagaimana jika malam ini kamu ikut dengan aku?"


Melihat Isabel bad mood, Vano berpikir untuk mengajaknya bergabung nanti malam. Lagian selama ini mereka memang sering nongkrong bertiga, dan beberapa hari terakhir ini, momen itu hilang.


"Benarkah? aku boleh ikut?"

__ADS_1


Dan benar saja, Isabel kembali tersenyum sumringah. Nongkrong dan happy bareng Samuel, tentu dia sangat ingin.


Vano mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya hatinya sedikit perih karena dia tau jelas alasan Isabel mau ikut, yaitu Samuel.


__ADS_2