Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 46


__ADS_3

Saat Vano hendak menggendong Isabel, dia melihat wajah Syanti memucat.


"Apa kamu juga mabuk?" Tanya Vano ragu. Meski dia tidak tau Syanti biasa minum atau tidak, tapi pikir Vano gadis itu tidak mungkin mabuk hanya karena dua gelas bir bukan?


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Syanti berusaha menahan rasa pusing dan mualnya.


"Kalau begitu aku duluan."


Meski sedikit menghawatirkan Syanti, tapi Vano lebih khawatir dengan keadaan Isabel saat ini.


Vano pergi dari sana dengan menggendong Isabel, dan Syanti segera berlari ke toilet.


"Uwwek."


Rasanya isi perut gadis itu akan keluar semua.


Setelah merasa perutnya baik, Syanti mengambil tasnya dan berjalan keluar bar untuk menunggu taksi.


Dengan kepala pusing, Syanti menghentikan sebuah mobil yang dia pikir adalah taksi.


"Oh ya alamatku di ***."


Setengah jam Syanti di mobil itu, dia baru mengingat jika belum menyebutkan alamatnya.

__ADS_1


"Hahaha."


Namun sesaat kemudian dia terkejut saat mendengar suara tawa beberapa pria.


"Siapa kalian hah?"


Syanti sekuat mungkin menepuk pipinya sendiri agar dia sadar, namun karena efek minuman yang tidak berteman dengan perutnya itu, Syanti pun pingsan.


...


Vano membawa Isabel ke apartemennya.


"Ada apa dengan gadis ini." Vano menutupi tubuh Isabel dengan selimut, lalu segera ke dapur untuk membuatkannya teh hangat.


Malam ini, Vano tidak bisa tidur. Meski sudah mandi air dingin, tubuhnya tidak bisa rileks dengan kehadiran gadis yang dia cintai itu di atas kasurnya.


Vano duduk di sisi tempat tidur menatap wajah cantik Isabel.


Saat Vano ingin beranjak ke sofa, tiba-tiba Isabel memeluk pinggangnya.


"Kamu jahat." Gumam Isabel sambil menguatkan pelukannya, namun matanya masih tertutup.


"Kamu membuatku cemburu." Gumam Isabel lagi, yang membuat Vano berpikir jika gadis itu kini sedang memikirkan Samuel pastinya.

__ADS_1


Iya, siapa lagi yang bisa membuat Isabel cemburu selain Samuel.


Dengan hati yang sakit, Vano berusaha melepas tangan Isabel yang melingkar di pinggangnya. Namun perkataan Isabel selanjutnya membuatnya terkejut.


"Kenapa kamu lebih memperhatikan Syanti dari pada aku hah? aku tidak tau, tapi aku cemburu melihat kamu memperhatikan gadis lain hiks."


Saat mengatakan itu, setetes air mata Isabel terjatuh kemudian tangan gadis itu melemas dan dia pun terlelap kembali.


"Apa aku? bukan Sam? Kamu cemburu karena aku tadi..."


Vano tidak meneruskan ucapannya, dia memeluk tubuh Isabel yang tertidur nyenyak.


Vano kembali mengingat jika di bar dia memang sengaja tidak menghiraukan Isabel dan memilih mengobrol dengan Syanti.


Itu karena Vano mengira Isabel tidak akan suka jika dirinya mengajaknya ngobrol di depan Samuel, pria yang sangat Isabel impikan sejak kecil.


Vano hanya memberikan ruang bagi Isabel untuk lebih leluasa ngobrol dengan Samuel.


Samuel sudah memberi tahunya jika mulai saat ini hubungannya dengan Zahra hanya sebatas teman baik. Jadi Vano berpikir mungkin ini kesempatan bagi Isabel kembali mendekatkan diri dengan Samuel. Makanya Vano berusaha membelakangi Isabel di bar dan mengalihkan rasa sesaknya dengan ngobrol dengan Syanti.


Tapi tidak menyangka, ternyata sikapnya itu malah membuat gadis yang terlelap di atas kasurnya itu merasa cemburu sampai minum tanpa batas.


Malam ini, Vano tertidur di samping Isabel. Karena saat Vano ingin tidur di sofa, Isabel kembali bergumam sambil menangis. Dia terus mengatakan jika Vano jahat.

__ADS_1


Mau tak mau,Vano memeluknya seperti biasa untuk menenangkannya. Namun saat Isabel tenang, Vano tidak bisa berdiri dari sana karena dadanya telah menjadi bantal empuk Isabel.


__ADS_2