
"Apa yang ingin kamu lakukan? jangan berani menyentuhku sedikit pun." Ucap Zahra gugup.
"Heh, segitu setianya kamu pada kekasihmu itu? sampai kamu hanya ingin disentuh olehnya saja?" Sindir Samuel dengan rasa sakit di hatinya.
"Apa yang kamu bicarakan? dari tadi kekasih, menyentuh, bersama, setia, aku sama sekali tidak mengerti arah bicaramu itu."
Kali ini Zahra berteriak pada Samuel, membuat Samuel untuk pertama kalinya melihat amarah dimata gadis itu.
"Tidak mengerti? kalau begitu akan aku ingatkan. Pria yang mengantar jemput kamu kemarin kekasihmu bukan? heh, iya... kamu sendiri bahkan sudah mengakuinya kemarin."
Ucap Samuel yang membuat Zahra mengerti kenapa Samuel dari tadi menyebut pria dan kekasih. Itu karena Zahra kemarin mengatakan jika Sultan adalah prianya dan dia sangat mencintainya.
Tapi menyentuh? bersama? apa maksudnya itu?
"Dan akan aku ingatkan juga, apa yang telah kalian lakukan. Kemarin malam kalian tidur bersama bukan? dan entah sudah berapa kali..." Samuel tidak menyelesaikan perkataannya.
"Plaakkk...!"
Tangan suci Zahra, yang bahkan tidak pernah berjabat tangan pada yang bukan mahromnya itu sukses ternoda dan mendarat di pipi kiri Samuel.
"Apa itu nilaiku dimata pria yang mengatakan mencintaiku selama ini?"
Selesai mengatakan itu, Zahra bangkit dan berdiri menatap tajam Samuel yang masih terpaku karena tidak menyangka gadis lembut seperti Zahra akan menamparnya.
__ADS_1
"Kamu menamparku karena marah aku menghinamu atau karena kamu malu aku mengetahui sejauh mana hubunganmu dengan pria bernama Sultan itu?" Samuel berdiri dan bertanya dengan suara berat.
Zahra menggeleng sambil menyeringai.
"Heh aku jelaskan pun tidak akan ada artinya." Ucap Zahra merasa tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar. Pria yang mengaku mencintainya, bahkan diam-diam dia cintai juga, mengatakan dirinya sebagai wanita serendah itu.
"Kenapa? kenapa kamu tidak mau menjelaskannya? apa ka..."
Lagi-lagi Samuel tidak menyelesaikan perkataannya karena dipotong oleh Zahra yang sudah kehilangan kesabarannya pada pria yang dia nilai tidak waras saat ini. Menuduhnya tidur dengan seorang pria. Bahkan jika Sultan bukan kakaknya, apa dia segitu rendahnya dimata Samuel hingga tidak mempercayai dia bukan wanita yang bisa menyerahkan dirinya pada pria yang bukan suaminya?
"Kak Sultan bukan kekasihku! Dia kakakku, kembaran laki-lakiku. Kamu puas?"
Zahra lagi-lagi berteriak pada Samuel yang kini membeku di depannya.
"Ya... itu karena kamu sendiri yang awalnya berpikir begitu. Dan aku hanya menjadikan itu, agar kamu bisa membuang cintamu padaku. Karena meski kita saling mencintai sangat mustahil bagi kita untuk bersatu."
Perkataan Zahra membuat Samuel menangkap satu poin penting.
"Saling mencintai? apa kamu juga mencintaiku?" Tanya Samuel.
Zahra yang tidak menyadari dirinya telah terbawa suasana dan perasaan hingga kecoplosan, menjadi gelagapan.
"I itu... tidak... maksud aku..."
__ADS_1
Zahra bingung harus berkata apa.
"Katakan, apa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku?" Tanya Samuel penuh harap.
(Bruukk)
Suara pintu di tendang dan Sultan diikuti Gibran juga ayah Samuel masuk.
"Papa?"
Samuel sangat terkejut saat melihat ayahnya Hamdan yang merupakan polisi itu datang bersama dua orang pria.
Samuel mengenali Sultan, tapi tidak dengan Gibran yang terlihat seusia ayahnya.
"Dasar bajingan, kamu menculik adikku, akan aku habisi kamu."
Pukulan demi pukulan Sultan sukses mendarat pada Samuel yang sama sekali tidak berniat melawan. Karena dia menyadari dirinya memang bersalah. Menculik gadis yang dia cintai karena salah pahamnya itu pantas membuat kakak gadis itu marah dan memukulinya.
Hamdan meski tidak tega, tapi dia hanya bisa melihat putranya yang entah kenapa menjadi gila itu dipukuli oleh Sultan.
"Kak, hentikan."
Melihat Samuel sudah babak belur dan sama sekali tidak melakukan perlawan atau menghindar, membuat Zahra tidak tega melihatnya.
__ADS_1