Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 96


__ADS_3

Seorang gadis kecil berlarian di sebuah taman. Dan di belakangnya seorang gadis dengan pakaian syar'i mencoba mengejarnya.


"Hap, tangkap!"


Zahra, menangkap gadis kecil yang berusia dua tahunan itu. Membuat sang gadis kecil terkikik geli karena sang Tante menggelitiknya.


Pekan ini, Zahra sengaja mengajak Alifa ke taman. Memberi waktu pada Zidan dan Melati untuk berduaan. Zahra peka, mengerti jika sejak kelahiran Alifa, kakak dan iparnya itu sangat jarang berduaan. Jadi, Sebulan sekali Zahra mengajak Alifa keluar seharian. Agar, kakaknya dan sang ipar memiliki ruang untuk berduaan.


Seperti hari ini. Zahra mengajak Alifa ke taman. Dia juga sudah mengabari Rosa. Dan sepertinya wanita paruh baya itu sedang dalam perjalanan untuk ke taman tersebut.


"Haha aunty jeyi." tawa Alifa. Maksudnya 'aunty geli' tapi dia masih sedikit cadel sehingga perkataannya masih banyak yang kurang jelas.


Kemudian Alifa melepaskan diri dari Zahra dan gadis kecil itu kembali berlari.


"Aduuh."


Alifa tanpa sengaja menabrak seorang pria yang sedang lari pagi disana. Untungnya pria itu sigap menangkap tubuh kecil Alifa. Kalau tidak, bisa-bisa tubuh kecil Alifa terpental karena tubuh kokoh pria itu.


"Maafin paman yah cantik. Paman tidak sengaja."


Pria itu mengusap rambut Alifa dengan lembut. Ia meminta maaf, padahal sebenarnya Alifa yang menabraknya dari arah samping.

__ADS_1


"Sayang? Alifa tidak apa-apakan?"


Zahra menghampiri Alifa dengan raut cemas. Dia memang sangat sensitif jika menyangkut sang ponakan.


"Maaf. Aku tadi tidak melihatnya." Pria itu merasa tidak enak pada Zahra.


"Cantik, apa ada yang sakit?" tanya pria itu sambil berjongkok, agar tubuhnya sejajar dengan tubuh kecil Alifa.


Alifa menggeleng, " Tidak paman. Ayifa tidak atit kok."


Pria itu merasa gemas melihat Alifa. Wajah imut dan suara cadelnya membuat siapa saja ingin menciumnya.


"Cantik mau beli es cream nggak. Emm buat permintaan maaf paman karena hampir membuat A ... siapa tadi namamu cantik?"


"Alifa!" ralat Zahra.


"Oh, Alifa. Nama yang cantik, secantik orangnya. Mau yah om ajak beli es cream?"


Lihat! Pria asing itu begitu antusias mengajak Alifa makan es cream. Sudah mirip penculik anak kecil saja. Sok ramah.


"Terima kasih! Tapi tidak perlu. Tadi Alifa sudah makan es cream."

__ADS_1


Sih gemoy Alifa baru akan mengangguk tapi Zahra terlebih dahulu menolak. Alifa anak yang pintar. Dia tidak pernah membantah. Selama yang mengatakannya Orang tua dan tantenya. Dia akan mendengarkan.


"Iya paman. Ayifa sudah makan es klim. Kata aunty makam es klim banyak-banyak itu tidak cehat."


Dengarlah, gadis kecil itu sangat pandai menyesuaikan situasi.


"Baiklah, lain kali paman ajak jalan-jalan mau yah."


Alifa tidak menjawab, gadis gemoy itu malah menatap sang tante. Seakan meminta tantenya itu yang mewakilinya. Karena takut salah jawab. Pengennya sih iya.


"In syaa Allah kalau ada kesempatan. Kami permisi." ucap Zahra sekenanya.


"Eh, maaf. Nama saya Arsyad. Nama kamu siapa?"


ucap pria itu sambil menangkupkan telapak tangannya di depan dada. Sepertinya dia pria yang baik.


"Zahra. Permisi."


"Tunggu!" seru Arsyad. Lagi-lagi membuat langkah Zahra dan Alifa terhenti.


"Boleh minta nomor kamu nggak?"ucap Arsyad canggung. Takut, Zahra mengiranya pria lancang. Tapi, apa daya. Dia sangat tertarik dengan Zahra. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ia bisa meminta nomor gadis itu. Pertemuan hari ini hanya kebetulan. Belum tentu besok atau lusa mereka bertemu lagi tanpa pengaturan.

__ADS_1


Namun, detik berikutnya Arsyad merasa senang. Zahra yang tidak mau berlama-lama disana terpaksa memberikan nomor telponnya.


__ADS_2